img

Pro Kontra Dasar Kerusakan Gambut, Dorong Penelitian Bersama

Berita Lintas | 09 September 2017 , 06:29 WIB | Read : 1048 | Administrator
img

InfoSAWIT, PALANGKARAYA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pertanian, Badan Restorasi Gambut (BRG), perguruan tinggi,  Himpunan Gambut Indonesia (HGI),  korporasi serta para pemangku kepentingan lain akan  melakukan penelitian bersama terkait penetapan tinggi muka air tanah (TMA) sebesar 0,4 meter di bawah permukaan gambut pada titik penaatan, sebagai batas kriteria baku kerusakan gambut,

“Pro dan kontra masih terjadi. Banyak pihak mempertanyakan karena hasil penelitian dilakukan pada hutan primer dan bukan kawasan gambut budidaya. Padahal, penetapan TMA 0,4 m sebagai kriteria kerusakan gambut yang tertuang pada  PP 57/2016 ditetapkan pada kawasan budidaya gambut,” kata Ketua Himpunan Gambut Indonesia (HGI) Supiandi Sabiham, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT.

Dikatakan pengajar pada Fakultas Kehutanan Universitas Palangkaraya Nina Yulianti, hasil penelitian bersama sejumlah pihak termasuk pakar gambut Prof Hidenori Takahashi dari Universitas Hokkaido Jepang seharusnya tidak menjadi dasar penetapan kriteria kerusakan gambut.

“Tinggi muka air 0,4 m seharusnya hanya menjadi indikator peringatan dini (early warning) adanya hotspot dan bukan sebagai dasar penetapan kriteria kerusakan gambut,”kata Nina.  (T2)

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img