img

SAAT PARA PEREMPUAN BICARA KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN

Teropong | 02 June 2017 , 06:00 WIB | Read : 1062 | Atep Yulianto Irawan
img

APRIL MENJADI BULAN YANG SPESIAL BAGI PARA PEREMPUAN INDONESIA. LANTARAN PADA BULAN ITU PERINGATAN EMANSIPASI ACAP DILAKUKAN SEBAGAI BENTUK UNGKAPAN KESETARAAN ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN. LEBIH SPESIAL, FAKTANYA PARA PEREMPUAN ITU TELAH MASUK DAN BERKONTRIBUSI DI DALAM SEKTOR KELAPA SAWIT. LANTAS, BAGAIMANA SEJATINYA PANDANGAN PEREMPUAN MENGENAI KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN?

Perempuan memang kerap dianggap sebagai sosok lemah gemulai dan jauh dari kata perkasa. Namun yang menjadi menakjubkan, perempuan kini telah ikut berkontribusi dalam berbagai sektor di Indonesia tidak terkecuali sektor pertanian dan perkebunan.

Sebut saja dari hasil sensus pertanian yang dilakukan tahun 2013 lalu telah mengungkap fakta menarik, lantaran sekitar 23% atau sebanyak 7,4 juta petani di Indonesia adalah perempuan.

Lantas bagaimana dengan sektor perkebunan? sepertinya tidak jauh berbeda. Kendati tidak ada angka pasti seberapa banyak perempuan terlibat di sektor kelapa sawit, namun sosok perempuan ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berkembangnya industri kelapa sawit nasional utamanya di sektor hulu.

Telah banyak perempuan yang mampu menggantikan beberapa peran yang sebelumnya dilakukan laki-laki. Atau bahkan  bisa jadi telah menjadi mahfum jika para pemungut berondolan acap dilakukan ibu-ibu atau para perempuan. Lantas, kegiatan di pembibitan kelapa sawit hingga kegiatan aplikasi pemupukan, menjadi bagian yang erat dengan perempuan.

Jelas perempuan tidak diragukan memiliki andil yang tidak kecil dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Memang di perkebunan kelapa sawit kerap ada anggapan sebagai sektor yang didominasi kaum laki-laki, lantaran banyak pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik.

Tapi tunggu dulu, dengan adanya pengelolaan perkebunan kelapa sawit dengan cara mekanisasi justru telah membuka peluang perempuan mengganti peran para laki-laki, misalnya sebagai operator traktor pada proses panen Tandan Buah Segar (TBS) sawit, atau bahkan sebagai mandor.

Sayangnya, penghargaan perempuan di sektor perkebunan kelapa sawit masih dianggap masih jauh dari yang diharapkan. Kendati tidak bisa juga menampik jika ada perusahaan kelapa sawit yang telah memberikan perhatian cukup baik bagi para pekerja perempuan.

Namun demikian mesti diakui bahwa aspek sustainability atau skim berkelanjutan dianggap masih belum memasukan aspek gender dalam proses penerapannya. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu aspek penting yang belum cukup mendapat perhatian, misalnya bagaimana pemenuhan hak atas petani sawit atau pekerja sawit perempuan saat terjadi konversi lahan untuk sawit, atau perlakuan terhadap perempuan di perkebunan kelapa sawit.

Dikatakan Sita Soepomo dari Tha . . .

. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img