infosawit

NGO Green Imperialis, Kelapa Sawit Vs Kedelai



NGO Green Imperialis, Kelapa Sawit Vs Kedelai

InfoSAWIT, JAKARTA - Saat ini minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia telah menggeser posisi minyak kedelai sebagai minyak nabati utama di dunia, sementara produksi kedelai dan tebu dari Brazil adalah ancaman langsung bagi industri bio-fuel mereka. Ketidak pahaman mengenai permasalahan yang sesungguhnya, dimanipulasi oleh NGO berkedok lingkungan untuk menyesatkan opini publik, bahkan berhasil menyesatkan para pembuat kebijakan di pemerintahan.

Agar tidak mudah dibohongi dan dimanipulasi oleh aktivis LSM berkedok lingkungan, lokal maupun asing, masyarakat perlu dibekali pengetahuan bahwa terjadinya pemanasan global adalah masalah emisi gas karbon dioksida, BUKAN masalah hutan ataupun gambut.

 

Terjadinya Pemanasan Global dan Perubahan Iklim.

1. Perubahan Iklim (Climate Change) terjadi karena meningkatnya suhu bumi (Pemanasan Global /Global Warming).

2. Suhu bumi meningkat (Global Warming) secara relatif perlahan namun pasti, dikarenakan panas yang diterima bumi dari matahari tidak dapat dipancarkan kembali ke luar atmosfir.

3. Panas yang diterima bumi dari sengatan matahari tidak dapat dipancarkan kembali keluar atmosfir dikarenakan terhalang oleh gumpalan Gas Rumah Kaca (GRK) yang semakin menebal menggantung di atas atmosfir.

4. GRK terbentuk dan semakin menebal oleh polusi karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke udara dari berbagai sumber.

5. Sumber utama polusi karbon adalah gas buang dari alat transportasi (darat, laut, dan udara), serta pabrik-pabrik pembangkit listrik dan industri.

Demikian penjelasan awam proses sebab-akibat terjadinya Pemanasan Global dan Perubahan Iklim. Ringkasnya, polusi udara oleh pabrik-pabrik dan alat transportasi telah mengakibatkan terjadinya Pemanasan Global dan Perubahan Iklim.

Pemanasan Global dan Perubahan Iklim ini telah mengancam eksistensi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya sejagad raya.

Setelah menjawab pertanyaan “apa” (Pemanasan Global), “mengapa” (polusi karbon), “siapa” (industri, transportasi), pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah “dimana” (where), dan “berapa banyak” (how much). Dengan mudah semua orang, termasuk anda, dapat menjawab pertanyaan: dimana di muka bumi ini terdapat mobil, bus, pesawat terbang, kapal laut, serta pabrik terbanyak jumlahnya? Di Indonesia atau di Eropa? Di Jakarta atau di Detroit?

 

Negara Kaya, Biang-keladi Pemanasan Global.

Menurut data yang dirilis oleh PBL Netherlands Environmental Assessment Agency, ternyata 65% atau 20,4 milyar ton dari total polusi karbon dioksida dunia diproduksi oleh hanya 10 negara! Mereka adalah negara-negara kaya termasuk China, plus India.

Pada tahun 2009 Amerika Serikat, yang penduduknya tidak sampai sepertiga jumlah penduduk India, menghasilkan pencemaran CO2 sebanyak 5,3 milyar ton, 3 kali jumlah pencemaran karbon oleh India. Per penduduk Amerika Serikat pertahunnya berkontribusi sebesar 17,3 ton CO2  pencemaran udara, sementara Uni Eropa pada angka 7,7 ton.

Sebelumnya, pada tahun 1996, pencemaran karbon dioksida dunia melonjak menjadi 22,6 milyar ton dari 21,3 milyar ton  tahun sebelumnya. Kecemasan atas malapetaka yang dapat terjadi apabila peningkatan pencemaran karbon ini dibiarkan berlanjut telah mendorong negara-negara industri maju berkumpul di Kyoto pada tahun 1997 dan mendeklarasikan “Kyoto Protocol” yang menargetkan penurunan pencemaran CO2 menjadi 5,2% dibawah tingkat pencemaran tahun 1990. Target ini harus dicapai antara tahun 2008 – 2012. Namun, apa yang terjadi kemudian?

Setelah kesepakatan Protokol Kyoto (1998), pada tahun 2009 hanya oleh 10 negara saja sudah memproduksi 20,4 milyar ton CO2 dari total emisi karbon sedunia 31,3 milyar ton. Dibanding 12 tahun sebelumnya saat mereka mendeklarasikan Kyoto Protocol dimana emisi karbondioksida dunia adalah 24,2 milyar ton, ini adalah peningkatan sebesar 31% !!

Nyata sekali negara negara kaya, dimana para NGO lingkungan yang berhati mulia bermarkas, sama sekali tidak peduli dengan pencemaran lingkungan akibat perbuatan mereka.

Bukannya mengurusi peningkatan polusi karbon di negerinya, para NGO ini justru malah sibuk berusaha memutar balikkan fakta. Mereka menciptakan berbagai cara dan rumus menghitung polusi karbon mulai dari pengolahan gambut, pembukaan hutan, dan lainnya untuk membuktikan bahwa Indonesia adalah pencemar karbon terbesar dunia. Emisi gas karbon Indonesia yang pada data grafik Emisi Karbon di dunia hanya seukuran garis tipis, mendadak dinobatkan sebagai pencemar karbon terbesar ke-4 dunia. Luar biasa!!

 

Kambing Hitam: HUTAN.

Ketika tingkat pencemaran yang dihasilkan oleh negara-negara industri maju (baca: Eropa, Amerika, Australia) telah mencapai titik kritis, yang menyalakan lampu merah tanda bahaya terjadinya Pemanasan Global yang berlanjut pada Perubahan Iklim, mereka mulai mencari kambing hitam. Para Phd. dan Doktor di NGO yang mereka biayai dengan sigap membelokkan perhatian dunia pada keberadaan hutan untuk menyedot kotoran karbon yang mereka buang. Dan hutan itu berada di daerah tropis, utamanya di Indonesia dan Brazil.

Menyedihkan, sementara negara negara Barat masih kental sifat penjajahnya, sebagian bangsa kita masih kental pula perasaan inferior bangsa terjajah. Tak satupun pemimpin kita yang berani berkata: “Hutan kami, kami yang atur. Kami berdaulat atas hutan kami!”

Seyogyanyalah hutan Indonesia dimanfaatkan untuk kelestarian alam negeri sendiri serta untuk peningkatan ekonomi nasional demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Hutan Indonesia bukan untuk membersihkan kotoran karbon dari negara negara kaya!

Di bawah tekanan NGO dan desakan pemerintah Norwegia dengan iming-iming hadiah US$ 1 milyar, dua Presiden RI manut dan menandatangani Moratorium Pemanfaatan Hutan Indonesia dan kini akan 3 kali perpanjangan masa berlakunya.

Indonesia, yang hutannya terluas ke-9 di dunia, disuruh memoratorium pemanfaatan hutannya oleh negara yang nyaris tak punya hutan! iming-iming uang US$ 1 milyar tersebut tidak pernah diterima meski moratorium sudah diperpanjang mau tiga kali.

Kalaulah pemimpin kita pintar mereka akan bilang Norwegialah yang harus memberlakukan Moratorium Pemanfaatan Hutan di negerinya. Betapa tidak, menurut CIA Fact Book 2011, hanya 29% permukaan tanah Norwegia yang ditutupi hutan, sementara hutan Indonesia menutupi 46% luas daratannya. Di sisi lain, hutan Indonesia jauh lebih luas daripada hutan Norwegia yang hanya 94.000 ha  dibanding hutan Indonesia yang 890.000 ha.

Dunia sudah terbalik. Siapa harus mencontoh siapa? Siapa inferior, siapa superior? Cobalah bandingkan kelestarian hutan Indonesia dengan Eropa dan negara Barat lainnya. Terhadap luas daratan, tutupan hutan di Perancis 37% – itupun sudah termasuk wilayah jajahannya di seberang lautan, Itali 35%, Luxembourg 34%, Selandia Baru dan Jerman 32%, Swiss, Kanada dan Amerika Serikat 31%, Belgia 22%, Inggris dan Denmark 12%, Australia 19%, Irlandia 11%, dan Belanda hanya 9%, jauh dibawah Indonesia yang tutupan hutannya 46%.

Dengan fakta-fakta tersebut, NGO Lingkungan dari negara negara miskin hutan tersebut. masih berani mengatakan bahwa mereka lebih mengerti dan sadar lingkungan daripada kita. Mereka ingin mengajari, mengatur dan mendikte bagaimana mengelola hutan kita. Padahal merekalah yang harus belajar dari kita bagaimana melestarikan hutan. Mereka, para NGO Lingkungan dari negara-negara miskin hutan tersebut. bukan pejuang lingkungan. Mereka adalah ujung tombak kepentingan bisnis negara-negara green imperialists.   (Maruli Gultom/ Praktisi Perkebunan Kelapa Sawit)

Terbit pada majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2017

Http://store.infosawit.com/


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit