infosawit

Gempor Sawit Dihajar Pungutan Ekspor



Gempor Sawit Dihajar Pungutan Ekspor

InfoSAWIT - Munculnya kebijakan penyesuaian tarif pungutan ekspor minyak sawit melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) dan Bea Keluar (BK), diyakini bakal menekan daya saing sektor hulu industri kelapa sawit, Pun demikian harga TBS sawit yang berpotensi terlibas, lantaran pola pungutan yang diberlakukan secara progresif.

Selama masa pandemi Covid-19 tercatat banyak sektor industri di Indonesia terpuruk. Namun demikian tidak dengan industri kelapa sawit, lantaran industri tersebut menjadi salah satu dari sekian sektor industri yang tidak terdampak secara signifikan, bahkan kegiatan operasional di perkebunan kelapa sawit tetap mampu berjalan normal, tentu saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

Tahun 2020 ini bahkan dianggap menjadi tahun yang penuh dengan tantangan, selain munculnya pandemi Covid-19, harga komoditas dunia juga mengalami anomali, misalnya saja harga minyak mentah jenis Brent pada Januari-Februari 2020 masih mencapai US$ 60/Barrel, paska Maret 2020 langsung anjlok menjadi sekitar US$ 28/Barrel. Bahkan diprediksi harga minyak mentah dunia masih akan rendah sampai kuartal I-2021 mencapai sekitar US$ 49/Barrel.

Dikatakan Deputi Kemenko Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Musdhalifah Machmud, harga minyak sawit pada awal tahun juga sempat mengalami penurunan, namun semenjak pertengahan tahun terus meningkat, bahkan pada kuartal IV 2020 diperkirakan akan terus meningkat akibat rendahnya produksi minyak kedelai dan rapeseed.

“Merujuk penetapan harga referensi Bea Keluar (BK) CPO pada Desember 2020 oleh Kementerian Perdagangan ditetapkan US$ 870,77/ton,” kata Musdhalifah dalam Sosialisasi dan Press Conference PMK No. 191/PMK.05/2020, yang dilakukan secara virtual dihadiri InfoSAWIT, awal Desember 2020 lalu.

Lebih lanjut kata Musdhalifah, kendati di tahun ini volume ekspor minyak sawit asal Indonesia mengalami penurunan, tetapi dengan harga rata-rata CPO yang terus meninggi, sektor minyak sawit tetap mampu memberikan berkontribusi tinggi terhadap pendapatan devisa negara. Tercatat sampai September 2020 devisa dari minyak sawit mampu mencapai US$ 1,87 miliar, atau meningkat 10% ketimbang bulan Agustus 2020.

Bahkan bila dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, sampai September 2020, devisa dari minyak sawit telah mencapai US$ 18,4 miliar atau lebih tinggi sekitar 14% dibanding tahun 2019 lalu sebanyak US$ 15,8 miliar pada periode yang sama.

Musdhalifah menyebut, semenjak kebijakan industri hilir ditetapkan pada 2011 lalu, komposisi ekspor minyak sawit asal Indonesai mulai bergeser ke sektor hilir. Jika tahun 2006 lalu ekspor minyak sawit masih lebih banyak didominasi minyak sawit mentah (CPO), maka di 2016 ekspor minyak sawit sudah didominasi sektor hilir. “Kami juga tetap melakukan diversifikasi produk hilir,” katanya. (T2)

Majalah InfoSAWIT Edisi Desember 2020

baca di: http://store.infosawit.com/


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit