infosawit

Perkebunan Kelapa Sawit Ternyata Peduli Pekerja Perempuan Loh



Ilustrasi Kebun Sawit
Perkebunan Kelapa Sawit Ternyata Peduli Pekerja Perempuan Loh

InfoSAWIT, JAKARTA -  Dikatakan Group Sustainability Lead, Cargill Tropical Palm, Yunita Widiastuti, Cargill Tropical Palm terbentuk pada tahun 2015 untuk membawahi bisnis Cargill di bidang produksi minyak kelapa sawit. Berkantor pusat di Singapura dan memiliki hampir 18.000 karyawan.

Lebih lanjut kata Yunita, dari total karyawan tersebut sebanyak 11% adalah pekerja perempuan dan merupakan pekerja dengan level supervisor tingkat 2 keatas. Sementara untuk level manger 1&2 mencapai 3,3%.

Tutur Yunita, keterwakilan perempuan di perusahaan dapat meningkatkan kesadaran terkait isu-isu gender, serta mendorong perbaikan kondisi kerja bagi pekerja perempuan, sebab itu Tahun 2025, CTP mentargetkan 22% perwakilan perempuan di level manager.

Kondisi ini bisa berjalan lantaran, Cargill telah berkomitmen untuk melindungi hak asasi manusia,  memperlakukan orang dengan martabat dan rasa hormat ditempat kerja dan di masyarakat di mana perusahaan melakukan bisnis, dan beroperasi secara bertanggung jawab di keseluruhan industri pertanian, pangan, keuangan, dan industri lainnya.

“Cargill percaya rantai pasok berkelanjutan harus menghormati hak asasi manusia. Kami meyakini pentingnya seluruh pelaku di rantai pasok – industri, pemerintah, LSM  – bekerja sama untuk meningkatkan  kesejahteraan masyarakat di area pedesaan, meningkatkan pendapatan, dan memastikan anak-anak dan orang dewasa tidak diperlakukan secara ilegal, kasar atau kerja paksa,” tutur Yunita, dalam Webinar FGD Sawit Berkelanjutan Vol 6, bertajuk “Ketangkasan Perempuan Sawit Indonesia”, di Jakarta, April 2021 lalu, yang diadakan InfoSAWIT & RSPO.

Bahkan kata Yuni, managemen Cargill komitmen serta menghormati dan melindungi hak asasi manusia termasuk penghapusan diskriminasi, promosi persamaan hak, dan kepatuhan terhadap persyaratan tenaga kerja yang legal dan sesuai dengan peraturan.

Peran CTP dalam melindungi perempuan ini nampak dari nilai-nilai yang perusahaan pegang, diantaranya pertama, diterapkannya komitmen “doing the right thing and  put people first” yang kemudian ini menjadi panduan untuk melindungi, mendukung dan memprioritaskan kesejahteraan karyawan.

Lantas kedua, kebijakan/ komitmen tertulis terkait perlindungan pekerja perempuan telah tersedia dan digunakan sebagai panduan, training dan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran karyawan yang telah dilakukan secara reguler.

Ketiga, pemantauan dan penilaian (audit) secara regular dilaksanakan untuk memastikan kepatuhan. Keempat, komitmen perusahaan dapat meningkatkan  kenyamanan dalam bekerja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas.

Perusahaan juga tercatat telah membentuk Komite Gender, sehingga kata Yunita, menjadi dasar dan panduan bagi perusahaan untuk memperlakukan manusia dengan hormat dan bermartabat menjadi landasan perlindungan karyawan perempuan.

Sebab itu Komite Gender dibentuk di setiap lokasi perusaahaan, lantas, Komite Gender memiliki struktur organisasi resmi yang dipimpin oleh karyawan perempuan, bahkan Komite Gender memiliki anggaran dan kewenangan untuk pengambilan keputusan guna melakukan berbagai program kerja seperti pelatihan keterampilan, penyuluhan kesehatan, peningkatan kesadaran tentang keselamatan, seminar terkait peran perempuan, menjalankan program Cargill Care sebagai bentuk kepedulian karyawan terhadap lingkungan sekitar. “Dimana pengurus Komite Gender juga diberikan pelatihan untuk meningkatkan kecakapan dalam mekanisme pengajuan keluhan dan resolusi konflik,” kata Yunita.

Lantas, bekerjasama dengan Pemerintah membangun Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan (RP3), yaitu tempat, ruang, sarana, dan/atau fasilitas yang disediakan untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak terhadap pekerja perempuan di tempat kerja.

Guna memenuhi target 22% perwakilan perempuan di level manager, pihak perusahaan pula tercatat telah melakukan upaya guna terwujudnya target tersebut, misalnya pertama, dengan memastikan pekerja perempuan mendapatkan akses yang baik dan setara dalam peningkatan kemampuan serta kenaikan pangkat.

Kedua, memastikan tidak terjadinya diskriminasi berbasis gender dalam penerimaan pekerja. Ketiga, pada tahun 2020 lalu, perusahaan merekrut Estate Manager perempuan pertama di industri perkebunan kelapa sawit. “Dia bertanggung jawab mengelola 2.200 Ha kebun dengan lebih dari 100 karyawan,” tutur Yunita. (T2)

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Mei 2021

https://store.infosawit.com/


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit