infosawit

Kemerdekaan Biodiesel Sawit



Kemerdekaan Biodiesel Sawit

InfoSAWIT - Hegemoni asing yang begitu melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia, tak bisa dianggap sebelah mata. Berbagai propaganda asing yang selama ratusan tahun berkuasa, secara nyata telah berhasil menguasai kehidupan bangsa Indonesia dalam tirani kekuasaan penjajahan. Devide et ampera (Memecah belah dan menguasai) adalah strategi jitu yang selalu digunakan bangsa asing menguasai kekayaan dan sumber daya alam hingga dewasa ini.

Dahulu, bangsa penjajah berhasil membawa benih kelapa sawit sebagai cikal bakal perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Kesesuaian lahan dan cuaca wilayah tropis, menjadi acuan Belanda memilih Indonesia sebagai tempat pengembangan perkebunan kelapa sawit. Lantaran wilayah tropis selalu cukup memiliki curah hujan dan terik sinar matahari yang dibutuhkan kelapa sawit untuk bertumbuh.

Selain kesesuaian agroklimat, perkebunan kelapa sawit juga membutuhkan tenaga kerja manusia yang lumayan besar, untuk mengelola perkebunan kelapa sawit. Jaman penjajahan itulah, banyak intimidasi dan penyiksaan bagi pekerja perkebunan kelapa sawit. Sifat penjajah yang rakus dan tamak tersebut, telah banyak merampas kehidupan dan nyawa rakyat Indonesia.

Namun, perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia telah mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan selama 75 tahun, telah banyak membawa perubahan dan kemajuan bangsa Indonesia. Kini perkebunan kelapa sawit telah memiliki pesona tersendiri bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Dari terbukanya lapangan pekerjaan di pedesaan, membangun daerah pelosok, hingga kontribusi besar bagi pendapatan devisa negara.

Selama 75 Tahun merdeka, bangsa Indonesia melakukan banyak pembangunan, termasuk pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan ini, berpijak kepada prinsip dan kriteria berkelanjutan yang berlaku universal. Dimana, perkebunan kelapa sawit nasional selalu berdasarkan pro people, pro profit dan pro planet.

Keberpihakan kepada pembangunan manusia, lingkungan dan usaha yang menguntungkan inila, yang kemudian menjadi pilar pembangunan perkebunan kelapa sawit nasional sehingga kian membesar. Lantaran, manusia yang hidup di planet bumi, selalu membutuhkan minyak makan yang efektif dan efisien guna kehidupan sehari-hari.

Sebagai minyak makanan yang sehari-hari digunakan memasak, minyak goreng sawit menjadi primadona minyak makanan dunia. Lantaran, harga jual minyak goreng sawit paling kompetitif dibandingkan minyak goreng yang berasal dari minyak nabati lainnya. Keunggulan ini, merupakan bagian dari keunggulan perkebunan kelapa sawit yang memiliki produktivitas hasil panen, jauh lebih unggul dibandingkan minyak nabati dari perkebunan lainnya.

Secara komparatif advantage, produktivitas tinggi hasil panen dan harga paling kompetitif, telah menjadikan minyak sawit sebagai primadona minyak nabati dunia. Berbagai persaingan bisnis yang terjadi di dunia, secara bertanggung jawab, telah mampu dijawab minyak sawit sebagai satu-satunya minyak nabati yang memiliki komparatif advantage paling tinggi.

Keunggulan minyak sawit juga menyisakan persaingan yang terus terjadi, lantaran tak mampu bersaing secara sehat, maka berbagai isu-isu negatif terus berhembus dari negara-negara produsen minyak nabati lainnya. Terutama negara tujuan ekspor dari minyak sawit, yang juga sebagai produsen dari minyak nabati lainnya seperti minyak soybean (kacang kedelai) dan minyak rapak (rapeseed).

Majalah InfoSAWIT Edisi Agustus 2020 cek di http://store.infosawit.com/ 


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit