infosawit

Memastikan Pekerja Perempuan Di Sawit Dilindungi



Dok. InfoSAWIT
Memastikan Pekerja Perempuan Di Sawit Dilindungi

InfoSAWIT - Sektor Perkebunan kelapa sawit kerap identik dengan para pekerja yang memiliki tenaga kuat, tahan terik panas matahari, dan mampu membawa tandan buah segar sawit yang memiliki beban berat, kesemua itu melekat pada diri laki-laki. Namun faktanya tidak demikian, lantaran para pekerja di perkebunan kelapa sawit juga dilakoni para perempuan.

Dalam banyak perkebunan kelapa sawit di Indonesia, menunjukkan bahwa perkerja perempuan banyak terlibat diberbagai level pekerjaan di sektor perkebunan kelapa sawit. Kendati memang tidak umum nampak lantaran biasanya pekerja perempuan mempunyai keterlibatannya untuk beberapa pekerjaan semisal melakukan pemupukan, penyiangan, penyemprotan, dan berpartisipasi dalam pemungutan brondolan sawit jatuhan.

Pekerja perempuan juga kental dalam kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) lewat isu penggunaan pekerja anak, dan isu gender, kendati isu ini masih dalam perdebatan dan perlu dikaji lebih dalam di lapangan.

Diakui atau tidak, disatu sisi memang sektor sawit dianggap mampu memberikan dampak positif bagi pembukaan lapangan kerja di sentra perkebunan kelapa sawit, namun disisi lain memuculkan beragam dugaan, misalnya pasokan tenaga kekerja di sektor perkebunan kelapa sawit dianggap tidak hanya didapat sesuai regulasi, melainkan juga diduga diperoleh dengan menabrak batas regulasi untuk pemanfaatan tenaga pekerja perempuan.

Bahkan muncul dugaan perlakuan yang tidak adil, tenaga kerja yang belum memperoleh haknya sesuai regulasi umumnya mereka adalah para perempuan. Di sektor perkebunan kelapa sawit, perempuan memiliki keterlibatan yang cukup banyak sehingga mengharuskan mereka memperoleh perlindungan dan persamaan hak dengan pekerja laki-laki (keadilan gander). (Baca Majalah InfoSAWIT Edisi September 2020, Potret Gender Di Kebun Sawit - Tangan-Tangan Elok Yang Tak Nampak)

Akhir 2020 lalu, bahkan mucul laporan tentang perlakuan tidak adil terhadap pekerja perempuan di sektor perkebunan kelapa sawit oleh kantor berita Amerika Serikat, Associated Press (AP). Dalam artikel bahkan mengutip cerita-cerita perlakuan tidak adil tersebut, sayangnya dalam laporan masih bias dan tidak menjelaskan lokasi ataupun nama perusahaan perkebunan tempat kejadian.

Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) pun menganggap, artikel tersebut terkesan subjektif dan tidak secara menyeluruh dinformasikan, jelas informasi ini masih bias dan tidak jelas fakta pendukungnya, padahal perilaku tersebut bertentangan dengan regulasi tentang pekerja perempuan yang diadopsi Indonesia.

Perilaku yang telah disampaikan pun sangat dilarang, bahkan jika ada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memperlakukan pekerja perempuan secara sewenang-wenang tentu akan mendapatkan sanksi tegas dari pemerintah.

Kendati diakui masih butuh banyak perbaikan, namun demikian bukannya praktik pengelolaan pekerja perempuan di sektor pekebunaan kelapa sawit seburuk apa yang ditudingkan, faktanya dibeberapa perkebunan kelapa sawit menunjukkan bahwa perkerja perempuan bisa berdampingan dengan pekerja laki-laki.

Bahkan di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Sumatera Selatan, menampilkan aktivitas pekerja perempuan di perkebunan kelapa sawit tanpa merasa dikucilkan, terintimidasi, terpinggirkan atau terdiskriminasi.

Faktanya, secara nyata hak-hak perempuan dan kesetaraan gender di tempat kerja, dan dalam industri yang didominasi pria tersebut, bisa bekerja tanpa takut akan diskriminasi dan memperoleh kesetaraan dalam bekerja.

Diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, saat ini isu tenaga kerja telah menjadi perhatian semua pihak, tidak hanya meliputi isu tenaga kerja secara umum, tetapi juga mengenai isu tenaga kerja peremuan.

Lebih lanjut tutur Joko, sejatinya isu tenaga kerja ini telah muncul semenjak tahun 2016 lalu oleh Lembaga Sosial Masyarakat  (LSM) Amnesti Internasional, yang menuding  sektor perkebunan kelapa sawit menjadi bagian eksploitasi buruh sawit.

Akibat pemberitaan menyangkut isu pekerja perempuan dan anak ini, pula berdampak pada perdagangan minyak sawit mentah (CPO) global, misalnya saja Amerika Serikat (AS) langsung melarang impor minyak sawit asal Malaysia, terkait isu tersebut.

Kata Joko, isu pekerja menjadi salah satu model kendala dagang yang saat ini mesti dihadapi, sebab itu pihaknya memiliki perhatian khusus mengenai isu tersebut. Sebelumnya tiga tahun lalu GAPKI bersama CNV dan ILO terus melakukan komunikasi intens terkait isu tersebut.

“Tidak kita pungkiri bahwa masih ada kekurangan, tetapi dengan adanya semangat untuk memperbaiki keadaan tenaga kerja di sektor sawit,  menjadi modal untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik, baik dari sisi hubungan pekerja dengan perusahaan maupun terkait keselamatan pekerja dan seterusnya,” katanya saat Peluncuran Buku Panduan Praktis Perlindungan Hak-Hak Pekerja Perempuan Di Perkebunan Sawit, akhir Maret 2021, yang dihadiri InfoSAWIT.

Baca Selengkapknya pada Edisi April 2021

https://store.infosawit.com/

 


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit