infosawit

UE Gencar Tolak Minyak Sawit, Pemerintah RI Sebaiknya Santai Saja



UE Gencar Tolak Minyak Sawit, Pemerintah RI Sebaiknya Santai Saja

InfoSAWIT.com, JAKARTA - Menghadapi kampanye penolakan Uni Eropa (UE) terhadap minyak kelapa sawit, pemerintah Indonesia disarankan tenang. Tak perlu terlalu agresif melawannya. Karena, kebutuhan masyarakat UE terhadap minyak sait tidak bisa dilawan.

Disampaikan Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, penilakan UE terhadap minyak Indonesia, adalah hal yang wajar. Alasannya untuk melindungi petani dan produk minyak bunga matahari mereka. "Argumen yang digunakan adalah isu lingkungan. Saya kira wajar saja bila mereka mencoba melindungi petani mereka. Itu memang seharusnya dilakukan oleh semua negara, termasuk Indonesia," tuturnya, dikutip dari Gatra.com, Selasa, (14/9/2021).

Menurut Piter, perlindungan itu akan berdampak pada masyarakat UE yang harus membayar lebih mahal karena adanya bea masuk yang lebih tinggi untuk minyak kelapa sawit. Ia juga menilai minyak bunga matahari itu tidak efisien dan juga mahal. "Kita tidak perlu mempermasalahkan sikap Uni Eropa, yang harus dilakukan adalah bagaimana mencari solusi untuk produk minyak kelapa sawit kita karena permintaan UE akan lebih rendah," katanya.

Terkait strategi yang ampuh untuk Indonesia guna menghadapi kampanye penolakan minyak kelapa sawit oleh UE, lanjut Piter, pemerintah harus mencari dan mencoba penetrasi pasar baru agar produk kelapa sawit Indonesia berkualitas tinggi memiliki alternatif pasar yang baru di luar negeri.

"Di sisi lain pemerintah juga harus menciptakan permintaan di dalam negeri, untuk menyerap semua hasil produksi CPO [Crude Palm Oil] sehingga harga CPO stabil di level yang menguntungkan petani," sambungnya.

Sementara itu, Piter menyebut upaya pemerintah melakukan transformasi biodiesel menurutnya adalah langkah yang tepat. Di satu sisi langkah ini dapat mengatasi kebutuhan impor solar dan di sisi lain bisa menciptakan kebutuhan atau permintaan atas produk minyak kelapa sawit di dalam negeri. "Percepatan transformasi ke biodiesel sangat diperlukan," ujarnya.

Menurut Piter, apabila indonesia telah sukses melakukan transformasi biodiesel hingga 100%, ia beranggapan penolakan UE atas kelapa sawit Indonesia tidak akan lagi menjadi masalah. "Suatu saat saya yakin Uni Eropa akan melunak. Mereka tetap membutuhkan minyak kelapa sawit yang terbukti lebih efisien dibandingkan minyak bunga matahari," tandasnya.

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit