infosawit

Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan Didominasi 5 Negara



Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan Didominasi 5 Negara

InfoSAWIT, JAKARTA - Hingga saat ini skema minyak sawit berkelanjutan yang diadopsi pelaku perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak hanya berasal dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), tetapi juga ada dari Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Hanya saja skema ISPO terbatas pada areal perkebunan kelapa sawit dan belum menyentuh hingga rantai pasok, sehingga standar ini belum dapat digunakan untuk industri, kendati saat ini kabarnya sedang dalam proses pembuatan standar ISPO untuk rantai pasok dilakukan oleh Kementerian Perindustrian.

Merujuk pada data RSPO, terdapat 5 negara terbesar pemegang sertifikat RSPO diantaranya pertama, Indonesia tercatat memproduksi CSPO sebanyak 10 juta ton dari total produksi CSPO di didunia, dengan areal seluas 51% dari total areal tersertifikat RSPO.

Lantas disusul Malaysia dengan produksi CSPO sejumlah 4,6 juta dari total produksi CSPO di dunia, dengan areal seluas 29% dari total areal tersertifikat RSPO, lantas Papua New Guinea sekitar 915 ribu ton, Thailand sebanyak 83 ribu ton, dan Kamboja sejumlah 12,8 ribu ton.

Dikatakan Direktur Assurance RSPO sekaligus Plt Deputi Direktur RSPO Indonesia, Tiur Rumondang,, sejatinya dengan suatu perusahaan perkebunan kelapa sawit atau rantai pasoknya, mengikuti standar RSPO maka juga harus mengikuti hukum yang berlaku terkait perkebunan kelapa sawit dalam negara tersebut.

Ini dilakukan lantaran RSPO mengadopsi hukum negara produsen kelapa sawit setempat. “Kami melakukan penegakan sistem verifikasi, memang bukan yang terbaik tetapi kami upayakan yang terbaik. Kami juga bisa memberikan akses para pemain sawit Indonesia ke pasar global untuk minyak sawit berkelanjutan, secara umum standar kami memiliki standar yang umum,” tandas Tiur, dalam acara webinar yang dihadiri InfoSAWIT. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit