InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit berjangka Malaysia mengalami penurunan lebih dari 1% pada Senin (24/2/2025), tertekan oleh pelemahan harga minyak saingan di bursa Dalian dan Chicago, serta lemahnya permintaan dari pembeli utama, India.
Kontrak minyak sawit acuan untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 73 ringgit atau 1,57% menjadi 4.591 ringgit (setara $1.044,36) per metrik ton pada jeda perdagangan siang.
Dilansir Reuters, seorang pedagang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan bahwa penurunan tajam harga minyak saingan turut melemahkan sentimen pasar. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,38%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama turun 2%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga mengalami penurunan sebesar 0,7%.
BACA JUGA: Negara Bakal Ambil Alih 3,7 Juta Hektar Lahan Sawit Bermasalah
Harga minyak sawit sangat bergantung pada pergerakan harga minyak nabati lainnya karena bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar global.
Sementara itu, impor minyak sawit India pada tahun pemasaran 2024/2025 yang berakhir pada Oktober diperkirakan turun hingga 7,5 juta ton, level terendah dalam lima tahun. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak sawit dibandingkan minyak kedelai dan minyak bunga matahari, yang mendorong para pengolah minyak di India untuk beralih ke alternatif yang lebih terjangkau.
Masih dilansir Reuters, menurut empat sumber perdagangan, para pengolah minyak di India telah membatalkan pesanan sekitar 100.000 ton minyak sawit mentah yang dijadwalkan tiba antara Maret hingga Juni. Pembatalan ini terjadi karena lonjakan harga minyak sawit berjangka Malaysia dan marjin penyulingan yang negatif di India.
BACA JUGA: ESDM Percepat Transisi Energi Hijau dan Biodiesel Sawit Menuju Ketahanan Nasional 2025
Di sisi lain, India diperkirakan akan menaikkan pajak impor minyak nabati untuk kedua kalinya dalam enam bulan terakhir guna mendukung para petani biji minyak domestik yang terdampak penurunan harga secara signifikan.
Meski demikian, Wakil Menteri Komoditas Malaysia, Chan Foong Hin, menyatakan bahwa ekspor minyak sawit Malaysia ke China diperkirakan tetap kuat tahun ini, meskipun harga minyak sawit lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya dan pola pembelian konsumen China mengalami perubahan.
Secara teknis, harga minyak sawit diprediksi bisa turun hingga 4.583 ringgit per ton setelah gagal menembus level resistance dan mengalami penurunan di bawah jalur kenaikan harga. (T2)
