img

Sekolah Lapangan (SL), Solusi Memutus Mata Rantai Kebakaran Lahan

Berita Lintas | 14 November 2017 , 06:45 WIB | Read : 1053 | Administrator
img

InfoSAWIT, JAKARTA - Mengubah perilaku tidak membakar menjadi salah satu solusi jitu dalam memutus mata rantai kebakaran lahan dan hutan yang acap rutin terjadi di Indonesia. Seperti lewat penerapan Sekolah Lapangan Padi Darat yang dilakukan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional, PT SMART Tbk.

Timbul penyakit sesak nafas, udara tidak bersahabat dan kerugian besar. Itulah dampak dari kebakaran lahan dan hutan sepanjang tahun 2015 lalu. Untungnya, pada tahun-tahun berikutnya upaya pencegahan dilakukan secara bersama-sama, tidak hanya pelaku perkebunan kelapa sawit nasional, tetapi masyarakat sekitar kebun juga diajak berpartisipasi dengan membentuk Desa Makmur Peduli Api. (baca InfoSAWIT Edisi Februari 2017, Desa Makmur Peduli Api - Masyarakat Sejahtera, lahan dan hutan Terjaga)

Cara demikian diharapkan dapat memutus mata rantai kebakaran lahan dan hutan yang acap terjadi setiap tahun di Indonesia, sejak kebakaran lahan dan hutan yang hebat terjadi tahun 1990-an lalu.

Melibatkan masyarakat sekitar kebun, bukannya tanpa alasan. Melibatkan masyarakat dalam satu desa yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit menjadi cara ampuh dalam upaya mencegah terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Apalagi ditengaraiada sebagian masyarakat masih memiliki perilaku membakar untuk kegiatan budidaya dalam berladang.

Kendati cara budidaya membakar itu dilakukan secara ketat dan hati-hati, namun tetap memiliki risiko tinggi terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Sebab itu perlu ada perubahan perilaku tidak membakar dalam kegiatan budidaya, sekaligus mendorong kemandirian pangan bagi masyarakat di wilayah pelosok. 

Seperti dilakukan di Dusun Bian yang masuk dalam adminsitratif Desa Tua’ Abang, Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dusun ini secara lokasi sangat terpencil dan berjarak cukup jauh dari kota Kecamatan Semitau, sehingga membuat masyarakat mengeluarkan biaya yang tidak sedikit bila harus berbelanja bahan pangan pokok seperti beras, sayur, bumbu dapur dan kebutuhan lainnya.

Misalnya saja, untuk membeli 1 kg beras di warung-warung penjual sembako yang ada di dalam dusun, masyarakat harus mengeluarkan uang sekitar Rp.17.500/kg, padahal bila membeli jenis beras yang sama di Kecamatan Semitau, harganya hanya sekitar Rp.12.700,-/kg.

Sayangnya untuk berbelanja di Kecamatan Semitau butuh waktu sekitar 3 jam (pergi-pulang), termasuk mesti menghadapi kondisi infrastruktur jalan yang kurang baik, berdebu bila kemarau dan berlumpur bila musim hujan tiba, belum lagi harus melintasi sungai kapuas.

Tulis InfoSAWIT, kondisi ini tentu saja, membuat sulit masyarakat dalam mengatur keuangan rumah tangga mereka, terlebih lagi jika mereka juga harus membayar biaya sekolah anak-anaknya yang melanjutkan pendidikan ke kota-kota kecamatan, kabupaten dan propinsi.

Selain lokasinya yang terpencil, Dusun Nanga Bian juga diberkahi wilayah yang tanahnya memiliki tingkat keasaman (pH) antara 3 - 4. Dengan kadar pH tersebut tidak semua jenis padi dapat tumbuh. Jika pun tumbuh, produksinya jauh dari yang diharapkan. Untuk memenuhi kebutuhan beras satu rumah tangga selama setahun penuh, mereka harus menanam padi di lahan seluas 4-6 Ha.

Dengan adanya Sekolah Lapangan (SL) Padi Darat, yang merupakan salah satu program tanggung jawab sosial perusahaan dari PT SMART Tbk dan induk perusahaannya Golden Agri-Resources, melalui salah satu unit usahanya PT. Paramitra Internusa Pratama (PIP), program ini mendorong pola berladang petani di Dusun Bian dengan mengedepankan berladang tanpa membakar lahan dan berpindah seperti kebiasaan-kebiasaan petani sebelumnya, termasuk menerapkan konsep berladang secara organik dan tumpang sari.

Merujuk informasi dari perusahaan, program Sekolah Lapangan (SL) Padi Darat merupakan kegiatan yang dirancang oleh masyarakat Dusun Bian secara partisipatif untuk menjawab tantangan dan permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Fokus utama program ‘Sekolah Lapangan (SL) Padi Darat’ adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengalami proses belajar bagaimana cara menanam padi secara ekonomis dan ekologis.

Pembelajaran dilakukan dengan cara membandingkan pola bercocok tanam kebiasaan dengan pola bercocok tanam yang disesuaikan. Selama proses belajar, bahan-bahan belajar yang dipergunakan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitar desa. Penyesuaian pola bercocok tanam dilakukan dengan tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang telah mereka miliki selama ini. Misalnya saat akan membuka lahan untuk ditanami, ritual puja tanah tetap dilaksanakan. Begitu pula saat akan panen, ritual memotong malai tepat dipangkal tangkainya tetap dilakukan sesuai dengan aturan adat yang berlaku.

Melalui program ini masyarakat diharapkan mampu menghasilkan bahan pangan sendiri (swadaya pangan), terutama beras. Untuk selanjutnya memutus tali ketergantungan membeli kebutuhan dasar dari pihak lain. Jika kebutuhan beras telah terpenuhi, diharapkan biaya yang selama ini dikeluarkan setiap rumah tangga untuk membeli beras dapat dialokasikan untuk kebutuhan penting lainnya seperti biaya sekolah anak-anaknya. “Program Sekolah Lapangan (SL) Padi Darat menjadi media belajar baru bagi kami dalam memanfaatkan dan mengolah lahan kami secara ramah lingkungan. Dengan pola bertani ini kami mampu memenuhi kebutuhan beras rumah tangga tanpa perlu membuka lahan berhektar-hektar”, tutur mantan Kepala Sekolah Dasar desa Tua’ Abang, Harjono, yang berperan aktif dalam mendorong semangat belajar kelompok SLnya selama program berlangsung. (T2)

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img