infosawit

Pengelolaan Nephrolepis Bisserata (Pakis) di Perkebunan Kelapa Sawit



Foto Dok. Penulis
Pengelolaan Nephrolepis Bisserata (Pakis) di Perkebunan Kelapa Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Perkebunan kelapa sawit adalah salah satu sektor bisnis yang sangat menjanjikan. Namun Bukan hal mudah untuk terjun dalam bisnis perkebunan kelapa sawit karena investasi modal awal yang sangat besar. Investasi besar ini mewajibkan kita untuk menyusun rencana bisnis  yang  tersusun dengan baik sehingga investasi tersebut dapat kembali di waktu yang tepat dan menguntungkan diwaktu yang tepat pula.

Untuk itu perlu dipikirkan metode kultur teknis  yang baik untuk diterapkan dalam mencapai produktivitas yang tinggi. Biasanya guna meningkatkan produktivitas kelapa sawit, dibanyak kasus para pekebun sawit masih condong mengutamakan penggunaan pupuk, baik penggunaan pupuk organik maupun pupuk kimia. Bahkan saat ini banyak beredar berbagai jenis produk yang mengandung mikroorganisme atau sering  disebut bio organic fertilizer.

Hanya saja apa betul mesti mengandalkan pupuk biorganik? Memang penggunaan pupuk biorganik bisa mendorong lahan perkebunan lebih subur, namun pada kenyataannya alam di perkebunan kelapa sawit biasanya telah menyediakan mikroorganismeyang terkandung dalam biorganik tersebut, hanya saja terkadang pelaku perkebunan tidak menyadarinya. Sebab itu yang perlu dilakukan adalah penanganan kebun secara baik.

Misalnya dengan menjaga kelembaban tanah di areal perkebunan kelapa sawit, sebab dengan terjaganya kelembaban tanah maka berpotensi untuk menumbuhkan mikroorganisme di dalam tanah. Jika kondisi demikian terjadi maka bakal mendorong perkembangan sistem perakaran pohon.

Jika penerapan ground cover management itu dilakukan dengan baik maka efektif feeding root menjadi maksimal, hasilnya efektivitas penyerapan pupuk menjadi tinggi dan losess pupuk semakin minim, ini terjadi lantaran kondisi tanah yang lembab.

Penerapan Ground Cover Management juga efektif dalam menghadapi dampak negatif terjadinya El-Nino, sehingga walaupun musim kering  menerjang, produktivitas kebun tetap terjaga. Sebetulnya, penerapan Ground Cover Management, ialah salah satunya untuk mencapai terwujudnya gawangan yang ditumbuhi dengan gulma yang berguna (benefi cial plant) dan lunak serta menghindari gulma beracun.

Gulma lunak yang dimaksud semisal Ageratum conyzoides,  Axonopus compressus dan  Nephrolepis bisserata. Sebab itu mesti  dipastikan yang berkembang adalah gulma lunak yang juga memiliki fungsi sebagai pelindung tanah sehingga kelembaban terjaga.

 

Proses Ground Cover Management

Untuk masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), penanaman dan perawatan LCC perlu dilakukan. Pemilihan bahan tanam Legume Cover Crop (LCC) atau kerap disebut tanaman kacangan dapat berupa biji (seed) atau dari stek. Kacangan yang sering dijumpai di pasaran seperti Mucuna bracteata, Pureria javanica, Calopogonium mucunoides, Centrosema pubescens terbukti berguna sebagai ground cover untuk masa TBM.

Jika masih berupa biji maka bisa ditanam kapan pun juga, namun bila sudah berupa stek tanaman, maka dianjurkan penanaman LCC pada musim hujan, cara ini dilakukan supaya LCC yang baru ditanam bisa memperoleh cukup air dan sinar matahari untuk tumbuh.

Penanaman LCC juga dianjurkan dilakukan segera setelah proses land clearing, alasannya setelah dilakukan land clearing kelembaban tanah masih tinggi, kondisi demikian membantu untuk mempercepat pertumbuhan LCC. Setelah melakukan penanaman maka perawatan kacangan dilakukan dengan membersihkan dan melakukan pemupukan sesuai dengan jenis, dosis dan waktunya.

Bersamaan dengan LCC yang telah tumbuh subur biasanya diikuti dengan munculkan gulma yang lain, maka untuk itu perlu dilakukan tindakan danger kacangan,  selective wedding atau mengendalikan gulma secara selektif, jika gulma tersebut termasuk dalam golongan gulma yang diharapkan maka tetap dijaga, kecuali di areal-areal tertentu yang mesti dijaga kebersihannya dari gulma, seperti pada pasar pikul, piringan dan Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) namun jika gulma berbahaya harus dikendalikan. Perawatan kacangan itu bisa dilakukan sesuai dengan rotasi yang sudah ditentukan.

Langkah selanjutnya melakukan tindakan Dongkel Anak Kayu (DAK), anak kayu harus didongkel lantaran berpotensi sebagai pesaing untuk mendapatkan unsur hara, air dan cahaya matahari sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman utama yaitu kelapa sawit dan bahkan kerap menjadi sarang tikus.

Biasanya di perkebunan sawit dimana tanaman sudah mulai tinggi, muncul berbagai gulma di gawangan yang salah satunya berupa anak kayu, untuk mengatasi kondisi demikian selain dongkel anak kayu dapat juga dilakukan oles anak kayu dengan herbisida, cara ini dimaksud untuk mematikan gulma.

Pada umumnya mengatasi munculnya gulma banyak dilakukan dengan membabat secara manual, padahal cara demikian tidak memecahkan masalah, lantaran gulma itu bakal tumbuh kembali, sebab itu disarankan untuk melakukan langkah oles anak kayu dengan herbisida misalnya: trichlopir.

Perlu juga diperhatikan, dalam menerapkan Ground Cover Management, harus dipastikan bahwa areal terbebas dari ilalang, anak kayu, kentosan, pakis kawat dan pakis udang. Sebab bakal berdampak negatif pada produktivitas tanaman kelapa sawit.

Jika semua telah dilakukan, maka kejadian berikutnya bakal terjadi suksesi gulma atau perubahan komposisi gulma dari suatu jenis gulma kepada komposisi jenis gulma.

Merujuk pengalaman di lapangan salah satu jenis gulma yang merupakan hasil suksesi adalah Nephrolepis bisserata atau bernama pakis merambat dimana gulma ini memiliki dampak positif terhadap peningkatan produktivitas kebun sawit.

Misalnya, pada kebun sawit yang berlokasi di Seruyan, Kalimantan Tengah, penerapan Ground Cover Management dengan menjaga Nephrolepis untuk tumbuh dominan digawangan (> 50 % luasan) mampu mendorong peningkatan produktivitas tanaman.

Nampak jelas bahwa di areal perkebunan dimana blok  yang ditumbuhi Nephrolepis lebih dari 50% dari luasan blok, produktivitas rata-rata kebun sampai dengan bulan Juli 2015 bisa mencapai 11,17 ton TBS/ha,  jauh dibandingkan dengan blok yang dicover Nephrolepis kurang dari 50%  hanya mencapai 7,49 ton TBS/ha sampai dengan bulan Juli 2015.

Demikian juga untuk kebun-kebun lainnya, dimana menunjukan produktivitas kebun terdongkrak dikala pertumbuhan Nephrolepis lebih dari 50% dari seluruh areal. Bila melihat kondisi demikian, kontribusi Nephrolepis dalam mendogkrak produktivitas kebun bisa dikatakan cukup baik, kendati untuk beberapa kasus di kebun, kontribusi tanaman Nephrolepis terhadap peningkatan produktivitas tidak terlalu signifi kan.

Namun demikian korelasi pertumbuhan mikroorganisme penyubur tanah dengan terjaganya kelembaban tanah oleh Nephrolepis, telah Nampak jelas dengan adanya peningkatan produtivitas kebun sawit.

Dengan demikian Nephrolepis yang merupakan hasil suksesi gulma dalam penerapan ground cover management, dari fakta dilapangan menunjukkan bahwa Nephrolepis bisserta memberikan kontribusidalam upaya peningkatan produktivitas tanaman. Selamat mencoba!! (*Div Head Agronomy PT USTP)

Sumber: InfoSAWIT Edisi September 2015

Https://store.infosawit.com/


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit