infosawit

Penelitian LPPM UNRI: Butuh Re-Intervensi Media Guna Memberikan Gambaran Kebijakan Sawit



Dok. InfoSAWIT
Penelitian LPPM UNRI: Butuh Re-Intervensi Media Guna Memberikan Gambaran Kebijakan Sawit

InfoSAWIT, PEKANBARU – Belum lama ini Universitas Riau bersama BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) melakukan kerjasama penelitian tentang sawit dan industrinya. Dalam penelitian berjudul “Pengaruh kebijakan Pungutan Eksport CPO terhadap kesejahteraan Petani" mencatat, bahwa media online telah berhasil membentuk opini 4 tipologi cluster, yaitu cluster harga, kebijakan Pungutan Eksport (PE), Petani, Industri (korporasi). Cluster tipologi ini didapat dengan menggunakan metode Textual Network Analyisis (TNA).

Diungkapkan Anggota Tim Peneliti dari LPPM-Universitas Riau, Meyzi Heriyanto menjelaskan, adanya tarik menarik kebijakan yang cukup kentara antara pemerintah dengan korporasi, dan harus diakui, pada tarik menarik kebijakan tersebut pemerintah berada pada framing yang sama dengan sektor industri/perusahaan, dan petani berada di framing lainnya.

Lebih lanjut tutur Meyzi Heriyanto, dibutuhkan re-intervensi media menjadi satu poin krusial guna membentuk narasi baru dan atau mendekonstruksi narasi yang telah terlanjur terbentuk terkait kebijakan pungutan ekspor kelapa sawit.

Catat Meyzi Heriyanto, media online ternyata lebih mempengaruhi kebijakan pemerintah dibandingkan dengan cluster lainnya. Namun pengaruh tersebut tidak dapat menghantarkan penyelesaian permasalahan yang terjadi.

Oleh karena itu Peran media online perlu diperhatikan untuk mengabarkan implementasi kebijakan dan dampaknya. “Terkhusus media Tv, sama sekali belum menunjukkan pengaruh, hal ini karena hampir tidak pernah media Tv menginformasikan sisi kebijakan dan dampaknya terhadap sawit dan industrinya.

“Ini menjadi catatan serius dengan minim nya liputan media Tv terkait sawit, baik dari aspek ekonomi, sosial maupun lingkungan, ujar Meyzi saat presentase hasil riset Pungutan Ekspor,” kata Meyzi, saat memaparkan hasil penelitiannya Rabu (17/11/2021) lalu, dihadapan BPDPKS dan asosiasi Petani Aspekpir Riau, Samade Riau dan 6 Provinsi DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), di Pekanbaru.

Sementara dikatakan Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Manurung, hasil penelitian ini menggambarkan masih diperlukannya optimalisasi 6 tujuan berdirinya BPDPKS, terkhusus disisi Promosi dan Kemitraan, dimana bidang ini salah satunya mencakup kemitraan dengan media massa.

Diakui Gulat, BPDPKS sejak 2020 lalu teah menggunakan komunikasi di media massa, namun masih mencapai titik minimum, apalagi dengan komunikasi media tv. “Padahal banyak sekali kisah tentang sawit yang harus diliput dengan media tv dan masyarakat umum berhak mengetahui nya, ini sangat penting dan perlu kreasi visualnya di media Tv,” katanya dalam keterangan tertulis kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Media Tv dan Iklan tentang sawit sangat urgen dilakukan untuk meluruskan yang sengaja di "bengkokkan" selama ini oleh pesaing sawit dan sasaran mereka adalah generasi muda. Dibengkokkannya tujuan manfaat dana PE ini sangat merugikan persepsi petani sawit. “Kekwatiran salah persepsi masyarakat terkhusus generasi Z tentang sawit dapat dilihat di medsos-medsos, bahkan untuk hal yang sangat sederhana sekali, generasi muda sudah salah memahami tentang sawit dan industrinya, ya karena minimnya iklan eksisting sawit,” tandas dia. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit