img

BEDA DEFORESTASI ALA INDONESIA DENGAN UNI EROPA

Regulasi | 02 June 2017 , 06:04 WIB | Read : 683 | Atep Yulianto Irawan
img

MUNCULNYA TUDINGAN KOMODITAS SAWIT SEBAGAI PEMICU TERJADINYA DEFORESTASI SONTAK DISANGGAH PEMANGKU KEPENTINGAN SEKTOR INI. ADA ANGGAPAN PIHAK EROPA TERLALU MENGADA-ADA. APALAGI MERUJUK REGULASI NASIONAL, DEFORESTASI MEMILIKI DEFINISI YANG BERBEDA DARI PENERJEMAHAN DEFORESTASI DI DUNIA, LANTAS APA SEBENARNYA DEFORESTASI ALA INDONESIA?

Bukan kali pertama, kelapa sawit dituding merusak lingkungan. Tudingan miring itu telah ada semenjak kelapa sawit tumbuh dan berkembang di Indonesia. Terakhir, munculnya resolusi sawit dari parlemen Uni Eropa yang menganggap, komoditas kelapa sawit mengakibatkan terjadinya deforestasi.

Bahkan dalam laporan Parlemen Eropa pada pertengahan Maret 2017 lalu mencatat, sekitar 49% terjadinya deforestasi merupakan hasil dari pembukaan ilegal untuk sektor agrikultur komersial. Kejadian ini dipicu oleh terus meningkatknya permintaan komoditas agrikultur, termasuk di dalamnya kelapa sawit, peternakan sapi, perkebunan kedelai dan industri kayu.

Dimana konversi secara ilegal hutan alam untuk sektor agrikultur telah menimbulkan produksi karbon sebanyak 1,47 gigaton setiap tahun, atau setara 25% dari emisi tahunan minyak fosil di Uni Eropa.

Kebakaran tahun 2015 lalu yang terjadi di Indonesia, utamanya di Kalimatan, pula tidak luput dari pembahasan di dalam resolusi sawit itu yang dianggap tidak ada solusi tuntas dalam dua dekade terakhir. Bahkan kegiatan konversi dan deforestasi di daerah kering kerap terjadi setiap tahun dan menjadi hal yang lumrah, kecuali ada upaya serius dalam mencegah terjadinya kebakaran lahan dan hutan.

Kejadian kebakaran di Indonesia, utamanya di Kalimantan, telah menimbulkan dampak buruk bagi 69 juta masyarakat akibat polusi udara, dan dianggap bertanggung jawab terhadap ribuan orang yang akhirnya harus menemui ajalnya lebih awal.

Eropa mencatat,  kejadian kebakaran ditengarai akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit dan komoditas lainnya, dimana kejadian kebakaran sekitar 52% pada tahun 2015 lalu terjadi di lahan gambut, dan dituding sebagai salah satu kontribusi terbesar dalam terjadinya pemanasan global.    

Jelas Uni Eropa dengan segala alasan dari kebakaran lahan dan dampak polusi udara, hingga pemanasan global telah mengarahkan tudingannya kepada industri kelapa sawit sebagai pemicu terjadinya kerusakan lingkungan dan deforestasi.

Lantas apakah memang demikian? Dikatakan Guru Besar Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Yanto Santosa, untuk masalah deforestasi harus kembali dari pengertian deforestasi. Lantas perkebunan sawit siapa atau yang mana. “Ini tidak jelas mengingat di Indonesia sangat banyak perkebunan kelapa sawit besar dan perkebunan sawit rakyat-nya,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Jika merujuk definisi deforestasi dari FAO (1990) d . . .

. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img