infosawit

Penelitian Asam Palmitat di Sawit Tendensius, Lantaran Dominan Diberbagai Sumber Makanan



Dok. InfoSAWIT
Penelitian Asam Palmitat di Sawit Tendensius, Lantaran Dominan Diberbagai Sumber Makanan

InfoSAWIT, JAKARTA - Belum lama ini, terdapat informasi yang mengangkat hasil penelitian yang dilakukan para peneliti asal Spanyol. Dikutip dari Deutsche Welle (DW) media asal Jerman, mencatat para peneliti dari Institute for Research in Biomedizine (IRB) di Barcelona, Spanyol, menemukan bahwa molekul lemak yang terkandung dalam minyak sawit, yakni asam palmitat, dapat mengubah genom sel kanker dan meningkatkan kemungkinan penyebarannya.

Metastasis kanker hingga saat ini masih menjadi penyebab utama kematian pada pasien kanker. Sebagian besar pasien kanker metastasis memang dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan. Diperkirakan bahwa metastasis bertanggung jawab atas 90% dari semua kematian akibat kanker, atau sekitar 9 juta kematian per tahun di seluruh dunia.

Menurut hasil penelitian yang baru diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature tersebut, uji asam palmitat minyak sawit pada tikus meningkatkan metastasis pada kanker mulut dan kanker kulit melanoma. Asam lemak lain seperti asam oleat (yang berlimpah dalam minyak zaitun) dan asam linoleat (dalam biji rami) tidak memiliki efek yang sama.

Organisasi yang menaungi berbagai peneliti dan doktor dari berbagai Universitas ternama di Indonesia, Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), mengkritisi penelitian tersebut. Lantaran penelitian hanya berfokus pada asam palmitat, yang merupakan satu jenis sumber bahan pangan yang ada dan tak hanya dari sawit.

Dikatakan Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Dr Darmono Taniwiryono, asam palmitat itu cukup dominan di berbagai sumber makanan, dan yang namanya asam palmitat itu sama saja dari manapun sumbernya. Bisa berasal dari Air susu Ibu dan berbagai jenis daging, kandungan asam palimtatnya sekitar 25%.

Lemak kakao atau coklat yang digandrungi banyak orang di negara-negara Uni Eropa, kandungan asam palmitat-nya bisa mencapai 30%. “Pertanyaannya adalah mengapa mereka hanya meneliti asam palmitat yang berasal dari sawit saja,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Lebih lanjut kata Darmono, penelitian tersebut kurang bermanfaat dan bersifat tendensius. Darmono mempertanyakan mengapa para peneliti tersebut tidak melakukan penelitian asam palmitat dari air susu ibu yang dikonsumsi oleh bayi dari sejak lahir sampai umur 2 tahun?

“Jadi faktanya kita sudah diajarkan untuk mengonsumsi asam palmitat dari sejak kita lahir,” kata Darmono mempertanyakan penelitian tersebut.

Selanjutnya kata dia, yang perlu dikritisi adalah bahwa yang bersangkutan meneliti dengan menggunakan asam palmitat murni. Padahal di semua bahan makanan, asam palmitat itu tidak pernah berdiri sendiri dan selalu berinteraksi dengan asam-asam lemak yang lain serta nutrisi yang lainnya. “Yang bersangkutan mengabaikan adanya interaksi berbagai jenis nutrisi di dalam matriks bahan makanan,” katanya menjelaskan.

Lantas, penelitiannya baru terbatas pada tikus atau mencit yang jenis dan pola makannya jauh berbeda dengan manusia. Jadi masih jauh sekali kalau itu diambil kesimpulan berlaku untuk manusia.

Padahal kata Darmono, minyak sawit telah dikonsumsi oleh bangsa-bangsa di Afrika Barat sejak 5000 tahun yang lalu. Faktanya selama ini mereka sehat-sehat saja dan bahkan memiliki daya tahan fisik yang kuat  dan sedikit yang berkacamata.

“Di sana minyak sawit merah alami disarankan untuk dikonsumsi bagi ibu-ibu yang sedang hamil dan menyusui anaknya serta bagi mereka yang bekerja dengan penuh tekanan dan tantangan. Jadi pada intinya masyarakat tidak perlu resah dengan hasil penelitian yang kurang bermutu tersebut,” tandas dia. (T1)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit