img

7 Diskriminasi Eropa Terhadap Sawit di Indonesia

Berita Lintas | 02 December 2017 , 06:06 WIB | Read : 523 | Administrator
img

InfoSAWIT, JAKARTA -  Pada briefing kepada para Duta Besar Negara-Negara Uni Eropa di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 28 November 2017 lalu, Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar menyatakan, perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit merupakan sektor kunci pencapaian sustainable development goals (SDGs) di Indonesia, termasuk untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan pembangunan. Oleh karena itu, Indonesia sangat prihatin dengan sikap diskriminatif Uni Eropa terhadap sawit Indonesia.

Bahkan lanjut Mahendra, lembag yang di pimpinnya, CPOPC, mncatat sejumlah langkah diskriminatif oleh negara-negara Uni Eropa, diantaranyat, pertama, langkah anti-dumping dan subsidi yang mengada-ada dan tidak memiliki argumentasi dan bukti yang jelas.

Kedua, langkah oleh institusi Eropa, termasuk Parlemen Eropa, yang paling keras menyuarakan diskriminasi itu, antara lain ditunjukkan dengan resolusi tanggal 4 April 2017 tentang Sawit dan Deforestasi; dan posisi Komisi Lingkungan Parlemen Eropa yang melarang sawit digunakan untuk biofuel di Eropa mulai tahun 2021.

Ketiga, Amsterdam Declaration, yang apabila diadopsi sebagai kebijakan oleh Uni Eropa atau negara-negara penandatangan merupakan kebijakan diskriminasi karena tidak diterapkan secara adil terhadap minyak nabati dalam negeri Eropa.

Keempat, beberapa kajian Komisi Eropa yang sangat mengkritisi sawit, namun tidak memperlakukan sama dengan minyak nabati produksi domestik Eropa.

Kelima, berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang tentu saja dapat menemukan satu-dua kesalahan di negara sebesar dan seluas Indonesia, namun sama sekali tidak melihat konteks dan kebijakan Pemerintah untuk mengatasinya.

Keenam, kampanye negatif pemasaran oleh berbagai perusahaan seperti yang dilakukan maskapai penerbangan KLM yang tidak mau menerima produk yang mengandung sawit. “Dan ketujuhh, berbagai merek dagang yang menyebutkan produk bebas sawit,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Manhendra juga menjelaskan posisi negara-negara produsen sawit adalah melihat komoditas ini sebagai satu-satunya minyak nabati berkelanjutan. Sebab, bila tidak ada sawit, maka kebutuhan dunia akan munyak nabati harus digantikan oleh luas lahan pertanian rapeseed sampai 10 kali lebih besar atau luas lahan pertanian kedelai sampai 5 kali lebih besar karena produktifitas kedua komoditas saingan sawit itu hanya 1/10 dan 1/5 sawit. "Artinya konversi lahan alam atau lahan lainnya di masa depan akan jauh lebih luas daripada yang ada sekarang," tandas Mahendra. (T3)

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store.

InfoSAWIT Store click here

Daftarkan email anda untuk mendapatkan berita infosawit terbaru.



Berita Terkait

Popular Post

img