infosawit

Tips Menjadi Manajer Kebun Sawit



Tips Menjadi Manajer Kebun Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Supaya keempat fungsi manajemen berjalan dengan baik maka manajer kebun harus mampu melakukan koordinasi dengan semua bagian yang terlibat dalam kegiatan kebun, sehingga tercapai pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang baik, disinilah yang dibutuhkan bukan hanya sekadar manajer kebun tetapi pemimpin kebun.

Kegiatan mengkoordinasi memerlukan kemampuan yang cukup kompleks. Seorang manajer tidak akan dapat mengkoordinasikan suatu proses pekerjaan dengan baik, jika manajer tersebut tidak dianut/diikuti oleh bagian-bagian atau unit-unit yang akan dikoordinasikan. Untuk dapat dianut tentu seorang manajer harus memiliki berbagai prasyarat antara lain memiliki jiwa kepemimpinan.

Kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain agar bekerjasama sesuai dengan rencana demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.   Pemimpin berarti yang memimpin atau orang yang ditunjuk menjadi pemimpin organisasi.

Memimpin (leading) merupakan kegiatan mengarahkan dan memotivasi seluruh komponen yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan. Memimpin berarti menuntun, menunujukkan jalan, membimbing, memandu dan melatih (mendidik, mengajari) bawahan agar dapat mengerjakan tugas yang  yang diberikan kepadanya dengan baik.    

Untuk dapat menjadi pemimpin, sudah barang tentu ia harus memiliki kelebihan dari orang-orang yang dipimpinnya. Kelebihan tersebut antara antara lain  bekerja keras dan banyak berfikir untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, dapat menguasai perasaannya dan tidak mudah marah dan putus asa, mampu melakukan pendekatan manusiawi, mampu memotivasi bawahan, mampu berkomunikasi dengan baik, kemampuan mempengaruhi orang lain, mudah bergaul dengan siapa saja,  memiliki reputasi terpercaya, ditambah dengan kemampuan dan skill yang juga terpercaya. Sampai disini, terasa sekali bahwa untuk dapat menjalankan fungsi utama sebagai  seorang manajer kebun ternyata diperlukan penguasaan berbagai berbagai kemampuan yang kompleks.

 

Manajer atau Pemimpin

Tetapi tidak jarang seorang manajer kebun gagal atau tidak mampu dalam mengelola perkebunan dengan baik, hal ini ditunjukkan oleh berbagai  indikasinya misalnya  target tidak tercapai, produksi menurun,  turn over karyawan tinggi, biaya yang penanaman, pemeliharaan dan produksi yang tinggi,  suasana kerja tidak nyaman, hubungan dengan masyarakat atau pemerintahan tidak harmonis.

Hal ini disebabkan manajer menguasai hanya faktor teknis semata-mata, tetapi kurang menguasai faktor non teknis.

Pemimpin, di samping memenuhi persyaratan teknis, juga memenuhi persyaratan non teknis antara lain:  diterima umum, memiliki pengaruh luas, kharismatik, memiliki keberanian, mampu membuat strategi  dan energik dalam berpikir, bahkan ketika pemimpin itu sudah tidak jadi pemimpin lagi, pendapat-pendapatnya akan tetap di pertimbangkan dan diutamakan

Sedangkan manager kebun memiliki pengaruh hanya dalam batasan formal, yang artinya dia akan memiliki pengaruh ketika dia secara formal diberikan jabatan seorang manajer,  Karenanya hanya berpengaruh didalam lingkungan kebun.

Sehingga jika berhadapan dengan masalah di luar kebun seperti masalah menyangkut masyarakat disekitar kebun, hubungan dengan aparat pemerintahan atau hubungan dengan instansi pemerintahan, seorang manajer sering tidak mampu menjalankan peranannya.

Dalam mengorganisasi bawahan. Sang manajer akan cenderung malas untuk memberikan perhatian moral dalam mengontrol anak buahnya, namun justru lebih sering memberikan control yang sifatnya prosedural, seperti memberikan sanksi untuk memotivasi anak buahnya yang sudah menunjukkan gejala penurunan kinerja.

Hal ini berbeda dengan sang pemimpin, karena pemimpin (leader) justru akan memberikan kepedulian dan perhatian kepada anak buahnya jika performa anak buahnya menurun.

Dalam hal tujuan yang ingin dicapai manajer memiliki tujuan yang jelas dan memiliki target kuantitatif, yaitu mendapatkan hasil yang sudah digariskan perusahaan atau  organisasi. Namun pemimpin akan lebih suka memperbaiki sistem di organisasinya yang ia rasakan kurang atau belum sempurna, sehingga dalam jangka panjang tujuan kuantitatif akan tercapai.

Dalam mengatur sumber daya manusia di kebun, manajer akan cenderung memilih untuk memberikan perintah ini dan itu yang terkesan menuntut ketimbang menunggu anak buahnya melakukan sesuatu untuknya. Pemimpin justru akan memberikan kekuatan wewenangnya untuk memberdayakan (empowering) anak buahnya, biasanya pemimpin akan menjelaskan keinginan yang berkaitan dengan organisasi dengan anak buahnya, tanpa menjelaskan bagaimana, apa, dan siapa yang harus merealisasikannya, namun justru anak buahnya akan dengan senang hati merealisasikannya untuknya

Pemimpin bukan saja sebagai manajer, tetapi juga diharapkan sebagai leader, seorang manajer kebun bertugas menangani persoalan organisasi, menyusun struktur secara sistematis dan logis, agar perusahaan atau organisasi berjalan dengan baik; sedangkan seorang pemimpin (leader) adalah pemimpin yang memiliki kharisma, mempunyai visi jauh ke depan, berani mengambil risiko, keputusan yang cepat dan tepat,  berkepribadian kuat, menjunjung tinggi intergritas dan etika serta  dapat memberikan inspirasi.

Seorang pemimpin (leader) banyak memecahkan masalah-masalah kebun dengan memanfaatkan 4H (heard, head, heart, and hand), kuat imajinasinya, pandai mengatur emosi, dan memanfaatkan intuisinya.

Seorang pemimpin kebun harus mampu membumikan/menjalankan visi organisasi (perusahaan perkebunan) sehingga menyentuh komunitas organisasi sampai pada lapisan bawah sekaligus, sehingga tercipta sebuah atmosfir organisasi yang dikenal sebagai corporate culture (budaya perusahan).

Ditengah-tengah perubahan yang terus menerus, pemimpin kebun dituntut untuk terus kreatif dan inovatif. Setiap saat pemimpin ditantang untuk melihat realitas baru, menciptakan energy dan hidup baru ke dalam organisasi.

Dari keseluruhan fungsi yang harus dijalankan oleh seorang manajer kebun tersebut, ternyata fungsi kepemimpinan adalah fungsi yang paling banyak memerlukan kemampuan dalam hal soft skill sedangkan fungsi lainnya sebagian besar berkaitan dengan hard skill. Itulah sebabnya fungsi kepemimpinan adalah fungsi yang paling sulit untuk diajarkan, diantara fungsi manajemen yang lain.

Kebun dengan ruang lingkupnya sangat luas dan kompleks,  selain menyangkut masalah teknis seperti pemeliharaan tanaman, panen dan produksi, juga banyak menyangkut masalah non teknis seperti hubungan  dengan masyarakat sekitar kebun, ganti rugi lahan, plasma, konflik dengan karyawan, hubungan dengan aparat desa atau kecamatan,   hubungan dengan instansi pemerintahan, hubungan dengan aparat keamanan,  dll.

Untuk mengelola kebun menjadi berhasil, seorang manajer kebun harus memiliki jiwa pemimpin (leadership) yang baik untuk dapat menjalankan profesinya. Mengusai bukan saja faktor teknis dalam bidang perkebunan tetapi juga non teknis atau kemampuan manajerial,  karena sebagian besar kegiatan manajemen di kebun akan memerlukan kemampuan leadership. Ketrampilan kepemimpinan ini tidak begitu saja turun dari langit,  tetapi dipelajari melalui pengalaman. dan pembelajaran yang terus menerus dan ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. (*praktisi perkebunan kelapa sawit dan penulis buku)

Sumber majalah InfoSAWIT Edisi September 2017


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit