img

Untung Rugi Blokir Pasar Sawit Uni Eropa

Berita Lintas | 20 November 2017 , 06:02 WIB | Read : 1200 | Administrator

InfoSAWIT, JAKARTA - Munculnya beragam isu negatif terhadap perkebunan kelapa sawit, mendorong pelaku sawit nasional geram dan ada usulan untuk memindahkan pasar Uni Eropa ke pasar lain sebagai bentuk protes dari tidak adilnya perlakuan negara-negara benua biru itu terhadap perdagangan minyak sawit asal Indonesia.

Hanya saja apakah semudah itu? Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengelolaan Dana BPDP-KS, Agustinus Antonius berpendapat, upaya memindahkan pasar Uni Eropa ke pasar lain tidak semudah yang diucapkan. Merujuk laporan BPDP-KS, tahun 2016 lalu pasar Uni Eropa menyerap minyak sawit sebanyak 5,1 juta ton, dimana Belanda sebagai konsumen terbesar dengan impor minyak sawit sekitar 1,3 juta ton, disusul Spanyol sebanyak 1,2 juta ton. Lantas Italia mengimpor minyak sawit sebanyak 964 ribu ton, Rusia sekitar 657 ribu ton dan Ukraina sebanyak 320 ribu ton.

Kata Agustinus, memindahkan pasar sebanyak 5,1 juta ton dari Uni Eropa bukan perkara mudah, sebab itu diplomasi menjadi pilihan yang tepat untuk mengatasi terjadinya kesalahpahaman mengenai perkebunan kelapa sawit di Indonesia. “Tidak mudah memindahkan pasar minyak sawit Uni Eropa yang jumlahnya sekitar 20% dari total ekspor minyak sawit Indonesia,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Kalaupun dialihan untuk biodiesel, tidak akan mencapai jumlah yang besar. Terlebih untuk kebutuhan biodiesel hanya sekitar 2,5 juta ton. Pertarungan itu tutur Agustinus, harus dihadapi sembari mendongkrak potensi pasar minyak sawit di wilayah belahan negara lain.

Misalnya mengembangkan pasar di wilayah benua Amerika yang saat ini baru mencapai 1,78 juta ton, atau mengndongkrak pasar di wilayah Asia dan Afrika yang saat ini telah mencapai 18,8 juta ton.lantas, Pasar Pakistan dan Asia Tengah tercatat memiliki potensi pasar yang cukup tinggi.

Namun demikian Agustinus mengakui, kampanye negatif tidak bisa dibiarkan atau diacuhkan, sebab bisa menjadi kendala perdagangan minyak sawit dikemudian hari. “Jangan dibiarkan menjadi bola liar,” katanya.

Sementara dikatakan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko, Musdhalifah Machmud, munculnya beragam isu negatif merupakan bentuk persaingan dagang, hanya saja bagaimana pelaku sawit nasional bisa memberikan sanggahan dari isu tersebut.

Pihak pemerintah, kata Musdhalifah, siap menjadi bagian untuk menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi. “Kita tidak hanya berbicara, maka kita perlu ada bukti. Kita siapkan konsep deforestasi di Indonesia seperti apa,” katanya. (T2)

Lebih lengkap Baca InfoSAWIT edisi Mei 2017

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img