infosawit

Petani Sawit Berharap Kebijakan Perdagangan Non Diskriminatif Uni Eropa



Dok. InfoSAWIT
Petani Sawit Berharap Kebijakan Perdagangan Non Diskriminatif Uni Eropa

InfoSAWIT, PEKANBARU -  Dalam lawatan Duta Besar Uni Eropa, Vincent Piket, guna melihat langsung operaisonal perkebunan kelapa sawit rakyat di Riau, menyempatkan diri untuk melakukan kunjungan ke DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) di Riau.

Dikatakan Ketua Umum Apkasindo, Gulat Manurung, dalam pertemuan tersebut banyak hal yang menjadi topik pembicaraan, terkhusus mengenai sejauh mana perkebunan kelapa sawit mampu memberikan dampak ekonomi, sosial terhadap masyarakat petani dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

“Serta bagaimana upaya petani menjaga kelestarian lingkungan, termasuk mencegah kebakaran lahan dan komitmen petani dalam meningkatkan produktivitas dengan konsep intensifikasi melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR),” kata Gulat dalam keterangan resminya kepada InfoSAWIT.

Sementara diungkapkan Ketua DPW Apkasindo Riau, K.H Suher, pertemuan tersebut berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Petani sawit Indonesia menginginkan kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Uni Eropa berlangsung adil, tidak diskriminatif, dan terbuka, terutama terkait perdagangan minyak sawit Indonesia.

Terkait permintaan tersebut Dubes Uni Eropa, Vincent Piket, menjelaskan bahwa sebelumnya dia berpikir sawit hanyalah sebuah tumbuhan, tapi ternyata itu adalah sumber penghidupan bagi masyarakat.

“Kita mengetahui sejarah deforestasi tahun 90 an di Indonesia, banyak orang yang menghubungkan ini dengan deforestasi untuk sawit dan kita harus berupaya untuk membangun kembali reputasi kelapa sawit di mata Uni Eropa dan dunia dan ini bukan pekerjaan yang mudah,” kata Vincent.

Lebih lanjut kata Vincent, Uni Eropa bukan sebuah organisasi yang terafiliasi dengan NGO, Uni Eropa adalah organisasi perwakilan pemerintah 27 negara di kawasan Benua Eropa dan Uni Eropa selalu mengedepankan fairness dan objektifitas yang berdasarkan penelitian ilmiah dan bertanggungjawab, lanjutnya.

“Statement tentang Eropa Ban (menolak) kelapa sawit, itu tidak benar karena faktanya kami menjadi pengimpor kelapa sawit Indonesia terbesar ketiga di dunia karena kami sangat mengetahui manfaat dari sawit, untuk bahan coklat, obat obatan, minyak goreng dan masih banyak lainnya,” katanya.

Rabu (17/11/2021) EU Commission bakal mengeluarkan UU terkait penyelesaian permasalahan deforestasi yang bukan berfokus pada masa lalu, tapi tutur Vincent, di dalam undang-undang ini juga akan mendorong non diskriminasi terhadap minyak nabati yang diproduksi di dalam uni eropa atau di luar Uni Eropa, apakah itu rapeseed, kedelai, kelapa sawit dan lainnya.

“Kita harus memiliki definisi yang sama tentang apa yang dinamakan deforestasi dan kami sangat memahami begitu pentingnya sawit bagi Indonesia,” tandas Vincent. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit