infosawit

Amerika Serikat Masih Butuh Minyak Sawit



Amerika Serikat Masih Butuh Minyak Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Kendati Amerika Serikat (AS) adalah produsen jagung dan kedelai di dunia, tapi belum mampu memenuhi permintaan konsumsi domestik. Impor pun dilakukan untuk memenuhi pasokan. Dimana minyak Kedelai mengusai pangsa pasar, tetapi faktanya minyak sawit masih tetap dibutuhkan.

Pada tahun 2020 lalu ada beberapa perubahan yang mendasar. Perubahan paling nyata ialah adanya pandemi Covid-19. Selain itu struktur pasar ditandai dengan adanya aliran dana ke komoditas pangan/pertanian, adanya modal murah yang dikonfirmasi dari The FED, nilai tukar tercatat tinggi untuk Real-US$ dan Ruble-US$, kembalinya RRC sebagai negara pengimpor, cuaca yang mendukung penyesuaian pasokan dan aliran permintaan, serta kejadian tak biasa di mana pasar energi tidak menunjukkan relasi dengan harga minyak nabati.

Dikatakan Managing Director ConsiliAgra, Emily French, impor minyak nabati Tiongkok tercatat meningkat (sampai 9,6 juta ton) dan impor oilseed meningkat yang didominasi minyak kedelai. Tiongkok mengimpor grain sebetulnya baru melonjak satu dekade lalu dan menurut prakiraan USDA impor grain akan mencapai 33,7 juta ton.

Pasokan kedelai dunia cenderung stabil sejak tahun 2015/16, yang menimbulkan pertanyaan adalah mengenai arah pertumbuhan industri biodiesel. Permintaan industri meningkat 3% dan sejak 2005-2006 menunjukkan peningkatan pertumbuhan, namun peningkatan ini hanya menyumbang sekitar 18,4% dari total permintaan minyak kedelai. 

Di pasar Amerika Serikat stok minyak kedelai relatif stabil. Tingkat produktivitas kedelai dari Amerika Serikat menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu. Pemerintahan Biden yang lebih mendukung energi hijau atau bahan bakar terbarukan, menarik untuk diamati, apakah permintaan minyak kedelai bisa meningkat 10,3% terus dibandingkan heating oil yang turun 35,3%, minyak jenis Brent yang turun 30,4% serta WTI turun 29,6%.

Lebih lanjut tutur Emily, minyak kedelai terus mendominasi pasar Amerika Serikat sekitar 70,4% pangsa pasar minyak nabati, namun tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan domestik. Sementara itu kebutuhan minyak kanola Amerika Serikat diperkirakan meningkat 3,8% dan kebutuhan minyak sawit cenderung tetap.

“Namun minyak sawit masih akan menjadi penentu pasar minyak nabati,” katanya dalam saat menjadi pembicara dalam Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020, New Normal yang diselenggarakan secara virtual, dihadiri InfoSAWIT. (T2)

Lebih Lengkap Baca Majalah InfoSAWIT Edisi Maret 2021

Http://store.infosawit.com/


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit