infosawit

Menggagas Kemitraan Inti-Plasma Sawit Generasi Kedua



Ilustrasi kemitraan sawit
Menggagas Kemitraan Inti-Plasma Sawit Generasi Kedua

InfoSAWIT, JAKARTA – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, saat ini sedang merancang skim kemitraan inti plasma yang tidak hanya diberlakukan pada sektor hulu kelapa sawit saja, tetapi menyeluruh hingga produk derivative sektor hilir sawit.

Diungkapkan Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, kemitraan di sektor hulu sawit sudah berjalan semenjak dulu. Sebab itu pihaknya akan membantu Asosiasi Petani Sawit PIR-Trans (ASPEKPIR) dalam konteks kemitraan tersebut untuk meningkatkan intensitas frekuensi komunikasi inti plasma, fasilitasi program dan regulasi sehingga kemitraan menjadi lebih baik.

Tercatat Ditjenbun sedang mempersiapkan bimbingan teknis inti plasma.  Plasma berkerjasama dengan inti meningkatkan kapasitas sehingga mampu mengelola dari hulu sampai hilir. “Kami sedang godog supaya hal ini bisa tercapai lewat peningkatan kapasitas SDM plasma,” katanya pada Webinar yang diselenggarakan ASPEKPIR dan GAPKI yang dihadiri InfoSAWIT belum lama ini.

Ketua Dewan Pengawas ASPEKPIR, Rusman Heriawan menyambut baik, upaya yang akan dilakukan Dirjebun guna meningkatkan kemitraan sampai ke sektor hilir. Setelah para pelaku mengakui skim  kemitraan inti-plasma dianggap berhasil, saatnya pula perlu dikaji bagaimana sesungguhnya skim ini berjalan. Mesti dipastikan bagaimana posisi plasma sekarang apakah masih baik seperti dulu, semakin membaik atau semakin merosot.

Ditjenbun sudah membuka peluang kemitraan yang lebih baik dimana petani plasma juga menjadi pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Pada saat ini diharapkan muncul Perkebunan Inti-Rakyat (PIR) model baru berdasarkan PIR model lama. Harus ada new PIR yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan produktivitas. Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang semula diproritaskan pada petani swadaya pada akhirnya petani plasma juga harus ikut.

Ketua Dewan Pembina ASPEKPIR, Gamal Nasir menyatakan PIR sudah berhasil membuat petani kelapa sawit lebih maju. Sekarang eranya sudah berubah dimana istilah ini tidak lagi dipakai tetapi hanya kemitraan saja. TBS petani tetap harus diolah di PKS, sehingga kemitraan petani dan perusahaan tetap harus ada. Pola PIR perlu dikaji untuk diterapkan sekarang tentu dengan berbagai modifikasi.

Saat ini petani PIR banyak yang sudah waktunya untuk peremajaan. Ada yang memilih tetap bermitra dengan inti, ada juga yang memilih lepas. Petani yang memilih lepas kemitraan ada yang memang sudah maju sehingga merasa sudah mampu tetapi ada juga karena kecewa dengan inti. "Aturan soal kemitraan baik ada di UU Perkebunan dan Permentan sudah ada tinggal dijalankan," catat Gamal.

Ketua Umum ASPEKPIR Setiyono mengungkapkan, program PIR terbukti berhasil mensejahterakan petani seperti dirinya yang datang dari Jawa tidak punya apa-apa. Lewat PIR juga kelapa sawit yang semula merupakan komoditas perusahaan sekarang menjadi komoditas petani. Karena itu ASPEKPIR bersama dengan GAPKI akan membangun kembali pola PIR generasi kedua yang lebih modern dan setara antara petani dan perusahaan.

“Pola PIR ini jangan ditinggalkan, karena terbukti masalah yang ada pada petani saat ini seperti masuk dalam kawasan, benih illegal, harga TBS tidak sesuai penetapan, semuanya terjadi pada petani swadaya yang tidak bermitra. Petani PIR relatif tidak mempunyai masalah seperti itu,” tandas Setiyono. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit