infosawit

Sawit Berkelanjutan Melalui Rekonsiliasi Pertumbuhan Ekonomi dan Lingkungan (Tulisan 2)



Sawit Berkelanjutan Melalui Rekonsiliasi Pertumbuhan Ekonomi dan Lingkungan (Tulisan 2)

Indonesian Palm Oil Simulation merupakan simulasi dilakukan dengan metode model dinamika sistem (system dynamic modelling) dengan pendekatan analisis nilai rantai (value chain analysis). Lantas bagaiman bila simulasi itu dilakukan dalam kondisi business as usual?

Penulis telah melakukan simulasi dengan asumsi kondisi business as usual (BAU) terus berlanjut dalam 30 tahun ke depan, Hasil simulasi menunjukkan bahwa permintaan baik pasar dalam maupun luar negeri akan terus meningkat dan akan terjadi gap suplai dengan permintaan. Luasan perkebunan sawit akan terus meningkat sampai dengan maksimal lahan yang sesuai untuk sawit di Indonesia yaitu 44,7 juta hektar (Mulyani and Las, 2008;2003). Perluasan perkebunan sawit ini akan diikuti dengan peningkatan produksi TBS yang memuncak hingga tahun ke 27 dan terus menurun karena penuaan dan tanaman yang belum siap panen.

Sedangkan dari segi industri, diperkirakan produksi minyak sawit akan meningkat yang alokasi untuk produk domestik akan melebihi ekspor, Dengan adanya peningkatan produksi, maka nilai ekspor pun akan meningkat yang diikuti oleh peningkatan pendapatan pemerintah dan dana sawit. Disisi lain, adanya perluasan perkebunan sawit akan menyebabkan deforestasi bertambah dimana terdapat asumsi bahwa bahwa sekitar 33.5% lahan perlu dikonversi dari hutan. Selain itu, total emisi GRK dari industri sawit akan meningkat, dan diperkirakan menyumbang 38% emisi di Indonesia dimana baseline kontribusi GRK dari industri sawit adalah 15%.

Penulis: Herry Purnomo dan Sonya Dyah Kusumadewi / Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR)

Lebih Lengkap Baca Majalah InfoSAWIT Cetak Edisi Mei 2020

 


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit