infosawit

Moratorium Disetop, RI Bakal Banjiri Pasar Dunia dengan Minyak Sawit



Moratorium Disetop, RI Bakal Banjiri Pasar Dunia dengan Minyak Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Pelaku industri siap mengantisipasi potensi produktivitas minyak sawit yang bertambah jika moratorium sawit tidak diperpanjang. Namun, bila moratorium tak dilanjutkan, produksi minyak sawit juga bakalan naik lebih cepat.

Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Bernard Riedo meyakini keputusan mengenai kelanjutan atau berakhirnya moratorium bakal banyak dipengaruhi oleh aspek lingkungan.

Namun, dia mencatat bahwa produksi minyak sawit nasional tetap bisa optimal sekalipun tidak ada izin baru pembukaan kebun sawit. “Dengan moratorium pun, melalui perbaikan kualitas hasil perkebunan seperti replanting dan best practices tentu dapat meningkatkan produksi CPO kita,” kata Bernard, Selasa (21/9/2021).

Dia tidak memungkiri bahwa laju pertumbuhan produksi bisa lebih cepat jika moratorium tidak diperpanjang. Meski demikian, Bernard mengatakan industri sudah siap menampung produksi untuk diproses menjadi produk turunannya.

“Dari stabilitas pasokan, Indonesia telah membuktikan melalui program B30 bisa menaikan jumlah konsumsi dalam negeri yang juga bisa digunakan sebagai instrumen kebijakan dalam menjaga stabilitas harga. Singkatnya, produksi naik, harga turun, tetapi program B30 bisa ditingkatkan misalkan ke B40 atau B50,” kata Bernard.

Kepala Ekonom PT Bahana Sekuritas, Putera Satria Sambijantoro sebelumnya, menjelaskan, moratorium izin perkebunan sawit telah berakhir pada pekan lalu, akan menjadi perhatian dunia. Selama tiga tahun berlakunya Instruksi Presiden (Inpres) 8/2018, penghentian pemberian izin baru untuk konsesi kelapa sawit dinilainya telah membuat produksi minyak sawit stabill.

Dia menilai moratorium yang tidak diperpanjang akan berdampak terhadap perekonomian, mengingat kontribusi komoditas tersebut ekspor nonmigas merupakan salah satu yang terbesar.

Sebagai eksportir minyak sawit terbesar di dunia, izin pembukaan perkebunan yang kembali diberikan bisa menjadi sinyal bahwa Indonesia siap menggelontorkan lebih banyak minyak nabati ke pasar.

Menurut Putera, hal tersebut dapat memicu koreksi harga CPO yang telah melonjak lebih dari 50 persen dalam setahun terakhir, padahal kenaikan harga CPO telah menopang neraca perdagangan dan rupiah di tengah kekhawatiran akan efek taper tantrum.

"Kami melihat perpanjangan kebijakan moratorium sebagai win-win solution, baik untuk lingkungan maupun ekonomi. Langkah ini merupakan upaya untuk melindungi lingkungan, serta meningkatkan tata kelola dan produktivitas perkebunan sawit skala menengah,” kata Putera. (T3)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit