infosawit

Potensi Pasar Bahan Bakar Nabati Minyak Sawit Di Sektor Maritim



Potensi Pasar Bahan Bakar Nabati Minyak Sawit Di Sektor Maritim

InfoSAWIT, JAKARTA - Organisasi Kemaritiman Internasional (IMO) telah menetapkan peraturan baru tentang kadar belerang dalam bahan bakar kapal, yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 2020. IMO merupakan lembaga PBB yang bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan pelayaran dan pencegahan polusi air dan polusi udara dari kapal.

Organisasi tersebut mengeluarkan keputusan untuk menurunkan batasan kadar belerang dari 3,5 persen m/m (massa per massa) menjadi 0,5 persen m/m. Peraturan baru ini, yang dianggap sebagai suatu pergeseran paradigma dalam angkutan laut, dapat diterapkan pada 156 negara yang telah mengadopsi Konvensi Internasional tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Laut oleh Kapal (Konvensi MARPOL). Dikutip dari Chain Reaction Research, IMO memutuskan untuk menurunkan standar belerang global untuk pertama kalinya pada tahun 2016, setelah melaksanakan serangkaian upaya penurunan regional dalam wilayah yang disebut “wilayah pengendalian". Di wilayah tersebut, termasuk Amerika Serikat dan Laut Utara, standar belerang yang diperbolehkan ditetapkan pada level 0,1 persen m/m. Selain itu, IMO telah menawarkan bahan bakar kapal yang mematuhi standar.

Peraturan baru tersebut diperkirakan akan mengganggu industri bahan bakar kapal dan mendorong permintaan akan bahan bakar alternatif berkadar belerang rendah yang belum pernah ada sebelumnya. Peraturan tersebut akan berdampak terhadap sekitar 75% pasar bahan bakar kapal global yang diharuskan untuk memenuhi standar belerang lebih rendah. Untuk jangka pendek, perusahaan pelayaran diperkirakan akan mencari bahan bakar alternatif yang berkadar belerang rendah, sehingga penambahan biaya bahan bakar diperkirakan dapat mencapai US$ 60 miliar. Pilihan bahan bakar alternatif adalah Very Low Sulphur Fuel Oil (VLSFO), minyak solar kapal, metanol, LNG, bahan bakar nabati, tenaga surya, dan sel bahan bakar.

Dalam jangka pendek, kemungkinan kebijakan pembatasan belerang IMO tidak akan meningkatkan permintaan bahan bakar nabati berbahan dasar minyak kelapa sawit di sektor kemaritiman. Bahan bakar nabati belum digunakan secara luas di sektor kemaritiman, meskipun teknologinya ada. Para ahli menyatakan pada Chain Reaction Research bahwa kemungkinan sektor tersebut akan mencari pilihan bahan bakar paling murah yang diizinkan, dan dalam jangka pendek, bahan bakar nabati akan menjadi salah satu pilihan yang paling dicari.

Di jangka menengah sampai jangka panjang, proses dekarbonisasi industri pelayaran dapat tergantung sebagian pada bahan bakar nabati. Oleh karena bahan bakar nabati tidak mengandung belerang, maka peraturan lingkungan hidup yang lebih ketat terkait bahan bakar kapal dapat mempengaruhi pilihan secara ekonomi untuk jangka waktu yang lebih panjang. Saat ini, beberapa perusahaan melakukan uji coba bahan bakar bunker nabati, termasuk perusahaan pengerukan Van Oord, perusahaan logistik Maersk, perusahaan perabot rumah tangga IKEA, dan Japan Engine Corporation.

Analisis skenario tahun 2040 yang dilakukan untuk Inisiatif Pelayaran Berkelanjutan pada bulan Mei 2018 menyimpulkan bahwa bahan bakar nabati dapat menjadi alternatif nol emisi paling layak secara ekonomi untuk industri pelayaran. Biosolar, misalnya, dapat digunakan melalui motor bakar pembakaran dalam, dan tidak membutuhkan adaptasi teknologi yang rumit. Hasil analisis tersebut mengakui bahwa keperluan bahan bakar nabati bersertifikat untuk menjamin dekarbonisasi penuh dapat berdampak pada pasokan dan harga. Karena kendala dapat berdampak terhadap ketersediaan volume biosolar bersertifikat, maka pemintaan akan biosolar berbahan dasar minyak kelapa sawit yang tidak bersertifikat dapat meningkat. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit