infosawit

Melihat Perempuan Dalam Praktik Minyak Sawit Berkelanjutan



Ilustrasi
Melihat Perempuan Dalam Praktik Minyak Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA - Perempuan sangat rentan terhadap kondisi tenaga kerja yang membebani di perkebunan, dan menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar karena sifat pekerjaan mereka di dalam perkebunan, seperti menyemprot pestisida dan aplikasi pupuk. Selain itu, perempuan di perkebunan juga rentan terhadap pelecehan seksual terutama ketika langkah-langkah belum diambil oleh perusahaan untuk mengatasi kesenjangan sistemik yang memungkinkan insiden tersebut terjadi. Kesulitan ini semakin diperparah oleh kebijakan yang menghambat kemampuan mereka untuk mengambil pekerjaan tertentu, seringkali karena jam kerja yang tidak fleksibel dan kurangnya tunjangan anak. Hal ini pada akhirnya membatasi mereka untuk pekerjaan perawatan yang tidak memperoleh upah.

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) telah bekerja sama dengan para anggotanya untuk menetapkan panduan praktis yang memberikan strategi dan alat kepada perusahaan tentang cara menilai, mengurangi, dan mengembangkan rencana aksi agar lebih inklusif gender dalam angkatan kerja mereka. Panduan ini juga mengacu pada indikator spesifik Prinsip & Kriteria (P&C) RSPO 2018 dan standar Petani Swadaya (ISH) RSPO 2019 untuk dilaksanakan dan diikuti. Namun, perubahan nyata akan terjadi ketika lebih banyak anggota industri berkomitmen untuk tujuan bersama ini dengan perubahan perspektif pada pekerja perempuan. Kami mendorong industri mulai saat ini bisa mengambil langkah-langkah sederhana, namun efektif, seperti berikut ini.

Pertama, perubahan dimulai di dalam organisasi dengan mengakui kesenjangan dan perbedaan yang membatasi keterlibatan dan kontribusi perempuan di tempat kerja. Kontribusi mereka sering dipandang sebagai pekerjaan sekunder dan terlihat seperti pekerjaan rumah tangga dan tidak didukung fasilitas penitipan anak. Disamping mereka kebanyaknm sebagai pekerja kontrak, seperti memetik buah berondolam, aplikasi pupuk, dll.

Akses yang tidak memadai ke program literasi keuangan, pelatihan dan kurangnya fleksibilitas dalam jam kerja membuat pemenuhan kuota standar kerja mereka menjadi sulit, terutama selama masa kehamilan.

Pemilik perkebunan perlu memberikan banyak fleksibilitas, menciptakan lapangan kerja alternatif bagi wanita hamil dan membuat pria lebih peka untuk tidak melibatkan keluarga dalam bekerja, sehingga perusahaan memperoleh manfaat dari peningkatan reputasi, pengurangan pergantian staf, dan peningkatan kemampuan, biaya perekrutan dan pergantian yang lebih rendah, meningkatkan inovasi, dan memberikan peluang untuk beragam perspektif dalam tenaga kerja dan manajemen.

Kedua, diskriminasi dan kekerasan gender di zaman sekarang ini tidak boleh ditoleransi. Perusahaan harus mengadopsi kebijakan tanpa toleransi untuk kekerasan berbasis gender dan memfasilitasi akses konseling dan fasilitas kesehatan bagi korban. Perempuan juga harus dilatih untuk mengawasi personel perempuan yang tidak hanya mengurangi risiko pelecehan, tetapi juga menciptakan peluang untuk pengembangan karir.

Pengalaman kami menunjukkan bahwa organisasi yang telah mengambil langkah untukmeningkatkan posisi perempuan di perkebunan mereka telah memperoleh manfaat. Proyek “Perkumpulan Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Rokan Hulu” (PPSKS-Rohul) di Provinsi Riau Indonesia merekrut sejumlah besar fasilitator lapangan perempuan untuk membimbing perempuan lain dalam praktik pertanian yang aman dan pengelolaan keuangan. Mereka bahkan mengadakan pelatihan untuk Kesehatan dan Gizi dalam meningkatkan pengetahuan tentang aksesibilitas dan asupan makanan. (Prasad Vijaya Segaran /Senior Eksekutif Bidang Hak Asasi Manusia dan Standar Sosial RSPO)     

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Juli 2021


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit