infosawit

Kritik Pedas Kebijakan Pungutan Ekspor Sawit dan BK



Kritik Pedas Kebijakan Pungutan Ekspor Sawit dan BK

InfoSAWIT, JAKARTA  - Secara umum Pungutan Ekspor yang dikumpulkan BPDP-KS dan Bea Keluar (BK) yang diterapkan pemrintah saat ini telah mendistorsi harga ditingkat produsen dan petani kelapa sawit. Lantaran diungkapkan Dewan Redaki InfoSAWIT, Maruli Gultom, konsumen pembeli minyak sawit mentah (CPO), untuk memenuhi kewajiban Pungutan Ekspor dan Bea Keluar (BK), memotong dari struktur harga CPO.

Lantas, lebih lanjut kata Maruli, produsen hilir sawit juga akan meminta CPO yang dibeli dikirimkan ke pelabuhan ekspor, cara demikian kembali memotong struktur harga CPO. “Celakanya pungutan ekspor, para produsen pembeli CPO tersebut, baik eksportir atau perdagangan untuk memenuhi kewajiban pungutan tersebut dengan memangkas harga,” katanya saat menjadi pembicara pada FGD Sawit Berkelanjutan Vol 7, bertajuk “Meningkatkan Peranan Petani Sawit Rakyat Melalui Subsidi Replanting Dan Subsidi Sarana Prasarana,” Rabu 28 April 2021.

Kata Maruli, sudah diketahui bersama bahwa pungutan ekspor ini digunaka salah satunya untuk subsidi biodiesel sawit, dengan demikian pungutan ekspor tersebut sangat menguntungkan bagi industri hilir sawit, karena bahan baku yang mereka dapatkan menjadi lebih murah. “Sehingga laba mereka bertambah dalam memproduksi migor dan mentega atau olein dan lainnya. Praktik lobi pelaku hilir ini menurut saya, yang mengakibatkan pajak ekspor ini sering muncul,” tegas Maruli.

Pelaku hulu kata Maruli, kerap dituding bila terjadi masalah, misalnya saja merujuk pengalaman dia, setiap tahun menjelang lebaran pelaku sawit akan dipanggil karena menghilangnya CPO di pasaran, padahal pelaku hulu sawit telah menjualnya ke konsumen. “Kala itu Menterinya Rini Soemarno, saya bilang kami telah jual CPO itu dan tidak bisa kami simpan lama di tangki karena busuk, kalau hilang di pasaran maka tanyakan pada pelaku hilir,” cerita Maruli.

Lebih lanjut tutur Maruli, terciptanya harga CPO itu merupakan murni hukum pasar, yakni pasokan dan permintaan, sehingga jangan kemudian diintervensi dengan kebijakan dan politik. “Siapa yang bisa menjamin bahwa harga minyak sawit naik karena biodiesel, saya tidak percaya dan tidak ada rumusnya yang menghitung itu, jadi kontribusi biodiesel dalam menaikan harga CPO sekian persen itu omong kosong,” kata Maruli. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit