infosawit

Perkuat Strategi F2F, CPOPC Siap Berkolaborasi Dengan UE Untuk Minyak Sawit Berkelanjutan



Perkuat Strategi F2F, CPOPC Siap Berkolaborasi Dengan UE Untuk Minyak Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA - Sekretariat Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC) meyambut pernyataan Komisi Perdagangan Uni Eropa, Phil Hogan, yang mengatasnamakan Komisi Uni Eropa, dalam menanggapi pertanyaan parlemen nomor E-001194/2020 – yang menunjukkan kesediaan pihak Uni Eropa untuk berkolaborasi dengan negara-negara penghasil kelapa sawit guna mengembangkan rantai pasok yang lebih berkelanjutan.

Komisi Uni Eropa tercatat mengakui upaya yang telah dilakukan oleh negara-negara penghasil minyak sawit dan seluruh pemangku kepentingan terhadap strategi produksi dengan menyinergikan antara masyarakat dan alam, melindungi keanekaragaman hayati dan hutan, serta menjamin hak asasi manusia, untuk kemakmuran ekonomi dan sosial.

Dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, pihak Sekretariat CPOPC juga menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh seorang perwakilan dari Polandia ke Parlemen Uni Eropa. Dimana diakui bahwa selama dua dekade terakhir minyak kelapa sawit telah menjadi sasaran kampanye hitam yang tidak adil dan kontraproduktif, didorong oleh motif proteksionisme dan persaingan dagang.

Catat pihak secretariat CPOPC, masyarakat dan konsumen di Uni Eropa telah menjadi korban utama dari kegiatan tersebut, disesatkan oleh pemberitaan yang tidak sesuai fakta, serta tanpa dasar ilmiah yang kuat. “Padahal kami telah meningkatkan upayanya dan memanfaatkan penelitian ilmiah dan teknologi paling maju untuk mencapai tingkat keamanan pangan dan kelestarian lingkungan yang lebih baik, sebagaimana dibuktikan oleh data terbaru dan studi ilmiah,” catat pihak Sekretariat CPOPC.

Lantas, adanya strategi dari kebun hingga ke tempat makan atau Farm to Fork (F2F) yang baru-baru ini diluncurkan oleh Komisi Eropa, membuka peluang besar bagi semua pihak untuk bekerjasama meningkatkan standar keberlanjutan. Harapannya ini juga bisa menjadi alat yang berguna untuk memungkinkan konsumen di Uni Eropa menghargai kualitas unggul dari minyak kelapa sawit, yang masih merupakan minyak nabati paling banyak diminati di dunia.

Sekretariat CPOPC juga memahami keinginan pemerintah di negara-negara Uni Eropa untuk mendukung produsen minyak dan lemak nabati mereka, khususnya selama masa sulit seperti ini. “Namun, kami yakin bahwa Uni Eropa akan bertindak demi kepentingan semua warga negaranya, serta untuk pembangunan global, menjamin impor, dan akses ke minyak sawit berkelanjutan. Apalagi sebagian besar minyak sawit yang di impor Uni Eropa sudah disertifikasi, dan memenuhi standar keberlanjutan yang sangat tinggi,” catat Sekretariat CPOPC.

Agar strategi F2F memiliki dampak signifikan dan mencapai tujuannya, semua pihak harus bekerja bersama di tingkat internasional dan secara multilateral. Semua perspektif harus dipertimbangkan, harus ada diskusi multilateral, bukan penerapan standar diplomasi kesepakatan hijau. “Kami ingin menjadi bagian dari diskusi ini, bukan hanya penonton,” kata pihak Sekretariat CPOPC.

Sekadar catatan, populasi global yang saat ini mencapai lebih dari 7,6 miliar, dan telah dengan cepat mendekati angka 10 miliar. Setidaknya membutuhkan pasokan minyak nabati yang tidak sediktit, dan minyak kelapa sawit terbukti mampu menjadi salah satu produk yang paling seimbang untuk menjamin nutrisi yang aman, tetapi juga tetap dihasilkan dari produksi yang berkelanjutan. “Sebab itu debat seputar F2F tidak bisa mengabaikan informasi tersebut,” tandas Sekretariat CPOPC. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit