infosawit

RSPO Perkuat Peran Perempuan Dalam Produksi Sawit Berkelanjutan



RSPO Perkuat Peran Perempuan Dalam Produksi Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT - Berbekal kebijakan tentang Inklusi dan Kepatuhan Gender, Roundtable on Sustainable palm Oil (RSPO), berupaya memperkuat peran perempuan dalam produksi minyak sawit berkelanjutan. Kebijakan ini tercatat pada Prinsip dan kriteria RSPO versi 2018 dan Standar Petani Independen (ISH) 2019.

Perkebunan kelapa sawit faktanya tak bisa lepas dari peran perempuan, bahkan Koalisi Buruh Sawit mencatat dari sebanyak 18 juta buruh sawit di Indonesia hampir setengahnya adalah pekerja perempuan.

Namun demikian sayangnya ada dugaan perlakuan yang tidak adil, dan masih banyak tenaga kerja yang belum memperoleh haknya sesuai regulasi umumnya mereka adalah para perempuan. Di sektor perkebunan kelapa sawit, perempuan memiliki keterlibatan yang cukup banyak sehingga mengharuskan mereka memperoleh perlindungan dan persamaan hak dengan pekerja laki-laki (keadilan gander).

Direktur Assurance Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sekaligus Plt Deputi Direktur RSPO Indonesia, Tiur Rumondang mengungkapkan, industri kelapa sawit memang merupakan sektor yang kurang aman bagi perempaun, dan banyak tantangan yang harus dihadapi.

Secara kondisi perempuan secara natural tidak bisa dihindari dan mengambil pekerjaan itu di sektor perkebuna kelapa sawit, perempuan juga memiliki keunikan tersendiri, sebab itu tugas semua pihak untuk membuat payung hukum supaya perempuan di sektor perkebunan kelapa sawit bisa terlindungi, dan kebijakan ini mesti dipatuhi seluruh anggota RSPO.

Sebab itu penempatan perlindungan perempuan harus terus dijaga, sehingga bisa memenuhi kebutuhan khusus yang dimiliki para perempuan, dan kesetaraan gender bisa diterapkan untuk semua level perkerjaan, termasuk para pekerja perempuan di lapangan.

“Sebab itu perlu dipastikan praktik berkelanjutan dalam melindungi perempuan di sektor perkebunan dilakukan dan standar RSPO yang disediakan juga untuk memastikan ada forum plaform untuk para perempuan,” kata Tiur dalam Webinar FGD Sawit Berkelanjutan Vol 6, bertajuk “Ketangkasan Perempuan Sawit Indonesia”, di Jakarta, 27 April  2021, yang diadakan InfoSAWIT & RSPO.

Sebab itu RSPO belum lama ini merilis Panduan Praktis tentang Inklusi dan Kepatuhan Gender pada Prinsip dan Kriteria (P&C) RSPO 2018 dan Standar Petani Independen (ISH) 2019.

Melalui RSPO Human Rights Working Group (HRWG), dengan berkonsultasi dengan Konsultasi yang Adil & Berkelanjutan, Panduan Gender ini menggarisbawahi peran penting yang dimainkan perempuan dalam industri minyak sawit dan kebutuhan untuk memperkuat komitmen RSPO terhadap hak-hak perempuan.

Dimana fungsi panduan gender, diantaranya guna meningkatkan kesetaraan gender yang menjelaskan inklusif gender, sumber daya pendidikan tentang batasan berbasis gender dan rekomendasi untuk tindakan.

Lebih lanjut tutur Tiur, kebijakan ini membantu anggota RSPO untuk bekerja dalam menutup kesenjangan gender dengan meningkatkan kesadaran terkait kesulitan yang dihadapi perempuan di industri dan menyarankan strategi yang dapat membantu memperluas potensi pengembangan ekonomi bagi para perempuan.

Harapannya, ini akan mampu mendukung anggota RSPO, khususnya produsen minyak sawit dan petani swadaya, untuk menerapkan persyaratan terkait gender dari standar RSPO. Bahkan, RSPO bekerja dengan mitra LSM sosial untuk mengadakan program pelatihan pemberdayaan petani perempuan dalam kelapa sawit.

Merujuk informasi dari RSPO, sejatinya Pedoman Gender ini terdiri dari lima bagian, diantaranya pertama, apa itu Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan mengapa itu penting bagi RSPO?, dalam bagian ini akan menggambarkan kegiatan yang digunakan untuk dokumen Panduan Gender ini. Serta  memvisualisasikan peran penting perempuan di sektor kelapa sawit, terutama sebagai buruh dan anggota keluarga petani kecil. Ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, dan bagaimana hal itu dapat dicapai. Terakhir, menjelaskan mengapa pengembangan ekonomi perempuan menjadi penting untuk strategi bisnis perusahaan di sektor kelapa sawit.

Lantas kedua, perusahaan sebagai pemberi kerja; strategi untuk mengatasi kendala berbasis gender dari karyawan perempuan, pada bagian ini akan memberikan strategi praktis, dengan contoh, yang relevan untuk semua perusahaan yang mempekerjakan karyawan, baik di perkebunan, pabrik, penyedia tenaga kerja, dan petani kecil yang lebih besar.

Di perusahaan besar, manajemen bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kendala spesifik berbasis gender dari karyawan wanita ditangani dan mengembangkan strategi bersama dengan departemen manajemen sumber daya manusia atau departemen tanggung jawab sosial perusahaan. Namun pelaksanaannya menjadi tanggung jawab semua personel, staf teknis, pengawas di berbagai tingkatan, dan staf lapangan.

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Mei 2021

Https://store.infosawit.com/

 


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit