infosawit

3 Pola Keterlibatan Perempuan di Organisasi Petani Sawit Swadaya



Dok. InfoSAWIT
3 Pola Keterlibatan Perempuan di Organisasi Petani Sawit Swadaya

InfoSAWIT, PANGKALANBUN  – Merujuk informasi dari petani kelapa sawit swadaya yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM), terdapat  3 pola keterlibatan perempuan dalam perkebunan sawit, pertama, pekebun perempuan: mereka adalah perempuan pemilik kebun yang menjadikan kebun sawit sebagai sumber utama penghasilan untuk keluarga. Biasanya mereka adalah ibu yang mendapat kebun warisan dari suami atau membeli, setelah suami meninggal.

Lantas kedua, pekerja perempuan. Mereka adalah perempuan  yang bekerja di perkebunan untuk menambah penghasilan untuk keluarga sehingga keluarga semakin sejahtera. Ada yang bekerja secara mandiri di bagian perawatan: pemupukan,  semprot dan perawatan , di bagian administrasi maupun yang membantu suami, misalnya suami sebagai pemanen,  istri membantu mengutip brondolan.

Lantas ketiga mereka perempuan yang terlibat dalam organisasi petani swadaya,” catat Grup Manajer Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM), YB. Zainanto Hari Widodo.

Lebih lanjut tutur Zainanto, di dalam organisasi APKSM terdapat 20% pekebun perempuan. Mereka pemilik lahan dan memiliki pekerja yang mengelola lahan sawit misalnya pemanen, pekerja rawat, pemuat dan sebagainya.

“Sebab itu untuk pekerja perempuan, APKSM membentuk Komite Gender untuk mendampingi para pekerja perempuan untuk mendapatkan hak dan kondisi yang aman dan nyaman di lingkungan kerja mereka,” katanya.

Di APKSM pula dari sebanyak 10 anggota ICS dan 3 ketua kelompok tani, terdapat 3 perempuan yang terlibat dalam organisasi petani swadaya.  Kenyataannya, meski usaha perkebunan sawit identitik dengan laki-laki yang keras dan kuat, toh tetap butuh sentuhan perempuan seperti kerapian, keindahan, dan perhatian.

“Hal inilah yang dibutuhkan keterlibatan mereka di Pengendalian Dokumen yang membutuhkan ketelitian, kerapian dan terstruktur,” kata Zainanto.

Di komite gender ini akan selalu mendampingi dan menyuarakan hak perempuan.  Demikian juga dalam Unit K3, sifat perhatian seorang ibu kepada anak, dilakukan unit ini ketika mengawal anggota maupun pekerja agar mereka selalu sehat dan tidak ada kecelakaan kerja di lahan dan kebun anggota.

Akhirnya, memang ada sisi-sisi perempuan yang membuat usaha perkebunan sawit dapat berkelanjutan. “Dimana keterlibatan perempuan tersebut dapat semakin mensejahterakan keluarga,  membesarkan organisasi petani swadaya, dan semua yang terlibat di usaha perkebunan sawit bahagia, sehat dan sejahtera,” tandas Zainanto. 

Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Juli 2021


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit