infosawit

Fakta Pengembangan Kelapa Sawit di Negara Berkembang



Fakta Pengembangan Kelapa Sawit di Negara Berkembang

InfoSAWIT, JAKARTA - Memperhatikan tuduhan yang terus-menerus tentang penebangan hutan besar-besaran yang ditujukan pada negara-negara berkembang, khususnya negara-negara penghasil kelapa sawit, perlu melihat lebih detil. Mungkin muncul pertanyaan, hutan lebih dari setengah total lahan; sementara itu, mereka masih harus memberi makan sekitar 300 juta orang.

Indonesia dan Malaysia sama-sama negara berkembang yang secara historis mengandalkan pengembangan pertanian untuk menopang perekonomian. Transformasi ke sektor-sektor lain seperti jasa dan industri sedang berlangsung, tetapi tulang punggung ekonomi tetap berada di pundak kegiatan terkait pertanian.

Pada tahap awal, industri kelapa sawit dikembangkan dengan bantuan Bank Dunia dengan sebutan Perkebunan Inti Rakyat atau Skim Inti-Plasma. Ini bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan mengurangi populasi di pulau Jawa yang padat ke pulau-pulau utama untuk membudidayakan kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan.

Selama periode transformatif, mereka mengubah hutan menjadi lahan pertanian untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit. Metode semacam ini telah dipraktikkan di mana saja di seluruh dunia ketika sebuah komunitas perlu mengembangkan industri pertanian dan peternakan, tidak terkecuali berlaku untuk negara-negara maju yang ada di Uni Eropa.

Investasi di sektor kelapa sawit di Indonesia telah terjadi bahkan sebelum negara tersebut memproklamasikan kemerdekaan dari Belanda. Dimana dipelopori oleh perusahaan Belgia, Société Internationale de Plantations et de Finance (SIPEF) yang berbasis di Medan, Sumatra, dan Kuala Lumpur, Malaysia, pada tahun 1919. SIPEF masih beroperasi hingga sekarang di Indonesia.

Pengembangan kelapa sawit di negara-negara berkembang masih didominasi oleh praktik padat karya yang dibuktikan oleh sejumlah besar petani kecil di sektor ini. Di Indonesia, lebih dari 17 juta petani kecil bekerja di perkebunan kelapa sawit yang terkonsentrasi di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Kelompok-kelompok ini mendapat manfaat secara ekonomi dan sosial dari budidaya kelapa sawit. Pengentasan kemiskinan dan naiknya tingkat pendidikan pada anak-anak dari daerah yang ber-kelapa sawit. (Dupito D. Simamora/Wakil Direktur Eksekutif CPOPC & Hijjaz Sutriadi/Konsultan Di CPOPC)

Lebih lengkap baca InfoSAWIT Cetak Edisi Mei 2020

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit