InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Sektor minyak sawit Malaysia berpotensi mengalami peningkatan signifikan dalam produksi dan pendapatan, yang bisa mencapai hingga RM 4 miliar (US$ 845,84 juta) tahun ini, menyusul keputusan pemerintah untuk mengizinkan perkebunan untuk merekrut pekerja asing, menurut pernyataan dari sebuah kelompok industri pada Rabu.
Pemerintah Malaysia sebelumnya memberlakukan pembekuan perekrutan pekerja migran tahun lalu dalam rangka meninjau praktik rekrutmen. Namun, pekan ini, pemerintah mengumumkan rencana untuk mengizinkan perekrutan pekerja asing guna mengatasi kekurangan sekitar 40.000 buruh di sektor pertanian.
Eksekutif Utama Asosiasi Minyak Sawit Malaysia (MPOA), Joseph Tek menyatakan, bahwa produksi minyak sawit bisa meningkat sebanyak 5,2 juta ton metrik Tandan Buah segar (TBS) Sawit tahun ini jika separuh dari 40.000 pekerja dialokasikan untuk kegiatan panen.
BACA JUGA: Gubernur Riau Sebut Ada 4 Pemicu Munculnya Konflik Masyarakat Dengan Perusahaan Sawit
“Keputusan ini menjadi kabar baik yang signifikan bagi industri kelapa sawit Malaysia,” ujar Tek dikutip InfoSAWIT dari Reuters.
Sekitar 80% pekerja perkebunan Malaysia adalah pekerja migran, terutama dari Indonesia tetapi kekurangan tenaga kerja yang berkepanjangan menyebabkan perkiraan kerugian pendapatan sekitar RM 20 miliar pada tahun 2022.
Ketidakcukupan tenaga kerja terus mempengaruhi produksi, dengan produksi minyak sawit mentah naik sedikit sebesar 0,5% menjadi 18,55 juta ton metrik tahun lalu, kata Tek dalam pernyataannya. Regulator industri minyak sawit Malaysia menyatakan perkiraan produksi sekitar 18,75 juta ton metrik pada tahun 2024.
BACA JUGA: Prospek Harga CPO di 2024: Peningkatan Permintaan Menjelang Hari Raya dan Tahun Politik
Keputusan untuk mengizinkan perekrutan pekerja asing dianggap sebagai langkah positif untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas sektor minyak sawit Malaysia, berkontribusi pada potensi kenaikan ekonomi dalam tahun mendatang. (T2)



















