Sang Duta Besar Sawit, Sosok yang Gigih (Tulisan 2)

oleh -6690 Dilihat
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. InfoSAWIT/Derom Bangun.

InfoSAWIT, JAKARTA – Pada saat studi di ITB, Derom ditunjuk oleh beberapa dosen untuk menjadi asistennya, salah satunya asisten untuk membantu mahasiswa jurusan farmasi.  Pada masa itu,  kehidupan Derom diwarnai keprihatinan. Keadaan ekonomi keluarga di Medan semakin lama semakin menurun. Derom harus pandai-pandai mengatur keuangannya. Mulai tahun ketiga, Derom sudah tidak dibiayai oleh orang tuanya sama sekali. Untungnya Derom menerima bea siswa dari Robert Kennedy dan perusahaan minyak Shell. Pada tahun 1963 Derom mendapat beasiswa Rp. 2.500 setiap bulan dari Robert Kennedy, Jaksa Agung AS. Hanya satu tahun, karena Bung Karno menolak kerja sama dengan AS. Kemudian Derom mendapat bea siswa dari Shell pada tahun 1964 sebesar Rp. 4.000 per bulan sampai lulus.

Selain itu, Derom pun berusaha mencari kesempatan untuk mendapatkan proyek-proyek penelitian yang biasanya dikoordinasi oleh dosen.

Pada tahun 1963, dalam rangka proyek kerja sama ITB dengan Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan (Deperdatam) Derom bersama dengan seorang temannya Ho Kie Liang ditawari untuk menjadi peneliti pada proyek pembuatan magnesium sulfat  sekaligus menyelesaikan tugas kerja di lapangan di Madura di PN Garam.

BACA JUGA: Sang Duta Besar Sawit, Sosok yang Gigih (Tulisan 1)

Setelah dua bulan masa kerja praktek kerja dilalui, mereka akhirnya kembali ke Bandung untuk menyampaikan laporan. Mereka mendapatkan uang penelitian cukup untuk makan setengah bulan.

Pengalaman kerja praktik di Madura masih berlanjut dengan kerja praktik lainnya.  

Derom diminta untuk membantu penelitian pabrik aluminium di Pulau Bintan yang disponsori oleh Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan  (Perdatam)  yang saat itu menterinya dijabat oleh Chairul Saleh.

Saat itu menurut pemerintah,  Indonesia kekurangan bahan alumunium sulfat. ITB ditugaskan untuk menyelidiki kemungkinan memanfaatkan sisa ataupun buangan di Pulau Bintan itu untuk diolah  kembali menjadi aluminium sulfat, untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik kertas. Proyek  dikerjakan di bawah koordinasi dosen Tjiook Tiaw Kien, dia mengampu mata kulian semester terakhir untuk spesialisasi kimia industri.  Beberapa peti aluminium tail dari pabrik aluminium di Pulau Bintan dikirim ke Bandung untuk dipelajari. Mereka membahas tiga calon lokasi proyek, yaitu Kota Bangun di dekat Belawan, Kuala Tanjung dan Tanjung Balai, Asahan.  Belakangan, pabrik peleburan aluminium didirikan di Kuala Tanjung.

BACA JUGA: 365 Perusahaan Sawit Ajukan Pemutihan Melalui Mekanisme Pasal 110A dan 110B

Namun, kira-kira empat bulan lebih proyek ini dikerjakan, proyek ini ditukar. Pemerintah merasa proyek ini harus ditukar. Menurut mereka ada yang lebih penting lagi, yakni penggunan aspal untuk digunakan menjadi atap rumah. Penelitian itu bertujuan untuk menemukan bahan bangunan yang murah dan berkualitas karena saat itu Indonesia membutuhkan bahan bangunan untuk perumahan. Maka dikirimlah beberapa peti aspal dari Buton ke ITB untuk dipelajari untuk digunakan menjadi atap rumah. Tjiook Tiaw Kien jadi pelaksana proyek penelitian ini. Dia memberikan kesempatan kepada Derom untuk mengerjakan penelitian aspal itu dengan proses ekstraksi memakai bahan pelarut hexan.

Derom pun turut merancang desain alatnya dan laboratorium untuk bisa memeriksa apakah aspal tersebut bisa digunakan untuk atap rumah atau tidak.

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com