infosawit

Perkuat Petani Sawit Terapkan Praktik Sawit Berkelanjutan, SPKS Paser Lakukan Pendampingan



Perkuat Petani Sawit Terapkan Praktik Sawit Berkelanjutan, SPKS Paser Lakukan Pendampingan

InfoSAWIT, PASER -  Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Kabupaten Paser terus memperkuat petani sawit swadaya anggotanya di wilayah Kabupaten Paser, terutama untuk mempersiapkan anggotanya agar bisa menjankan sistim perkebunan sawit berkelanjutan dan agar ada kemitraan antara petani sawit dan perusahan perkebunan sekitar.

Diungkapkan Ketua SPKS Paser, Iwan Himawan, saat ini ada program yang di jalankan bekerjasama dengan Strengthening Palm Oil Sustainability (SPOS) Indonesia untuk mendampingi petani sawit mempersiapkan supaya mereka bisa masuk dalam sistim sertifikasi ISPO maupun RSPO, kedepanya serta bisa mendorong kemitraan antara petani swadaya dan perusaan di sekitar petani yang selama belum ada.

Tercatat petani telah membentuk  Koperasi Produsen berkah Taka Mandiri, koperasi ini memiliki anggota petani swadaya di 4 desa yaitu desa Kayungo, Atang Pait, Long Ikis dan Krayan Bahagia dengan jumlah anggota saat ini sekitar 250 petani swadaya dan terus akan di tambah karena dalam proses pendaftraan anggota juga.

Pembentukan koperasi ini sesuai dengan permintaan dari petani sawit sekitar prosesnya pun di lakukan mulai dari bawah melalui rembuk tani di desa ini di lakukan agar tidak hanya menjadi keinginan dari SPKS sebagai organisasi petani sawit tetapi kami ingin koperasi ini menjadi kesepakat Bersama antara sesama petani sawit, kalau ini dari bawah tentunya untuk menghidari koperasi-koperasi yang dulu-dulu yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.

Lebih lanjut tutur Iwan, pembentukan Koperasi Produsen berkah Taka Mandiri ini sangat di dukung oleh Dinas Perkebunan dan Dinas Koperasi bahkan dalam pembentukannya ada pendampingan langsung dari pihak-pihak dinas tersebut.

Koperasi ini telah memiliki beberapa rencana diantaranya melengkapi kebutuhan berkas-berkas agar bsia di mitrakan dengan perusahan perkebunan sekitar sesuai dengan petunjuk Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2018 tentang Tata Niaga dan Pembatasan Angkutan Buah Sawit, misalnya terkait data petani anggota kelompok harus jelas dan harus ada STDB petani sawit. “Kemitraan ini penting karena selama ini petani menjual di abwah harga yang di tetapkan pemerintah kalau harga di pemerintah Rp. 2000/kg/TBS maka di petani swadaya menjual di lodingram hanya sekitar Rp. 1600-1700/kg/TBS, kan ini petani merugi  kalau tidak ada kemitraan tersebut,” tutur Iwan kepada InfoSAWIT.

Pembentukan koperasi ini juga guna mempersiapkan petani-petani anggota untuk bisa masuk dalam sisitim sertifikasi sawit berkelanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Terlebih untuk ISPO, pada tahun 2025 bakal dwajibkan penerapannya oleh pemerintah Indonesia. “Kami mendukung kebijakan ini dengan memastikan anggota kami misalnya harus memiliki koperasi agar bisa lebih cepat untuk menjalankan sistim sertifikasi ISPO dna kami lihat kalau petani tidak memiliki kelembgaan maka akan sulit untuk menerpakan ISPO,” tutur Iwan.

Sementara Kabid perkebunan kabupaten Paser mengatakan, pihaknya akan sangat mendukung Langkah yang di lakukan oleh SPKS dengan beberapa kegiatan yang di alkukanya mulai dari pendampingan penerbitan STDB, pelatihan budidya petani sawit serta sampai pada pembentukan koperasi. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit