img

MENGEMBALIKAN ASA PETANI KELAPA SAWIT DI 16 DESA

Fokus | 11 September 2017 , 06:17 WIB | Read : 1001 | Aang Kuvaini
img

Lebih dari sewindu tidak lagi memiliki mitra, mengakibatkan sulitnya menjual buah sawit lantaran jarak yang cukup jauh, akhirnya berimplikasi pada pendapatan petani yang morat-marit di 16 desa. Petani pun berharap lembaran hitam itu bisa segera disudahi.

Niat Budi Wahono asal Jogjakarta mengikuti program Perkebunan Inti-Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans), tahun 1996 lalu bukanya tanpa alasan, selain untuk memperoleh pekerjaan lebih baik juga untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Apalagi di Pulau Jawa, persaingan untuk memperoleh pekerjaan semakin ketat sementara untuk bertani ketersediaan lahan pun semakin terbatas.

Akhirnya bersama 70 keluarga lainnya, Budi Wahono pun sepakat untuk menjadi petani perkebunan kelapa sawit di Sungai Melayu, Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Harapan untuk memperoleh penghidupan lebih baik itu pun semakin didepan mata.

Tahun demi tahun dijalani, semua berjalan lancar dan sesuai rencana, akad kredit lahan pun dilakukan dengan lancar pada 2004 lalu dan pada 2008 sudah ada beberapa petani yang mampu melunasi kredit.

Masyarakat di desa Sungai Melayu yang berjumlah 400 KK atau sebanyak 1200 jiwa dan rata-rata adalah petani sawit, mulai mendulang  keuntungan dari berkebun kelapa sawit.

Sayangnya baru saja memperoleh keuntungan dari berkebun sawit,  pada Agustus 2008, perusahaan mitra petani yakni Benua Indah Group (BIG) menghadapi kendala finansial, yang akhirnya berimplikasi pada kelancaran pembayaran gaji karyawan dan has

. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img