infosawit

Integrasi Sawit Sapi: Slogan dan Potret Perih Petani



Integrasi Sawit Sapi: Slogan dan Potret Perih Petani

InfoSAWIT, JAKARTA - Potret peternak di atas mewakili potret perih kehidupan peternak di Kabupaten Kotawaringin Barat, yang konon pemerintah daerahnya gencar mendorong program unggulan Integrasi Sawit Sapi beberapa tahun terakhir. 

Program ini dicanangkan pemerintah daerah karena mayoritas usaha masyarakat adalah perkebunan kelapa sawit serta terdapat puluhan pabrik kelapa sawit (PKS) yang menghasilkan limbah. Program Integrasi Sawit Sapi sejatinya menyasar sapi milik korporasi maupun peternakan rakyat.

Bagi peternakan milik korporasi yang notabene memiliki sendiri pabrik kelapa sawit, mereka berkembang dengan jumlah dan kualitas ternak yang sangat unggul. Beberapa peternakan besar seperti milik anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) dan Citra Borneo Indah (CBI) Grup mampu melaksanakan program Intergrasi Sawit Sapi secara maksimal. Berlimpahnya sumber pakan yang dimiliki membuat perusahaan bisa memiliki puluhan ribu populasi ternak di kebun sawit mereka.

Lain halnya di kalangan peternakan rakyat, program Integrasi Sawit Sapi masih jauh dari kenyataan. Di kalangan peternakan rakyat, kemampuan peternak rakyat tak kalah dengan peternakan korporasi karena peternak rakyat telah memiliki pengetahuan terakiit pembuatan pakan dari limbah sawit khususnya bungkil dan solid.

Misalnya Sentra Peternakan Rakyat (SPR ) dengan Sekolah Lapang Peternakan Rakyat telah beberapa kali memberi materi pengolahan pakan sehingga tiap peternak memiliki kemampuan untuk membuat pakan dengan bahan limbah perkebunan kelapa sawit yaitu bungkil dan solid.

Saat ini di Kecamatan Pangkalan Lada saja, jumlah peternak berjumlah 450 orang dengan populasi ternak hampir 2.000 ekor, belum lagi di kecamatan-kecamatan lain. Jumlah yang relatif sangat kecil dengan peternakan korporasi. Peternak sulit mengembangkan jumlah populasi yang dimiliki karena keterbatasan sumber bahan pakan.

Akibat sumber bahan pakan yang butuhkan sulit didapat secara resmi, maka mereka menggunakan sistem Spanyol  (Separo Nyolong). Atau bahan-bahan di dapat di pasar gelap. Selain bahan ini belum tentu ada di pasar gelap, namun yang paling ditakuti para peternak adalah risiko mereka akan dianggap sebagai penadah. 

Ironi yang lain adalah harga bungkil yang dibeli oleh peternak lebih mahal daripada harga bungkil di Jawa karena apabila peternak membeli bahan ke pabrik secara langsung, peternak harus memiliki DO yang harganya sudah termasuk biaya angkut dengan kapal. Bungkil kelapa sawit di sekitar pabrik kelapa sawit dibeli oleh peternak sebesar Rp 1.200/kg, sedangkan bungkil kelapa sawit di pasar pulau Jawa hanya dijual Rp 450/kg. (YB. Zainanto Hari Widodo/ Ketua Sentra Peternakan Rakyat -SPR- Berkat Bersama)

Terbit pada Majalah InfoSAWIT Edisi Oktober 2020

Bisa baca di: http://store.infosawit.com/


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit