infosawit

Menakar Pasar Minyak Sawit Berkelanjutan di India



Menakar Pasar Minyak Sawit Berkelanjutan di India

InfoSAWIT, JAKARTA - Skim minyak sawit berkelanjutan untuk dibeberapa negara di dunia telah menjadi salah satu prasyarat dalam perdagangan minyak sawit, demikian pula di negara konsumen seperti India. Skim berkelanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), berpotensi mengisi pasar minyak sawit berkelanjutan di India.

Dalam sebuah webinar yang diadakan Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) bertema, “Meningkatkan pangsa pasar minyak sawit berkelanjutan di India” mencatat pangsa pasar minyak sawit berkelanjutan di India memiliki potensi cukup besar.

Apalagi konsumsi minyak sawit di India pada periode 2018/2019 telah mencapai sekitar 9,5 juta atau sekitar 42% dari total minyak nabati yang dikonsumsi. Angka konsumsi minyak sawit ini melampaui konsumsi minyak kedelai India yang hanya mencapai 4,6 juta ton pada periode yang sama, atau hanya sekitar 20,6% dari total konsumsi minyak nabati.

Kendati, merujuk catatan The Solvent Extractors Association of India, selama periode November 2019 sampai Oktober 2020, impor minyak sawit India menurun tajam hanya mencapai 7,2 juta ton, padahal sebelumnya mampu mencapai 9,4 juta ton pada periode yang sama. Ini terjadi akibat adanya peningkaatan kebijakan bea impor dan menempatkan RBD Palmolein dalam daftar produk impor terbatas.

Diungkapkan General Manager Edible Oil Solidoridad, Suresh Motwani, India memegang peranan penting dalam perdagangan minyak sawit di dunia lantaran pertama, India pengimpor minyak sawit terbesar dan konsumen minyak sawit terbesar ke-2 di Dunia. “Sebab mengkonsumsi sekitar 13% dari total produksi minyak sawit global,” kata Suresh Motwani.

India juga tercatat sebagai konsumen minyak nabati terbesar ke-3 di dunia, tercatat hampir 68% konsumsi minyak nabati domestik dipenuhi melalui impor. Serta, sekitar 40% minyak sawit digunakan untuk keperluan Rumah Tangga, dimana sebanyak 31% minyak sawit digunakan untuk kebutuhan bahan baku makanan, makanan ringan dan namkeens, lantas sekitar 13% digunalan untuk industri kosmetik dan perawatan pribadi dan sisanya untuk produk pemanis.

Kata Suresh, secara global penggunaan lahan perkebunan kelapa sawit lebih kecil dibanding tanaman minyak nabati lain, namun isu negative kerap muncul dan memojokan komoditas kelapa sawit, semisal isu biang terjadinya deforestasi, minyak sawit buruk bagi kesehatan dan mendorong penggunaan produk bebas minyak sawit (palm oil free).

Lantas bagaimana dengan persepsi India terhadap produksi minyak sawit? Kata Suresh, kendati minyak sawit telah digunakan di hampir digunakan disemua barang kemasan seperti minyak goreng, bahan baku sabun, masih dianggap sebagai “Minyak yang Lebih Murah”.

Untuk beberapa pengecer besar di India tidak menjual produk minyak sawit, sementara secara tampilan minyak nabati lainnya dianggap lebih baik ketimbang minyak sawit. Kurangnya kesadaran terkait manfaat kesehatan dan gizi serta ada anggapan minyak sawit yang lebih murah, telah menyebabkan persepsi ini terus bertahan.

Lebih lanjut tutur Suresh, tingkat kesadaran yang rendah tentang keberlanjutan baik di pelaku bisnis maupun konsumen di India masih terjadi. Lantaran yang terjadi hanya hubungan perdagangan murni antara pembeli dan penjual...

Lebih lengkap baca Majalah InfoSAWIT Edisi September 2021


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit