img

GUNAKAN INSEKTISIDA BIOLOGI DIPEL SC., SECARA EFEKTIF MENGENDALIKAN HAMA ULAT PENGGEREK BUAH KELAPA SAWIT (UPBKS) TIRATHABA SP.

Ekspose | 30 April 2017 , 16:22 WIB | Read : 682 | Administrator
img

PERKEBUNAN KELAPA SAWIT YANG TERUS BERTUMBUH DI INDONESIA, DAN MERUPAKAN INDUSTRI STRATEGIS NASIONAL YANG MEMILIKI MASA DEPAN CERAH BAGI MASYARAKAT INDONESIA. BAGI PRAKTISI PERKEBUNAN, MENGELOLA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MEMILIKI DINAMIKA PEKERJAAN TERSENDIRI. SALAH SATUNYA, PENANGGULANGAN HAMA YANG BANYAK TERDAPAT DI KEBUN KELAPA SAWIT.

Sebagian praktisi perkebunan kelapa sawit, cenderung mempersepsikan keberadaan hama minor di perkebunan kelapa sawit sebagai hama yang tidak terlalu merugikan. Padahal, dalam implementasi praktek budidaya terbaik dan berkelanjutan, juga menyaratkan penanggulangan hama, penyakit dan gulma secara terpadu.

Kendati terbilang minor, namun bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat bukan tidak mungkin  hama tersebut akan memberikan kerugian yang tak terbilang sedikit bagi perkebunan kelapa sawit, semisal hama Tirathaba Sp. DI beberapa lokasi seperti pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dan berpasir Tirathaba merupakan hama penting.

Tirathaba Sp., menyerang hasil buah yang dihasilkan pohon kelapa sawit sehingga kerap disebut ulat pemakan buah kelapa sawit (UPBKS), sehingga tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan akan rusak dan hasil panen yang dihasilkan tidak maksimal. Selanjutnya, kerugian ekonomi bakal diterima pemilik kebun sawit, lantaran hasil panen TBS tidak mampu menghasilkan secara maksimal.

Semisal, hasil panen kebun sawit yang memiliki pokok tanaman berumur 5 tahun, biasanya mampu menghasilkan jumlah panen TBS sebesar 9,67 ton per hektar. Namun bila terserang Tirathaba Sp., maka hasil panen akan didapat, berkurang sampai dengan 50% dari seharusnya.

Jika diperhitungkan secara ekonomi, semisal harga jual TBS sebesar Rp 1.513/kg, maka potensi kerugian, bakalan menggerus hasil panen berkurang sebesar 20%. Sehingga besarnya potensi kerugian akan mengurangi pendapatan dari hasil penjualan TBS sekitar Rp 3 juta per hektar.

Bagi petani yang memiliki lahan kebun sawit sebesar 2 hektar per kavling, maka kerugian yang didapat sebesar Rp 6 juta per kavling. Sedangkan bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit, semisal memiliki luasan kebun sawit sebesar 10 ribu hektar. Maka besaran kerugian yang akan diterima setiap tahunnya, dari berkurangnya pendapatan sebesar Rp 3 juta per hektar, atau sekitar Rp 30 miliar per 10 ribu hektar.

Melihat kalkulasi kerugian ak . . .

. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img