infosawit

3 Alasan Penelitian Asam Palmitat di Minyak Sawit Tendensius



3 Alasan Penelitian Asam Palmitat di Minyak Sawit Tendensius

InfoSAWIT, JAKARTA – Organisasi yang menaungi berbagai peneliti dan doktor dari berbagai Universitas ternama di Indonesia, Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), mengkritisi penelitian tersebut. Lantaran penelitian hanya berfokus pada asam palmitat, yang merupakan satu jenis sumber bahan pangan yang ada dan tak hanya dari sawit.

Diungkapkan Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Dr Darmono Taniwiryono, asam palmitat itu cukup dominan di berbagai sumber makanan, dan yang namanya asam palmitat itu sama saja dari manapun sumbernya. Bisa berasal dari Air susu Ibu dan berbagai jenis daging, kandungan asam palimtatnya sekitar 25%.

Lemak kakao atau coklat yang digandrungi banyak orang di negara-negara Uni Eropa, kandungan asam palmitat-nya bisa mencapai 30%. “Pertanyaannya adalah mengapa mereka hanya meneliti asam palmitat yang berasal dari sawit saja,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Lebih lanjut kata Darmono, penelitian tersebut kurang bermanfaat dan bersifat tendensius. Darmono mempertanyakan mengapa para peneliti tersebut tidak melakukan penelitian asam palmitat dari air susu ibu yang  dikonsumsi oleh bayi dari sejak lahir sampai umur 2 tahun?

“Jadi faktanya kita sudah diajarkan untuk mengkonsumsi asam palmitat dari sejak kita lahir,” kata Darmono mempertanyakan penelitian tersebut.

Paling tidak ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian dalam menanggapi penelitian asam palmitat dapat mengubah genom sel kanker dan meningkatkan kemungkinan penyebarannya, yang dilakukan Institute for Research in Biomedizine (IRB) di Barcelona, Spanyol.

Kata Darmono, yang pertama penelitian tersebut hanya menggunakan asam palmitat murni. Padahal di semua bahan makanan, asam palmitat itu tidak pernah berdiri sendiri dan selalu berinteraksi dengan asam-asam lemak yang lain serta nutrisi yang lainnya. “Yang bersangkutan mengabaikan adanya interaksi berbagai jenis nutrisi di dalam matriks bahan makanan,” katanya menjelaskan.

Lantas, kedua, penelitiannya baru terbatas pada tikus atau mencit yang jenis dan pola makannya jauh berbeda dengan manusia. Jadi masih jauh sekali kalau itu diambil kesimpulan berlaku untuk manusia.

Kemudian yang ketiga, kata Darmono, minyak sawit telah dikonsumsi oleh bangsa-bangsa di Afrika Barat sejak 5000 tahun yang lalu. Faktanya selama ini mereka sehat-sehat saja dan bahkan memiliki daya tahan fisik yang kuat  dan sedikit yang berkacamata.

“Di sana minyak sawit merah alami disarankan untuk dikonsumsi bagi ibu-ibu yang sedang hamil dan menyusui anaknya serta bagi mereka yang bekerja dengan penuh tekanan dan tantangan. Jadi pada intinya masyarakat tidak perlu resah dengan hasil penelitian yang kurang bermutu tersebut,” tandas dia. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit