img

GCF: Masyarakat Adat Pendorong Pembangunan Rendah Emisi

Berita Lintas | 26 September 2017 , 06:37 WIB | Read : 680 | Administrator
img

InfoSAWIT, JAKARTA - Pertemuan tahunan para Gubernur anggota GCF (Governors’ Climate and Forest Task Force – Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Perubahan Iklim) yang sedang berlangsung di tanggal 25-28 September ini akan mengusung langkah baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yakni keterlibatan langsung masyarakat adat dan komunitas lokal dalam dialog aktif dengan para Gubernur dan pemangku kepentingan lainnya di tingkat sub-nasional untuk mencapai target pembangunan rendah emisi di masing-masing yurisdiksi.

Sejak Deklarasi Rio Branco pada 2014, para Gubernur menyadari pentingnya peranan masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai aktor penDng dan strategis di Provinsi dan Negara Bagian anggota GCF dalam rangka mencapai komitmen mengatasi perubahan iklim. Studi yang dilakukan oleh Earth Innovation Institute (2014) menunjukan bahwa masyarakat adat merupakan penjaga karbon hutan yang sangat penting bagi iklim global. Wilayah adat di seluruh bentang Amazonia sendiri berkontribusi sebesar 32.8 % (28.247 MtC) dari total karbon di atas permukaan tanah di wilayah itu. Sementara gabungan berbagai negara hutan tropis (Indonesia, Democratic Republic of Congo, Amerika Tengah, Cekungan Amazon) menunjukan 20% karbon hutan berada di wilayah adat. Karena itu, Provinsi dan negara bagian anggota GCF menyadari dan mengakui peran itu sehingga menuangkannya ke dalam prinsip, program maupun aksi yang akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan tahunan di Balikpapan.

Sejumlah putaran diskusi persiapan pra pertemuan Tahunan GCF di Balikpapan telah berlangsung antara organisasi masyarakat adat di masing-masing negara dan provinsi anggota GCF. Di tingkat global, organisasi masyarakat adat dan perwakilan pemerintah telah melangsungkan pertemuan di Klamath California 21-24 Agustus 2017. Dalam pertemuan itu, organisasi masyarakat adat dari berbagai belahan dunia telah menuangkan usulan yang disebut “Klamath Leber” yang berisi prinsip dan usulan pekerjaan rumah untuk pemerintahan sub-nasional, nasional dan global.

Cándido Mezúa Salazar yang merupakan anggota Badan Pengurus Aliansi Masyarakat di Sekitar Hutan Amerika Tengah (Mesoamerican Alliance of Peoples and Forests – AMPB) menegaskan Klamath Leber sebagai pilar dan usulan yang telah disepakati bersama di antara organisasi masyarakat adat di tingkat global.

Di samping itu, beberapa kelompok masyarakat adat juga telah menyampaikan usulan yang lebih konkrit untuk membantu Pemerintah anggota GCF dalam memproyeksikan rencana kerja yang sejalan dengan agenda yang diusulkan masyarakat adat.

Terkait hal ini, Rukka Sombolongi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), mengutarakan bahwa masyarakat adat Ddak hanya berhenti pada upaya mendorong pilar atau prinsip tetapi membawa upaya di tingkat sub-nasional dalam sejumlah kerangka kerja yang lebih aksional dan berdampak nyata terhadap masyarakat adat.

“Kami telah memiliki rencana aksi yang konkrit dan akan disampaikan kepada para Gubernur anggota GCF,” tutur Alfonso Chavez dari COICA (Coordinadora de las Organizaciones Indígenas de la Cuenca), sebuah organisasi masyarakat adat dari 9 negara di lembah amazon, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT.

Alfonso Chavez juga berharap, GCF tidak hanya menjadi forum tukar pikiran, tetapi berbuah aksi nyata untuk perlindungan hutan dan masyarakat adat di berbagai belahan dunia, dalam.

Pernyataan masyarakat adat diakui oleh Gubernur Kalimantan Timur anggota GCF. Awang Faroek Ishak, yang merupakan tuan rumah pertemuan tahunan GCF yang akan mengundang masukan berbagai kelompok masyarakat adat dalam pertemuan tahunan kali ini.

Menurut Awang, GCF seharusnya memainkan peran sebagai katalisator yang mempercepat terwujudnya capaian sejumlah kebutuhan fundamental yang menyangkut eksistensi masyarakat adat, seperti pengakuan wilayah adat, partisipasi dan konsultasi yang efektif dengan kelompok masyarakat adat. “Dan mekanisme pembagian manfaat yang jelas dari berbagai pendanaan iklim saat ini,”tandas Awang Faroek. (T2)

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img