infosawit

Haruskah Petani Menyubsidi Industri Turunan CPO?



Haruskah Petani Menyubsidi Industri Turunan CPO?

InfoSAWIT, JAKARTA - Pengenaan Bea Keluar dan Pungutan Ekspor BPDP-KS pada minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya baru-baru ini, secara langsung akan mendistorsi harga jual TBS yang dihasilkan petani. Pembangunan industri hilir CPO, bisa dilakukan bangsa Indonesia, melalui subsidi harga produk, yang tidak membebani harga jual TBS petani kelapa sawit Indonesia.

Rumitnya perdagangan CPO memang menjadi penyebab utama dari fluktuasi harga yang kerap terjadi. Pasalnya, perdagangan komoditas minyak nabati global ini, selalu mengikuti alur perdagangan minyak lainnya termasuk minyak mentah bumi. Lantaran, potensi minyak nabati termasuk minyak sawit juga menjadi bagian dari bahan baku sumber energi terbarukan seperti biodiesel.

Dalam perdagangan CPO, hal menarik yang selalu dikeluhkan para pedagang, adalah sumber barang CPO yang tidak mudah bisa diperoleh dan sumber pendanaan modal, yang dibutuhkan untuk melakukan perdagangannya. Kedua hal menarik ini, seringkali menyebabkan banyak pedagang pemula, yang kemudian secara teratur mundur perlahan dan menghilang.

Alhasil, kelompok pedagang CPO dan produk turunannya ini, merupakan sekumpulan pedagang besar yang memiliki kekuatan besar dalam jaringan perdagangan dan modal yang mumpuni. Terlebih, kelompok pedagang ini, juga memiliki kekuatan besar dalam kepemilikan lahan perkebunan kelapa sawit, pabrik kelapa sawit, industri turunan hingga infrastruktur perdagangannya.

Jika meminjam istilah bahasa Latin, homo homili lupus, maka produksi dan perdagangan minyak sawit dikuasai kelompok pedagang besar yang memiliki barang, infrastruktur dan modal yang besar. Bisa jadi, kelompok pedagang besar ini, juga menjadi penguasa dalam perdagangan minyak sawit global. Lantaran, sumber produksi dan infrastrukturnya telah menjadi makanan kesehariannya.

Kuatnya pengaruh kelompok pedagang besar CPO ini, juga menjadi bagian dari kekuatan minyak sawit Indonesia. Dimana, perdagangan minyak sawit global, lebih dari 51% berasal dari Indonesia, sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi dalam perdagangan minyak nabati dunia. Secara nyata, keberadaan minyak sawit asal Indonesia, akan menjadi acuan bagi perdagangan minyak sawit global.

Sebagai contoh, jika produksi minyak sawit Indonesia menurun, maka harga minyak sawit di pasar global akan naik, sebaliknya jika produksi minyak sawit asal Indonesia naik, maka harga jual di pasar global akan segera turun. Ditambah, berbagai pernak-pernik regulasi Indonesia yang bisa menguatkan dan juga melemahkan harga jual minyak sawit itu sendiri.

Regulasi Pemerintah Indonesia, yang mengatur perdagangan minyak sawit, bisa pula menjadi bumerang bagi turunnya harga jual TBS yang dihasilkan petani kelapa sawit. Lantaran, setiap adanya regulasi yang mengatur pembatasan ekspor, maka Kementerian Keuangan akan menerapkan Bea Keluar atau Pungutan Ekspor. (Penulis: Ignatius Ery Kurniawan/Sekretaris Eksekutif APOLIN Periode 2003-2010/Sekretaris III DMSI periode 2009/Pimred InfoSAWIT)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit