infosawit

Membuka Lahan Sawit Sesuai Kaidah



Ilustrasi Pembukaan Lahan
Membuka Lahan Sawit Sesuai Kaidah

InfoSAWIT, JAKARTA - Calon pekebun kelapa sawit tidak selalu beruntung dengan memiliki lahan yang ideal untuk pertanaman kelapa sawit, begitu pula dengan kondisi lingkungan sekitar khususnya penduduk. Namun, kondisi tidak ideal itu bukan berarti lantas membubarkan rencana pembukaan lahan untuk kelapa sawit.

Sepanjang lokasi itu beriklim (agroklimat) sesuai kebutuhan tanaman sawit untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik,  juga lingkungan sekitar aman-aman saja, silakan teruskan rencana itu, jangan surut langkah, kendati lahan yang tersedia kurang subur.

Ketidaksuburan lahan tentunya membawa konsekuensi, yakni Anda mesti mengeluarkan biaya berlebih sepanjang usia tanaman sebelum dan setelah berproduksi. Biaya itu untuk pemupukan ekstra—tentunya tetap sesuai dengan petunjuk dan rekomendasi yang ada—agar  produktivitas tanaman senantiasa  terjaga baik.

Berbeda jika kondisi tanah yang dipersiapkan untuk lahan sawit itu berupa tanah subur sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanaman. Itupun pemupukan harus tetap dilakukan intensif. Pembukaan lahan juga tidak boleh secara serampangan, melainkan sesuai kaidah, yakni tanpa membakar semak dan hutan. Di Negara kita cara ini disebut pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB), sedangkan Malaysia zero burning. Pembukaan areal perkebunan dengan cara membakar hutan telah lama dilarang, sesuai dengan SK Ditjen Perkebunan Nomor 38 Tahun 1995.

Dalam pembukaan areal perkebunan intinya tidak boleh menghilangkan lapisan olah tanah (top soil). Selain kualitas tanah, aspek lain yang harus diperhatikan, yakni tofografi atau kemiringan lahan yang nantinya berpengaruh terhadap proses pengangkutan sarana produksi seperti pupuk dan hasil panen. Sebaiknya tanaman sawit berada di lahan berkemiringan maksimal 22 derajat guna memudahkan pengangkutan.

Tidak kalah penting, Anda mesti  mengetahui dengan persis adat istiadat  masyarakat sekitar. Kebun sawit Anda kelak bisa langgeng dan aman-aman saja jika masyarakat sekitar menerima kehadiran kebun sawit di wilayah mereka, terlebih lagi masyarakat turut menerima manfaat secara ekonomi.   

Kelapa sawit tentunya akan  tumbuh optimal dengan lingkungan yang memenuhi syarat. Makanya menentukan lokasi sebagai langkah awal yang sangat penting. Pilihlah lokasi kebun yang  tanahnya relatif datar atau sedikit bergelombang, sehingga memudahkan pengawasan kebun, tidak boros pupuk, serta memudahkan pengangkutan sarana produksi dan hasil panen.

Sawit akan berproduksi optimal jika berada di lahan yang lokasinya pada ketinggian 0-500 meter diatas permukaan laut (dpl), curah hujan merata (1.500-3.000 mm/tahun), temperatur udara 22-24 derajat, kelembapan berkisar 80-90%, serta tanah relatif gembur.

Lahan Bekas Nonsawit

Berbeda dengan pembukaan lahan  baru sama sekali, untuk pembukaan lahan bekas perkebunan tanaman nonsawit (konversi) dan areal peremajaan tanaman sudah tua/tidak produktif lagi (replanting) memiliki cara tersendiri.

Pembukaan areal demikian diakui lebih mudah, lantaran jumlah pohon yang akan ditebang relatif lebih sedikit dan seragam. Di luar itu jalan-jalan dan petak-petak perkebunan sudah terbentuk. Pembukaan dapat dilakukan dengan cara mekanis dan kimiawi, tergantung jenis tanaman aslinya.

Sebagai catatan, untuk mengurangi pembiakkan hama, penyakit, dan mempercepat pembusukan, terlebih dahulu pokok-pokok pohon diracun sebelum ditebang, dikumpulkan, dan dibakar. Berikutnya melakukan penyiapandan pengawetan tanah. Pekerjaan ini mencakup pembukaan teras, benteng, rorak, parit drainase, dan menanam tanaman penutup tanah. Pengawetan tanah bertujuan untuk mencegah erosi,  memperbaiki penyediaan air, pengikat  nitrogen (N), dan mempermudah pelaksanaan panen.  (T2)

Sumber: Majalah InfoSAWIT edisi Maret 2013

Https://store.infosawit.com

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit