| |
 |
|
Penyerahan secara simbolis Majalah Info Sawit oleh Dewan Redaksi Info Sawit kepada Bapak Daud Dharsono diacara ICOPE_Bali |
|
|
|
Direktur Marketing Info Sawit, Sofi Raharja Menyerahkan Majalah kepada Direktur Eksekutif DMSI Ibu Rosediana Suharto pada acara Launching Majalah Info Sawit di Bali.
|
|
|
 |
|
Pada 20-23 Mei 2008, Indonesia Oil Palm Research Institute (IOPRI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menggelar acara World Palm Oil Summit and Exhibition (WPOSE) 2008, berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC). Acara itu dihadiri sekitar 600 orang peserta dari perusahaan perkebunan kelapa sawit, akademisi, pemerhati lingkungan, dan birokrat. |
|
|
 |
|
 |
|
Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. |
| Pergulatan Bambang Palgoenadi pada dunia kelapa sawit telah berlangsung sejak 20 tahun silam. |
|
|
|
 |
|
 |
|
LEMAK DALAM LITERATUR ILMIAH DAN PERDAGANGANNYA
Persaingan perdagangan aneka jenis minyak dan lemak selalu saja ramai dan sengit. |
|
|
 |
|
|
| |
|
|
|
|
Benefit KSO Kebun Sawit |
Kerja sama operasi pengelolaan perkebunan kebun sawit PTPN I di Aceh menjadi yang pertama di negeri ini. Kendati berprinsip saling menguntungkan, porsi keuntungan investor KSO sangat dominan. Akankah itu menjadi tren seiring tingginya ekspansi usaha kebun sawit. |
Kebun kelapa sawit total seluas 13.715 hektare di tiga lokasi di Nanggroe Aceh Darussalam, yakni Kebun Batee Puteh, Kebun Ujung Lamie, dan Kebun Krueng Luas, per 1 Juli 2007 bukan lagi “milik” PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I, tapi sudah beralih pengelolaan ke investor PT Basyah Putra Investama (BPI). Itu terjadi menyusul ditekennya kerja sama operasi (KSO) antara Bank Mandiri, PTPN I dan PT BPI di Banda Aceh, akhir Juni 2007. |
PT BPI—perusahaan induk PT Mopoli Raya, produsen oleokimia dan perkebunan sawit berbasis di Medan—setelah melalui dua tahap lelang (4 dan 17 Oktober 2006) akhirnya memenangi tender pengelolaan kebun sawit PTPN I. Boleh jadi BPI beruntung, atau malah tengah bertarung. Sebab, kebun sawit PTPN I di NAD itu tergolong tidak terpelihara dengan baik, kendati usia tanaman masih produktif (usia dibawah 12 tahun). |
Kondisi kebun sawit di kawasan Aceh Besar, Nagan Jaya, dan Aceh Selatan itu bahkan sebagian rusak. Jeleknya perawatan kebun, karena perseroan tidak memiliki cukup anggaran, selain lokasi kebun berada di wilayah konflik (dulu) bersenjata antara GAM dan TNI. |
Setelah gagal memperoleh tambahan modal, baik dari pemerintah maupun bank, akhirnya manajemen PTPN I memutuskan pengalihan pengelolaan kebun sawit di Aceh itu kepada PT BPI, dengan rentang pengelolaan selama 16 tahun sesuai perjanjian KSO. Konsekuensinya, BPI harus merehabilitasi kebun dan menyetor rutin uang Rp 1 miliar per bulan ke Bank Mandiri, sebagai bagian pelunasan utang PTPN I pada Bank Mandiri sebesar Rp 90,73 miliar. |
PTPN I memang tidak mampu melunasi utangnya karena usaha perkebunan sawit di Aceh terhenti. Maka itu, KSO ini sejatinya adalah bagian inti dari program restrukturisasi utang PTPN I. Boleh jadi, ide awal program ini datang dari pihak kreditor (Bank Mandiri) yang lalu diteruskan manajemen PTPN I dengan mencari investor baru melalui tender. Tapi, Direktur Pemasaran dan Rencana Pengembangan PTPN I, Wargani, mengaku KSO adalah inisiatif PTPN I. “Sebelumnya, PTPN I berjanji merestrukturisasi utang, tapi itu tinggal janji karena memang tidak ada program dan kemampuan dana,” ujarnya kepada InfoSAWIT. |
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT ) |
|
|
KSO Perbaiki Kinerja |
Konflik berkepanjangan di Aceh turut memperburuk kondisi kebun sawit belasan ribu hektare milik PTPN I. Alih-alih meraup untung, justru keuangan BUMN ini berdarah-darah. KSO pun ditempuh, dan kini kinerja perseroan mulai membaik. |
Keinginan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I untuk merehabilitasi sekitar 13.715 hektare kebun kelapa sawit yang rusak, pokok (pohon) tak produktif, semula hanya sebatas angan-angan. Perseroan terbentur masalah pendanaan yang sangat besar untuk memperbaiki kebun sawit masa tanam sekitar 1995 itu. Tadinya perseroan berharap pemerintah mau membantu dengan menyuntikkan modal sebesar Rp 150 miliar, tapi harapan itu kandas. |
Presiden Susilo Bambang Yoedhoyono meminta BUMN jangan mengharapkan terus dana pemerintah, karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah sarat dengan beban. ”Coba cari duit sendiri karena APBN diorientasikan bagi kepentingan rakyat,” ungkap SBY. |
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, PTPN I juga kesulitan membayar kewajiban kepada Bank Mandiri sebesar Rp 90 miliar yang telah jatuh tempo. Maka beban perseroan kian bertambah saja. Upaya alternatif ditempuh perusahaan dengan mencari pinjaman dari bank lain, namun itu juga gagal. |
Ketika terpentok, jalan satu-satunya adalah mengundang investor untuk bekerja sama menggarap lahan sawit yang terbengkalai tadi. Jodoh pun datang, maka ditekenlah kerja sama operasi (KSO) dengan PT Basyah Putra Investama (BPI), anak perusahaan Mopoli Raya Group, untuk merehabilitasi dan mengelola perkebunan sawit yang rusak seluas 13.715 hektare di Aceh Barat dan Selatan, terdiri atas tiga kebun: Kebun Batee Puteh, Kebun Ujung Lamie, dan Kebun Krueng Luas. Rinciannya, tanaman di atas lahan 8.000 ha sudah bisa dipanen, sedangkan 5.000 ha tengah diperbaiki. KSO berdurasi 16 tahun. |
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT ) |
|
|
KSO Setengah Privatisasi |
Iyung Pahan, Agribusiness Developer PT Deladelia Modal Insani (DMI) |
| |
|
Sebelum mengambil pilihan kerja sama operasi alias KSO, perseroan memberikan beberapa opsi kepada Menteri Negara BUMN, yakni pemisahan (spin off) sebagian aset rugi supaya dibuang dan aset menguntungkan agar dipertahankan, pemerintah mengucurkan dana segar berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) maupun Rekening Dana Investasi (RDI), penggabungan (merger) dengan PTPN lain, serta mencari mitra KSO. Akhirnya, KSO menjadi pilihan Menneg BUMN untuk menyehatkan kondisi keuangan perseroan. |
Langkah tersebut sangat wajar dan menjadi terobosan karena selama 5 tahun, PTPN I terus merugi akibat imbas konflik bersenjata. Sistem KSO ini tidak ditujukan menjual perkebunan negara melainkan hanya opsi pengelolaan atau managemet option, dengan memilih kebun-kebun tertentu. Memang idealnya KSO ini menggandeng swasta melalui usaha patungan (joint venture).
|
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT )
|
|
|
Bersinergi, Pelayanan dan Kewaspadaan |
Agus Pakpahan, Deputi Menneg BUMN Bidang Agroindustri |
| |
|
Sebenarnya, keputusan kerja sama operasi (KSO) pengelolaan kebun sawit PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I oleh investor bukan didasarkan pada pertimbangan masalah keuangan yang dihadapi perseroan (PTPN I). Sebab, jika masalah keuangan, mencari solusinya itu mudah, asalkan perseroan memenuhi syarat bisa percaya, mempunyai agunan, dan mampu mengembalkan pinjaman. |
Tetapi, paling penting dengan langkah KSO tersebut, adalah bagaimana PTPN I bisa bersinergi dengan swasta. Intinya, dasar kerja sama bisnis ini adalah tidak ada pihak yang dirugikan. Sebab, bisnis itu dasarnya adalah pelayanan, kewaspadaan, dan kepercayaan (trust). |
KSO ini hanya kerja sama korporasi biasa, dimana ada satu investor yang akan berinvestasi dengan nilai kuramg lebih sama dengan aset yang dimiliki PTPN I
sekarang. Selanjutnya investor tersebut meminta hak untuk mengelola dan memperoleh bagi hasil. |
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT ) |
|
|
| Proporsional dan Tidak Eksploitatif |
Didiek Hajar Goenadi, Direktur Eksekutif Gapki |
| |
|
Pada prinsipnya kerja sama operasi (KSO) PTPN I dengan swasta (PT Basyah Putra Investama (BPI), adalah strategi bisnis biasa bagi perusahaan modern agar bisa tetap eksis. |
Tentu saja, kedua pihak harus menyandarkan kesepakatan tersebut pada prinsip saling menguntungkan. Artinya, harus dihindari unsur eksploitasi, misalnya salah satu pihak memanfaatkan kelemahan mitranya dalam pengembangan kelapa sawit. Cara demikian tidak baik. |
Jadi, KSO menjadi jembatan antara pihak yang memiliki kelemahan dan kelebihan supaya dapat memberikan keuntungan. Terpenting, KSO PTPN I harus mengikuti peraturan karena PTPN bagian BUMN yang berarti ada jaminan aset negara tidak akan lepas atau berpindahtangan. |
Melalui sinergi yang tepat di antara semua pelaku alhasil akan muncul keuntungan serta pertambahan produktivitas lahan. Tentunya, bentuk keuntungan itu harus proporsional dengan menghitung dari aset setiap pihak, ya PTPN memiliki lahan dan SDM sementara swasta dengan modalnya. Dengan asumsi, kerja sama tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang lebih bagi BUMN maupun swasta. |
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT ) |
|
|
|
Kewajiban PTPN I Cepat Terpenuhi |
E Wiseto Baroto, Senior Vice President Bank Mandiri
|
| |
|
Program kerja sama operasi (KSO) merupakan model alternatif yang paling memungkinkan untuk dilaksanakan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I. Dengan strategi bisnis ini diharapkan PTPN I mampu mengoptimalkan pengelolaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Selatan. Langkah tersebuy sangat tepat dilakukan guna mengatasi keterbatasan dana untuk mengembangkan usahanya.
|
Bentuk KSO atau lebih dikenal dengan nama Joint Operation antara PTPN I dengan PT Basyah Putra Investama (BPI), merupakan kerja sama mengelola kebun yang di atasnya ada tanaman dengan luasan tertentu berikut sarana dan prasarananya. Dalam kerja sama ini, PT Basyah Putra Investama menjadi investor yang menyediakan dana investasi serta rehabilitasi kebun kelapa sawit KSO. Mereka wajib mengelola kebun-kebun kelapa sawit milik PTPN I yang di-KSO-kan. Selain itu investor memberi kompensasi kepada PTPN I sesuai tata cara dan nilai yang tercantum dalam Surat Perjanjian KSO.
|
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT )
|
|
|
Industri Sawit dan Harga BBM yang Terus Melangit
|
Setelah terjadinya kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus angka US$ 135 per Barrel, mau tidak mau pemerintah akhirnya mengambil pilihan yang sulit untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, sebab tekanan harga yang kian terus meninggi membuat rancangan APBN 2008 terancam membengkak.
|
Dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM akhirnya mendulang protes dari berbagai kalangan masayarakat, demo mahasiswapun marak meramaikan keputusan pemerintah tersebut.
|
Untuk perkebunan kelapa sawit terkait dengan kenaikan BBM mau tak mau terasa juga dampaknya. Peluang menaiknya biaya produksi tetap ada, Menurut Wayan R. Susila, peneliti lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), Dampak kenaikan harga BBM terhadap biaya produksi produk perkebunan dapat dipisahkan menjadi dua komponen yaitu komponen dampak langsung dan tidak langsung.
|
Dampak langsung berupa kenaikan biaya sebagai akibat kenaikan harga BBM yang digunakan dalam bisnis perkebunan. Dampak tidak langsung adalah kenaikan harga BBM akan memicu inflasi sehingga akan mendorong kenaikan harga input non BBM seperti tenaga kerja, bibit, pupuk, dan sarana produksi lainnya.
|
Para pelaku perkebunan kelapa sawit mangakui kenaikan BBM ini dampaknya akan bersifat tidak langsung seperti yang diungkapan Ambono Janurianto, Presiden Direktur PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (BSP), bahwa pengaruh naiknya harga BBM tersebut tidak terlalu terasa, namun tetap akan ada dampaknya baik langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan.
|
Dampak yang akan terlihat jelas ialah pada sektor transportasi sebab perkebunan kelapa sawit sangat membutuhkan kendaraan semisal truk untuk mengangkut Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS) atau truk tangki pengangkut Crude Palm Oil (CPO) ke pelabuhan.
|
Masih menurut Ambono, semisal perusahaan memakai pihak ketiga untuk transportasi ini biaya untuk sektor ini akan mengalami kenaikan cost karena akan ada penyesuaian harga, terkait dengan naiknya harga BBM.
|
Sementara menurut CEO SMART Tbk, Tony Liwang, dengan adanya kenaikan harga BBM ini akan berdampak pada cost produksi yang akan bertambah sebesar 30%, kenaikan cost produksi tersebut dikarenakan adanya kenaikan biaya pada transportasi, shipment dan pupuk yang saat ini harganya sangat tinggi.
|
“Jauhnya jarak dan kondisi geografis wilayah yang ditujupun mempunyai andil besar dalam menaikan cost produksi, apalagi dengan kondisi jalan rusak mengakibatkan lalu-lintas tersendat pastinya akan menambah bahan bakar, begitu pula dengan pengapalan CPO”, ungkap Tony.
|
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT )
|
|
|
Harga BBM dan Solusi Energi Alternatif |
Melonjaknya harga minyak mentah dunia pada awal semester pertama tahun 2008, memaksa pemerintah mengambil langkah tidak populis yakni menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) |
Menurut prediksi beberapa pengamat harga minyak mentah dunia akan terus merangkak naik, apabila prediksi ini benar, berarti Indonesia harus bersiap menghadapi kondisi meningginya harga sumber energi petrolium, permasalahannya sekarang setelah pemerintah menaikan harga BBM, pemerintah sendiri tidak mempunyai kata solusi yang jelas.
|
Bahkan pada press realess kenaikan harga BBM waktu yang lalu, pemerintah melalui Menteri Keuangan akan mencari jalan untuk menutupi devisit anggaran APBN, salah satunya dengan melakukan peningkatan pajak secara progresif terhadap sektor perkebunan dan pertambangan.
|
Para pengusaha terutama dari kalangan kelapa sawit banyak yang melihat bahwa kenaikan haraga BBM ini tidak dibarengi dengan solusi yang jelas. Seperti yang diungkapkan Soedjai Kartasasmita, ketika pemerintah mau menaikan harga BBM tidak ada alternatif karena menurutnya pemerintah tidak memberikan perhatian sepenuhnya terhadap pembuatan energi alternatif.
|
Sehingga dengan tidak adanya dukungan pemerintah terhadap energi alternatif ini gaungnya semakin hilang ditelan bumi. Harga jual energi alternatif atau yang populer disebut dengan biodiesel, kalah bersaing dengan bahan bakar petrolium.
|
Padahal dua tahun yang lalu presiden Susilo Bambang Yudhoyono memantapkan tekad untuk menjadikan Indonesia tidak lagi bergantung pada bahan bakar minyak berbasis fosil. Presiden menyerukan pemanfaatan secara optimal bahan bakar nabati.
|
Namun kebijakan energi ini tidak semulus yang diharapkan, tahun lalu menjadi tahun yang berat bagi pelaku industri biodisel, kenapa, harga yang kurang bersaing ditambah harga bahan baku yang kian meninggi mengakibatkan harga biodisel masih di atas harga bahan bakar petrolium.
|
Disaat harga minyak mentah semakin naik semestinya energi alternatif ini berpeluang untuk menggantikan peran energi yang berasal dari minyak bumi. Nah, semestinya pemerintah lebih jeli melihat situasi ini. Komitmen presiden yang ingin mengubah ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak berbasis fosil menuju bahan bakar nabati semestinya bisa terwujud.
|
Memang saat ini Indonesia sedang mempelajari penggunaan biodisel barbahan dasar kelapa sawit, dan rencananya kebijakan tentang kewajiban penggunaan (mandatory use) bahan bakar nabati segera diberlakukan tahun ini.
|
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT ) |
|
|
|
|
|
Dari Pangan Sampai Energi |
|
Jangan sekali-kali meremehkan manfaat singkong, Selain menjadi sumber pangan murah, pati singkong dapat menjadi dekstrin, high fructose syrup (HFS), dan sorbitol. Bahkan, bioetanol sari tepung singkong kini semakin diburu investor. |
Industri beoetanol dari pati singkong potong (cassava chips) berpeluang berkembang pesat di Indonesia. Tidak lain, tren permintaan bioetanol termasuk dari singkong (ubikayu) untuk bahan baker nabati (BBN) terus meningkat, juga Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku yang melimpah. Tanaman singkong mudah dibudidayakan di mana-mana.
|
Berdasarkan prediksi Departemen Pertanian, produksi singkong nasional tahun ini akan mencapai 20 juta ton, meningkat dibandingkan tahun 2007 sebanyak 19 juta ton. Maka itu, potensi pemanfaatan ubikayu menjadi bioetanol sangat besar. Bahkan, untuk menghasilkan 5% bioetanol atau 850.000 kilo liter (KL) untuk memenuhi BBN sesuai dengan program penugasan pemerintah (public service obligation—PSO) “hanya” dibutuhkan sebanyak 5,525 juta ton singkong.
|
Pemilihan bioetanol singkong untuk BBN tidak terlepas dari penerapan prinsip pro- growth, pro-poor, pro-planet and pro-job.
|
Menurut perhitungan ahli bioenergi Roy Hendroko, produksi bioetanol berbahan ubikayu hanya butuh 27,6% dari total produksi singkong nasional. Artinya, itu tidak mengganggu ketersediaan singkong untuk industri pangan di Indonesia.
|
“Untuk menghasilkan satu liter bioetanol dibutuhkan 6 kg singkong, dengan biaya produksi antara Rp 3.000-4.000 per liter Saat ini harga bioetanol berkisar Rp 5.000-6.000 per liter. Jadi, prospek bioetanol cukup bagus dari segi harga, karena harganya lebih stabil dibandingkan biodiesel dari CPO,” ujar Roy.
|
Dari perhitungan bisnis, Roy membeberkan, untuk membangun pabrik bioetanol berkapasitas produksi 300 liter pe hari, hanya butuh investasi sebesar Rp 150 juta. Kebutuhan bahan baku singkong sebanyak 651 ton per tahun, sedangkan jumlah pegawai hanya 8 orang. Investasi tersebut akan kembali (payback period) dalam jangka waktu 3,5 tahun.
|
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT ) |
|
|
| |
Daya analisanya tajam, tapi cara menjelaskan hasil analisa itu cukup gamblang. Tidak ribet. Prediksinya tentang harga CPO acapkali benar, sehingga ramalannya selalu ditunggu. Dialah Dorab Mistry, direktur Godrej International Ltd, London.
|
Di kalangan pelaku industri minyak sawit dunia, nama Dorab Mistry sudah sangat dikenal. Tak lain, dia menjadi manusia dengan kemampuan analisa yang baik mengenai perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar dunia.Hasil analisa, pun fatwa-fatwanya, mengingat orang pada sosok Alan Greenspan ketika ahli keuangan internasional ini menjabat Gubernur Bank Sentral AS (The Federal Reserve).
|
Tak heran pula, setiap analisanya tentang harga CPO, baik di awal maupun penghujung tahun, selalu disimak baik-baik oleh para pelaku usaha kelapa sawit. Prediksi yang dibuat Dorab seringkali menemui kebenaran.
|
Pada forum World Palm Oil Summit and Expose (WPOSE) 2008 di Hotel Shangri-La Jakarta, akhir Mei lalu, analis ini memprediksi harga CPO segeral menembus US$ 1.400 per ton. Di tengah masih tingginya permintaan CPO dan tren harga minyak bumi, Dorab ingin mengungkap sisi positif misteri pergerakan harga CPO dunia. Kali ini benarkah ramalan Dorab, tak satupun orang yang bisa memastikan.
|
Di penghujung 2006, ketika sebagian besar pemain sawit masih menyakini harga CPO tak akan jauh dari RM 1.400, Dorab berani memprediksi harga akan melampui RM 3.000 per ton. Benar saja, ramalan itu tidak meleset.
|
Untuk membuat prediksi akurat, Dorab Mistry mengamati laju supply and demand CPO dunia. Lalu, mencermati pula tren produksi dan kebutuhan bahan pangan, seperti kanola, kedelai, dan gandum. Uniknya, dia jarang memanfaatkan grafik untuk menganalisa harga.”Saya tidak menggunakan chart saat memprediksi,” ujar Dorab kepada InfoSAWIT.
|
Makanya, orang jarang menemukan grafik dan tabel angka di berbagai makalah yang dibuatnya. Hanya dengan mengandalkan data supply and demand kemudian ia berusaha mencari titik keseimbangan untuk memantau kisaran harga.
|
(Informasi selengkapnya pada Majalah InfoSAWIT )
|
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
|
|
Terbuka kesempatan bagi perusahaan dalam penyajian isi dan pemuatan iklan atau advetorial.
Untuk Informasi lebih lanjut Hubungi : |
PT. Mitra Media Nusantara
Komplek Bukit Permai.
Jl. Anjasmoro, Blok G2 No.1
Kelurahan : Cibubur, Kecamatan : Ciracas
Jakarta Timur 13720
Telp/Fax. 021-8716853 |
| |
Informasi Berlangganan lebih lanjut... Klik Disini |
|
|
|
|
| |
|
|
|