infosawit

Genjot Produktivitas Kebun Sawit Rakyat Lewat Peremajaan Sawit Dan Sarpras



Genjot Produktivitas Kebun Sawit Rakyat Lewat Peremajaan Sawit Dan Sarpras

InfoSAWIT - Upaya menggenjot produksi perkebunan kelapa sawit rakyat, telah menjadi salah satu komitmen Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), lewat pendanaan Peremjaan dan dukungan bantuan Sarana dan Prasarana. Harapannya ekonomi petani meningkat pesat.

Guna menggenjot ekonomi nasional, pemerintah telah bertekad untuk tetap melanjutkan kebijakan pemulihan dalam masa pandemic Covid-19, lewat Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di APBN, serta implementasi UU Cipta Kerja dan Pelaksanaan Vaksinasi, dengan beragam kebijakan tersebut guna dapat mendorong aktivitas ekonomi, peningkatan konsumsi & invetasi , hasilnya tahun 2021 ekonomi Indonesia diharapkan akan pulih kembali.

Merujuk analisa berbagai lembaga keuangan dunia, ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh di 2021, misalnya saja World Bank memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 4,4% di 2021, lantas OECD memperkirakan tumbuh sekit 4,0%, ADB meramal ekonomi Indonesia tumbuh 5,3% dan IMF memperkirakan tumbuh sekitar 4,8%.

Dikatakan Direktur Penyaluran Dana BPDP-KS, Edi Wibowo, faktor utama pendorong ekonomi Indonesia 2021 diantaranya, penanganan pandemi Covid-19 lewat pengendalian kasus Covid-19 dan ketersediaan vaksin di tahun 2021.

Lantas dukungan Kebijakan fiskal juga ekspansif untuk melanjutkan program ekonomi nasional, melalui dukungan sisi permintaan melalui penguatan bantuan social, dukungan sisi penawaran berfokus pada insentif pajak, serta bantuan kredit &  jaminan untuk UMKM dan koperasi.

Sementara untuk percepatan reformasi, dilakukan melalui reformasi produktivitas, daya saing & iklim investasi. Termasuk melalui UU Cipta Kerja, Reformasi Anggaran, dan Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Kemudian sumbangan Sektor Industri Sawit dan Energi dengan implementasi program Mandatori Biodiesel 30% (B30) yang dapat dipertahankan selama pandemi.

Tutur Edi, kendati sampai triwulan ke IV-2020 PDB Indonesia tercatat masih negatif, namun sektor perkebunan masih memberikan kontribusi positif. Dengan pertumbuhan PDB Sektor Perkebunan yang positif, Industri Sawit dapat mempertahankan penyediaan lapangan kerja yang stabil, dimana diperkirakan ada 4,2 juta pekerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Sementara sebnayak 2,4 petani sawit swadaya mampu melibatkan sekitar 4,6 pekerja.

Tercatat  rata-rata produksi sawit per tahun sebesar Rp 37,57 Juta MT, sementara rata-rata nilai konsumsi produk per tahun sebesar Rp 33,59 Triliun. Untuk rata-rata nilai ekspor per tahun sebesar US$ 21,4 Miliar, atau rata-rata 14,19% per tahun dari total ekspor non migas.

“Estimasi kontribusi penerimaan pajak dari industri kelapa sawit sebesar Rp14 – 20 Triliun per tahun,” tutur Edi, dalam FGD Sawit Berkelanjutan Vol 7, bertajuk “Meningkatkan Peranan Petani Sawit Rakyat Melalui Subsidi Replanting Dan Subsidi Sarana Prasarana,” Rabu 28 April 2021, yang diadakan majalah InfoSAWIT.

Lebih lanjut tutur Edi, kelapa Sawit merupakan komoditas minyak nabati dunia dengan tingkat produktivitas paling baik dibandingkan minyak nabati lainnya. Sehingga kelapa sawit menjadi pilihan paling sustainable dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia yang semakin bertumbuh.

Dimana setiap tahun demand dan pasokan minyak nabati global rata-rata tumbuh masing-masing di level 8,5 juta ton dan 8,2 juta ton. Sebagai komoditas yang paling produktif, minyak sawit berkontribusi rata-rata 42%dari total supply minyak nabati dunia.

Sementara komposisi perkebunan kelapa sawit Indonesia, hampir separuhnya adalah perkebunan petani swadaya. Faktanya petani ada di setiap pulau di Indonesia. Pulau Sumatera dan Kalimantan memiliki luas lahan terbesar,  termasuk wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku dan Papua kehadiran mereka juga cukup nyata.

Namun sayangnya produktivitas petani sawit swadaya masih tercatat rendah lantaran penggunaan bibit sawit ilegetim atau tidak bersertifikat alias palsu. Termasuk pengelolaan kebun sawit yang tidak dilakukan dengan menerapkan praktik budiaya terbaik (GAP).

Merujuk data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, untuk meningkatkan produktivitas dan produksi CPO kebun sawit rakyat diperlukan peremajaan seluas 2,4 juta Ha. Sementara realisasi peremajaan sawit rakyat dari tahun 2016 - Des 2020 telah mencapai seluas 200 ribu ha.

Paahal target setiap tahun peremajaan sawit rakyat dari tahun 2020 sejumlah 180.000 ha/tahun, dengan asumsi peremajaan tiap tahun sebesar 180.000 ha diproyeksikan produksi CPO ditahun 2030 sebesar 56,84 Juta ton. Sedangkan jika kebun sawit rakyat tidak dilakukan peremajaan maka mulai tahun 2024 akan terjadi penurunan produksi hingga ditahun 2035 produksi CPO sebesar 52,39 Juta ton.

Inefisiensi usaha kebun sawit rakyat, kata Edi, juga masih menjadi kendala bagi petani sawit swadaya lantaran masih ada beberapa produk sawit hasil TBS petani yang tidak terhitung, misalnya tandan kosong dan cangkang yang belum masuk dalam struktur perhitungan harga, serta rendemen minyak buah sawit petani di patok 14% - 25% saja.

Sehingga dengan kondisi demikian masih terdapat potensi pendapatan pekebun swadaya yang belum terhitung dari mekanisme penjualan TBS yang ada saat ini, ditambah dengan masih panjangnya rantai pasok penjualan TBS.

Sebab itu, Kata Edi Wibowo, untuk mendukung ekonomi petani sawit swadaya tersebut, solusi Pemerintah salah satunya melalui program penanaman kembali sawit rakyat besar-besaran yang bertujuan untuk membantu petani sawit swadaya, memperbaharui perkebunan kelapa sawitnya dengan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan dan berkualitas dan mengurangi risiko pembukaan lahan ilegal (PenggunaanLahan, Perubahan Penggunaan Lahan dan Kehutanan -LULUCF)

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Mei 2021

Https://store.infosawit.com/


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit