infosawit

Mengelola Muka Air di Kebun Sawit, Hindari Penggunaan Stop Blok Non Permanen



Mengelola Muka Air di Kebun Sawit, Hindari Penggunaan Stop Blok Non Permanen

InfoSAWIT, JAKARTA – Sejatinya, tidak hanya di lahan gambut, perkebunan kelapa sawit dengan jenis tanah apapun memerlukan water management yang baik untuk bisa mencapai produksi yang maksimal. Kebutuhan air tanaman sawit yang berkisar 2000-2500 mm per tahun (jika dikonversi menjadi 440 liter/pokok/hari) menuntut ketersediaan air yang banyak, namun tidak boleh berlebih.

Pada operasional pengelolaan perkebunan kelapa sawit acap kali mendapatkan doktrin bahwa air tanah harus dijaga ketinggiannya berkisar 50 cm dari permukaan. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan menjaga air pada parit/outlet  supaya memiliki tinggi yang sama. Untuk menjaga tinggi muka air itu banyak rekayasa teknik yang bisa dibuat.

Dimana salah satu yang paling sering digunakan adalah membuat pintu air. Untuk pembuatan modifikas pintu air sederhana ini bisa dibaca pada tulisan saya sebelumnya berjudul Modifikasi Pintu Air Pasang Surut (Majalah Infosawit edisi Agustus 2016).

Namun ada cara berbeda guna melakukan pengaturan tinggi muka air tersebut pada parit/outlet, yakni dengan menggunakan bangunan pelimpah (over flow). Bahasa sederhana yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah, Stop Blok.

Stop blok bisa dibuat secara permanen maupun pun tidak. Stop blok non permanen biasanya dibuat menggunakan kayu, karung berisi tanah, timbunan tanah, seng plat, terpal ataupun gabungan diantara beberapa bahan tersebut.

Sebagian besar perkebunan kelapa sawit memilih untuk membuat yang non permanen. Tentu saja pertimbangan utamanya adalah biaya pembuatan yang terbilang cukup murah.

Selain itu, dilapangan terdapat masih banyak keraguan ketika akan membuat stop blok (biasanya mengenai bentuk dan ukurannya), maka hasilnya bangunan stop blok non permanen acap kali dibuat sebagai bahan percobaan. Sehingga andaikata gagal, biaya yang hilang tidak terlalu banyak. Namun pada dasarnya menurut saya cara demikian adalah keliru.

Dalam beberapa kesempatan saya sudah mencoba membuat stop blok non permanen. Tercatat keunggulannya hanya pada waktu proses pembuatan yang lebih cepat. Selebihnya –seperti, maksimalisasi fungsi, ketahanan dan biaya secara umum–  stop blok non permanen ternyata tidak lebih baik dari stop blok permanen.

Penggunaan bahan kayu (papan dan balok) memungkinkan air masih bisa merembes melewati badan stop blok. Akhirnya air yang kita harapkan tertahan dengan ketinggian tertentu tidak dapat terealisasi.

Bila dinding stop blok yang terbuat dari papan akan dilapisi dengan seng plat ataupun terpal, maka akan berfungsi maksimal untuk beberapa waktu tertentu saja. Ketahanan terpal dan seng plat menjadi alasannya, lantaran sangat rentan bila terkena air secara terus menerus.

Tentu saja, jenis kayu secara umum pun tidak mempunyai daya tahan baik bila terendam air. Hal ini mengakibatkan umur stop blok yang dibuat tidak bisa terprediksi dengan baik, sebab sangat tergantung kepada cuaca.

Hal yang kemudian terjadi, kerap kali secara berkesinambungan melakukan perawatan terhadap stop blok tersebut. Baik hanya menggunakan tenaga ataupun pergantian bahan. Biaya ini yang sering tidak disadari menjadikan stop blok non permanen (secara umur pakai) menjadi lebih mahal daripada stop blok permanen. (Ramadhan Pohan/Praktisis perkebunan kelapa sawit)

Sumber: Majalah InfoSAWIT edisi November 2016


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link https://t.me/info_sawit, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di link infosawit store atau berlangganan.

infosawit