img

Dampak Sawit, Afrika Mesti Belajar ke Indonesia

Berita Lintas | 12 October 2017 , 06:21 WIB | Read : 1057 | Administrator
img

InfoSAWIT, KAMERUN- Layaknya ratusan aktivis penolak lahan sawit Kamerun, Nasako Besingi sudah akrab dengan intimidasi, tuntutan hukum, hingga dinginnya jeruji penjara. Besingi telah memimpin perlawanan terhadap investasi pemodal Amerika Serikat yang ingin membuka 73.000 hektare lahan sawit baru di Kamerun. Pada Minggu (25/9/2017) lalu, polisi mendatangi kantornya, menyita paspor, dokumen pribadi, ponsel, dan komputernya, lalu menjebloskannya lagi ke penjara.

Penahanan tersebut merupakan puncak dari perselisihan antara Besingi dan aparat keamanan dalam kapasitasnya menjalankan perintah negara: memuluskan investasi AS di Kamerun.

 

Pada November 2015, Besingi memperkarakan kasus pemukulan yang dilakukan oleh karyawan Herakles Farms, perusahaan minyak kelapa sawit AS yang berkantor di Kamerun. Pada Januari 2016 keputusan pengadilan justru memenangkan Herakles Farms serta memaksa Besingi memilih membayar denda sebesar 450 poundsterling atau satu tahun penjara atas dakwaan pencemaran nama baik.

 

Pengacara Besingi mengatakan bahwa para aktivis yang dipenjara akan dibebaskan pada akhir Oktober ini. "Kasusnya sudah jamak," katanya kepada The Guardian.

 

Lebih lanjut kata dia, ini bukan yang pertama. Apa yang baru adalah orang-orang menggunakan media sosial untuk menyebarkan berita perlu ada perhatian dari dunia internasional atas apa yang sedang terjadi di sini (Kamerun).

 

Sepeti tulis, tirto.id , besingi sukses menggerakkan masyarakat lokal untuk turun ke jalan dan menolak lahan sawit yang sedianya akan dibuka di cekungan Congo, kawasan hutan hujan terbesar kedua di dunia. Ada beberapa negara yang turut memiliki sebidang cekungan di Afrika bagian Tengah ini, Kamerun salah satunya. Perlindungan ekosistem tak hanya penting untuk keberlangsungan hidup masyarakat lokal, tetapi juga warga global yang mengandalkan hutan hujan sebagai kawasan paru-paru dunia.

 

“Nasako tidak melakukan kejahatan; ia hanya menjalankan hak demokratisnya untuk memprotes sebuah proyek yang dia yakini merugikan masyarakat, lingkungan dan mata pencaharian setempat," ujar Irène Wabiwa Betoko, manajer kampanye hutan Greenpeace Africa. (T3)

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img