img

Ada Titik Api, Komitmen Pelaku Usaha Di Jambi Dipertanyakan

Berita Lintas | 07 September 2017 , 06:50 WIB | Read : 705 | Administrator
img

InfoSAWIT, JAMBI- Kalangan aktivis lingkungan di Jambi mempertanyakan keseriusan para pengusaha kehutanan dan perkebunan di daerah itu dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengusaha kehutanan dan perkebunan di Jambi dinilai masih bersikap abai terhadap karhutla. Penilaian itu muncul karena hingga September ini masih ada lahan perusahaan kehutanan dan perkebunan di Jambi yang terbakar.

“Semestinya tidak ada lagi areal perusahaan kehutanan dan perkebunan yang terbakar di musim kemarau tahun ini. Sebab, Jambi sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Gubernur (Pergub) Jambi yang mengatur tentang kewajiban pengusaha mencegah dan menanggulangi karhutla. Perda dan Pergub tersebut juga mengatur mekanisme pemberian tindakan terhadap pembakar hutan dan lahan. Namun hal tersebut tidak dilaksanakan,” kata Manager Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi, Rudi Syaf seperti dikutip Suara Pembaruan di Jambi, belum lama ini.

 

Menurut Rudy Syaf, Perda Provinsi Jambi Nomor 2 tahun 2016 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan serta Pergub Jambi Nomor 31 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Perda Provinsi Jambi tersebut belum efektif mencegah karhutla. Buktinya terlihat dari masih terjadinya karhutla di areal perusahaan kehutanan dan perkebunan di Jambi selama musim kemarau Juli – September 2017.

 

Selama sepekan terakhir saja, Rabu (30/8) – Selasa (5/9), jelas Rudy Syaf, terdapat 19 hot spot (titik api) di Provinsi Jambi. Titik api tersebar di areal perusahaan hutan tanaman industri (HTI) PT WKS sebanyak empat titik, PT Lestari Asri Jaya (dua titik), PT Arangan Hutan Lestari (dua titik) dan PT Samhutani (satu titik).

 

Titik api di kawasan perkebunan kelapa sawit di Jambi terdapat di areal PT Teramitra Indo (dua titik), PT Sawit Desa Makmur, PT Megasawindo Perkasa dan PT Agrowiyana masing-masing satu titik. Selain di areal perusahaan, titik api di Jambi juga terdapat di beberapa kawasan areal perkebunan dan pertanian yang dikelola masyarakat.

 

“Seharusnya Jambi sudah bisa bebas dari titik panas tahun ini karena kemarau tidak terlalu lama. Berdasarkan perda penanggulangan karhula, Jambi harus nol titik api setiap kemarau. Namun kenyataannya, kebakaran hutan dan lahan di Jambi masih terjadi,” katanya.

 

Rudy Syaf menilai, masih terjadinya karhutla di Jambi saat ini dipengaruhi kurangnya ketegasan pemerintah daerah setempat menindak para pengusaha kehutanan dan perkebunan yang lahannya terbakar. (T3)

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img