infosawit

Memperkuat Kemampuan Masyarakat Menuju Kelapa Sawit Berkelanjutan



Memperkuat Kemampuan Masyarakat Menuju Kelapa Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA - Pengembangan perkebunan kelapa sawit kerap berpotensi menimbulkan konflik, sebab itu dibutuhkan Komunikasi, pemahaman terhadap hak atas tanah, dan partisipasi guna menghindari terjadinya potensi konflik. Sebab itu RSPO terus berupaya menjadikan minyak sawit berkelanjutan sebagai norma melalui berbagai pendekatan, merujuk pengalaman dari dinamika sawit di Liberia.

Konflik tanah adat sejauh ini masih menjadi masalah keamanan terbesar bagi pemangku kepentingan di Liberia. Tanah adat diberikan kepada organisasi dan perusahaan multinasional sebagai tanggapan atas transformasi global yang sedang berlangsung, nampak dari ekspansi industri yang membutuhkan lahan untuk pembangunan ekonomi.

Proses pembebasan lahan ini telah memunculkan kebingungan dan berpotensi menimbulkan konflik antara masyarakat lokal dan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Selain itu, mayoritas masyarakat lokal tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang hukum nasional dan internasional, serta kurangnya penerapan praktik terbaik yang harus dipatuhi oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Konflik-konflik ini menempatkan masyarakat dalam situasi yang sulit terutama dalam hal negosiasi dan pemantauan kepatuhan terhadap praktik-praktik yang telah diatur, serta mengarah pada konflik yang terus menerus. Dari sudut pandang kelembagaan, masalah di sektor kelapa sawit Liberia bukan karena perusahaan tidak bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan masyarakat tidak tahu tentang RSPO dan standarnya, tetapi masing-masing pihak memiliki pemahaman yang berbeda tentang standar tersebut. Sebab itu masalah komunikasi, hak atas tanah, dan partisipasi adalah tiga isu utama yang menjadi ciri konflik di sektor kelapa sawit di Liberia.

Sebagai organisasi multi-pemangku kepentingan yang mempromosikan produksi dan penyerapan Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat (CSPO), RSPO bertujuan untuk meningkatkan dampaknya dengan menjadikan minyak sawit berkelanjutan sebagai norma melalui berbagai pendekatan.

RSPO menyadari perlunya upaya penjangkauan yang komprehensif kepada masyarakat yang terkena dampak dan organisasi masyarakat sipil lokal di negara-negara produsen minyak sawit, dengan pendekatan yang dilakukan melalui jaringan perantara. Sustainable Development Institute (SDI) dilibatkan dan diajak bekerjasama sebagai Organisasi Perantara (IMO/Intermediary Organisation) untuk mengambil peran sebagai mitra lokal untuk mengimplementasikan program penjangkauan dan pelibatan masyarakat di Liberia.

Melibatkan Komunitas

Program pelibatan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pemangku kepentingan di tingkat tapak tentang Prinsip dan Kriteria RSPO. Melalui bimbingan dan pelatihan, masyarakat dapat menggunakan cara damai untuk mengatasi keluhan mereka. Pemahaman antara kedua belah pihak dapat difasilitasi, sehingga menghilangkan potensi konflik dan menutup kesenjangan komunikasi.

Selain itu, program penjangkauan masyarakat yang efektif dan efisien yang melibatkan perusahaan kelapa sawit dan pelaku akan berkontribusi pada kepatuhan terhadap hukum nasional dan internasional dan praktik terbaik, terkait penerapan Persetujuan atas Dasar Informasi Awal tanpa Paksaan (FPIC); Konsep Nilai Konservasi Tinggi (NKT) dan Stok Karbon Tinggi (SKT); dan Prinsip Bisnis HAM PBB.

Di sisi lain, masyarakat paham tentang hak-hak mereka yang harus dilindungi, seperti kepemilikan tanah adat. Ini akan meningkatkan penerimaan antara kedua belah pihak tentang kebutuhan untuk hidup berdampingan.

RSPO percaya bahwa, untuk tujuan apa pun, kelapa sawit hanya boleh ditanam dengan cara yang tidak merusak hutan dan menghormati keanekaragaman hayati, ekosistem alam, masyarakat lokal, dan pekerja di negara-negara penghasil minyak sawit. Mendengar suara komunitas sangat dibutuhkan guna memastikan rekomendasi tindakan yang tepat dalam mencapai tujuan ini, serta mendukung mereka dan mendorong perubahan dengan cara yang bermanfaat. Tanpa ini, kita menghadapi risiko ketidaksesuaian tindakan dan jatuh kembali ke model bisnis sebelumnya.

Program yang dilaksanakan di Liberia memiliki dua tujuan utama, untuk menciptakan sarana guna melatih LSM berbasis hak dan masyarakat yang terkena dampak perkebunan kelapa sawit tentang cara menggunakan standar dan mekanisme RSPO secara efektif, dan bagaimana terlibat secara efektif dan efisien dengan RSPO. Selain itu, bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran informasi antara LSM dan masyarakat yang terkena dampak, dan mitra regional untuk meningkatkan kelompok aktor yang bekerja untuk menjembatani kesenjangan yang ada antara masyarakat lokal dan perusahaan kelapa sawit di negara ini. (Imam A. El Marzuq / Senior Manager Global Community Outreach & Engagement at Roundtable on Sustainable Palm Oil - RSPO)

Lebih lengkap baca Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2021


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit