infosawit

Anggota DPR RI: Perusahaan Sawit Pelanggar HGU Perlu Ditindak Tegas



Dok. InfoSAWIT
Anggota DPR RI: Perusahaan Sawit Pelanggar HGU Perlu Ditindak Tegas

InfoSAWIT, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin menyampaikan, di tengah hasil devisa ekspor sawit mampu mencapai  Rp 300 triliun per tahun, serta mampu menyerap tenaga kerja dan petani hingga 16 juta orang, namun masih ada beberapa persoalan di dalamnya, termasuk adanya perusahaan yang melanggar Hak Guna Usaha (HGU). Menurut Akmal, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas ekonomi kerakyatan.

Dengan adanya kelapa sawit, infrastruktur, perekonomian, bahkan tingkat edukasi di daerah terpencil menjadi meningkat. “Sangat disayangkan, di kawasan Papua dan Papua Barat, masih terjadi konflik lahan kelapa sawit terkait HGU. Saya minta pemerintah tidak masuk angin, atau terpengaruh dengan tindakan apapun terkait adanya pelanggaran perusahaan yang tidak bayar pajak hingga menanam di luar izin," tutur Akmal dalam keterangan tertulis kepada InfoSAWIT, Selasa (2/11/2021).

Kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, persolan perkebunan kelapa sawit ini bukan hanya di Papua, di Jambi pun kerap di temui konflik orang rimba kerap terjadi. Pemicu utama konflik dimana orang rimba terpaksa hidup menumpang di tengah perkebunan kelapa sawit jambi terus berlangsung.

Dikatakannya, contoh kasus terbaru yang sudah mulai ramai adalah konflik anggota kelompok Orang Rimba  yang berujung aksi anarkis. Konflik yang menuai kerugian dari berbagai pihak ini mesti dapat di cegah di masa yang akan datang. Untuk itu, Akmal meminta pemerintah agar setiap perusahaan yang berdiri mengeksploitasi tanah Indonesia, mesti membina orang-orang rimba yang secara turun temurun ada sejak sebelum perusahaan kelapa sawit berdiri.

Lantas, Legislator dapil Sulawesi Selatan II tersebut, keberlangsungan petani sawit saat ini terancam dengan tingginya harga pupuk. Kenaikan harga pupuk rerata 60 persen sampai 120 persen dalam 8 bulan terakhir telah melewati batas kewajaran karena lebih tinggi daripada harga TBS sawit.

“Saya khawatir,  program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dapat mengalami kendala besar karena persoalan pupuk ini. Pemerintah mesti memberi perhatian terkait persoalan pupuk untuk sawit ini, mengingat devisa dari sawit untuk negara ini per tahun mencapai ratusan triliun. Jangan sampai kondisi ini, di masa yang akan datang mempengaruhi terhadap penerimaan negara,” tandas Akmal. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit