infosawit

Lima Pesan Untuk Sawit dari Rachmat Witoelar



Lima Pesan Untuk Sawit dari Rachmat Witoelar

InfoSAWIT, JAKARTA - Kendati Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) dan Badan Pengelola Penurunan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (BP-REDD+) telah dibubarkan lewat Perpres No 16/2015, namun kerja-kerja diplomasi perubahan iklim tetap berlanjut, diplomasi perubahan iklim pun sebelumnya pernah dibawah kendali mantan Ketua Harian DNPI Rachmat Witoelar.

Sejalan dengan hasil konferensi di Perancis yang mana Indonesia telah menetapkan bakal mengurangi emisi karbon sebanyak 29% pada 2030, dimata pria kelahiran Tasikmalaya 74 tahun silam itu ternyata memiliki potensi berkontribusi dalam mengurangi emisi, apalagi nilai emisi dari kebakaran ditengarai menempati posisi tertinggi di Indonesia.

Kata Rachmat, sebaiknya pihak luar bisa melihat langsung proses produksi dan kondisi perkebunan kelapa sawit, sehingga informasi yang simpang siur bisa diluruskan. “Sebab masih ada anggapan sawit diperluas dengan cara memotong hutan,” katanya, belum lama ini di Jakarta.

Kendati bukan barasal dari industri kelapa sawit, Rachmat bisa memahami dan mengerti jika sawit tidak lagi membuka hutan, apalagi dikuatkan dengan pernyataan salah satu pelaku perkebunan kelapa sawit yang menyatakan bahwa sawit tidak lagi membuka hutan. Sebab itu Rachmat pun meminta jaminan, jika kelapa sawit tidak melakukan tindakan yang dituduhkan.

Bisa jadi dirinya langsung percaya, namun demikian Rachmat mempertanyakan apakah konsumen sawit di dunia juga demikian? Bisa jadi pernyataan itu dianggap bohong. Oleh karena itu, para pelaku perkebunan kelapa sawit dipersilahkan untuk bisa memberikan informasi yang sejelas-jelasnya. 

Sebab itu dirinya juga menitipkan lima hal kepada para pelaku perkebunan kelapa sawit nasional, diantaranya pertama, guna menjawab secara substansial terkait tuduhan, termasuk memberikan informasi bahwa sawit tidak berkontribusi pada peningkatan emisi karbon.

Kedua, produsen kelapa sawit didorong untuk menerapkan intensifikasi ketimbang ekstensifikasi, ketiga, industri ini diyakini telah menjadi tulang punggung ekonomi bangsa, ke empat, memperkuat manfaat langsung terhadap masyarakat sekitar kebun, Lantas kelima, penerapan High Carbon Stock (HCS), seberapa besar pohon sawit bisa menyerap karbon, perlu dihitung dengan benar. “Emangnya gratisan kita bisa menyerap karbon itu,” tutur alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Meluruskan persepsi pun dianggap sebagai agenda penting, bahkan Rachmat menantang pelaku sawit untuk bisa mengundang para penolak sawit dan wartawan ke kebun, dirinya mengakui tidak bisa menjelaskan dengan mendalam apalagi bukan berasal dari industri tersebut. Tutur rachmat, pelaku sendirilah yang bisa menjelaskan dengan detil.  “Kalaupun saya simpati tidak bisa juga saya bilang gini gitu, atau sebaliknya kalau mereka berani mereka bisa undang wartawan atau perwakila negara barat  ke kebun gitu,” katanya menyudahi perbincangan ringan dengan redaksi InfoSAWIT. (T2)

Terbit pada majalah InfoSAWIT Edisi Maret 2016

Link: http://store.infosawit.com/


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit