infosawit

Memerangi Label “Bebas Minyak Sawit”



foto: istimewa
Memerangi Label “Bebas Minyak Sawit”

InfoSAWIT, JAKARTA - Persaingan dagang minyak nabati global yang melibatkan minyak sawit, kini tidak hanya sebatas memunculkan tarif barrier maupun non tarif barrier, namun telah melibatkan produsen makanan di tingkat konsumen, dengan melakukan pelabelan bebas minyak sawit.

Pada awal Agustus 2020 lalu, Dewan Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) dibuat geram, lantaran muncul kampanye yang keliru tentang minyak kelapa sawit, dilakukan salah satu produsen makanan asal Chicago, Illinois, Amerika Serikat, Kraft Heinze. Dalam produk yang dipromosikan di Kanada tersebut terang-terangan menyebutkan label “bebas minyak sawit”.

Tanpa menunggu lama, pihak CPOPC pun langsung melayangkan surat protes, lantaran strategi pemasaran boikot minyak sawit ini telah memicu kekeliruan informasi yang merugikan konsumen dan merusak upaya bersama dalam memproduksi dan menggunakan kelapa sawit yang berkualitas, sehat serta berkelanjutan.

Kekecewaan bagi produsen minyak sawit kian dalam terlebih promosi bebas minyak sawit (palm oil free) tersebut dilakukan perusahaan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), merupakan lembaga nirlaba multistakeholder yang mendorong penerapan praktik sawit ramah lingkungan.

Rupanya kejadian tersebut tidak kali ini saja, sebelumnya dilakukan oleh ritel Delheiz Brussel, namun pada Juni 2017 silam, langkah Delheiz Brussel tersebut dilarang untuk memperdagangkan produk-produk berlabel bebas minyak sawit atas perintah pengadilan di Brussel, menyusul adanya gugatan yang dilayangkan Ferrero, perusahaan Italia yang memproduksi selai cokelat Nutella.

Peritel lain yang juga pernah melakukan hal serupa dilakukan raksasa supermarket di Inggris, Iceland co, pada April 2018 lalu, telah menyepakati hanya menjual produk-produk yang tidak mengandung minyak kelapa sawit dimulai tahun 2019. Alasannya minyak sawit menjadi musabab hancurnya hutan hujan di Asia.

Diungkapkan, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Mahendra Siregar, penerapan perdagangan dengan menyebutkan label bebas minyak sawit pada suatu produk tidak dibenarkan oleh regulasi di negara manapun, lantaran label yang dicantumkan dalam suatu produk tidak boleh berisi isu yang tidak benar dan menyesatkan konsumen.

Lebih lanjut tutur Mahendra, diakui atau tidak penerapan perdagangan dengan menyebutkan bebas minyak sawit dilatarbelakangi dan didorong oleh beberapa faktor, diantaranya adalah adanya idealisme suatu kelompok tertentu, sikap proteksionisme dari para ekstrim sayap kanan yang mendukung perlindungan produk pertanian domesti, dan juga kepentingan-kepentingan marketing dengan mengambil peluang demi kepentingan pasar.

“Penggunaan label bebas minyak sawit menjadi salah satu peluang untuk memproteksi produk dalam negeri (di negara-negara Uni Eropa), dan saat ini berkembang serta mulai masuk ke dalam para pembuat kebijakan,” kata Mahendra dalam Webinar Online yang dihadiri InfoSAWIT, pertengahan September 2020 lalu.

Sebab itu semakin tidak mudah untuk melakukan protes kepada pemerintah terkait, lantaran dipastikan tidak akan menemukan jawaban pasti dan kerap masalah tersebut diarahkan untuk diselesaikan secara business to business. (T2)

Terbit di Majalah InfoSAWIT Edisi Oktober 2020

http://store.infosawit.com/


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit